Wednesday, September 22, 2010

Thank you Pastor Terry Jones!


Kalau kita lihat, dibakarnya Al Qur'an (apakah itu English translation atau the Arabic text) oleh pastor tersebut, menunjukkan point sikap kebencian terhadap Al Qur'an yang dianggap sebagai "Book of Hate". Mengapa mereka sampai beranggapan sampai seperti itu?

Saya masih ingat pastor Terry Jones yg diinterview di TV ditanya apakah dia sudah membaca Al Qur'an keseluruhannya? Dia bilang belum, yg dia baca hanya ayat2 "kebencian" (yang bisa disebarkan oleh Islamophobes) dan ayat2 yang berbeda dengan keyakinannya tentang Yesus. Ini menunjukkan masih banyak yang perlu dilakukan dalam usaha dakwah kepada orang2 tersebut, juga orang2 non-Muslim di Amerika in general.

Mungkin setiap dari kita bisa merenungkan kembali apa saja yang bisa kita kontribusikan dalam usaha dakwah ini dalam lokaliti tempat kita tinggal, sehingga event2 kebencian seperti itu bisa dihindarkan in the future...


Thank you Pastor Terry Jones
For your service to Islam!
1.       Thanks for making Quran a bestsellerMore copies of Qurans and  were sold on Amazon, local and online Islamic stores, thus providing humanity an opportunity to read and ponder over God's guidance for  humanity.


2.       Thanks for the business.  More people bought Islamic literature, along with the Quran, generating extra revenue for the Islamic stores. 

3.       More individuals visited the mosques to attend Muslim open houses and Islam presentations, thus receiving the  wonderful message of Islam.

4.       More individuals called on the GainPeace's outreach hotline 800-662-ISLAM and inquired about the faith of Islam, giving Muslims an opportunity to explain Islam to our fellow citizens.  You generated more publicity for Islam, then all our past outreach campaigns combined. 

5.       More people Googled the words 'Islam' and 'Quran'.The more that you spoke about Islam and the Quran, more people came to Muslim websites to learn about the truth of Islam.

6.       Libraries were busy loaning out copies of the Quran. Yes, libraries across the USA, Canada and Europe were busy lend out copies of the Quran to its patrons.   

7.       Thanks for saving the Muslims advertisement dollars.  The free publicity to the words 'Quran' and 'Islam', that you gave, Muslims could have spent millions of dollars but couldn't have generated the same publicity and attention of the media, and thanks to you, the word of God (the Quran) became a household word.

8.       Thanks for waking up the Muslims.  Muslim all across the world are now more passionate about the wonderful and peaceful faith of Islam and are eager to share it with their neighbors, colleagues, friends and humanity.

9.       Thanks for encouraging more people to embrace Islam.  We had more people calling, learning and embracing Islam in the past few weeks, then we ever had since the last 40 years.   

10.   Thanks for uniting the people of consciencethe Muslim, the Jews, the Christians, the Hindus, and the atheist, on the common platform of goodness, love and tolerance and against hatred, bias and bigotry.

Pastor Terry Jones, we pray that you actually read the Quran with an open mind and heart and ponder over its message of the oneness of God. If you love Jesus, follow the religion of Jesus, the religion of Jesus was Islam, submission to the The Creator. May God, enlighten you to the truth of Islam and that you start worshiping the One Creator as was preached and practiced by Prophets Noah, Abraham, Moses, Jesus and Muhammad, peace be upon them.  Welcome to Islam.
Dr. Sabeel Ahmed
Director

The GainPeace Project, USA

Gereja di Indonesia dan Masjid di Amerika

Membaca berita-berita di tanah air mengenai permasalahan pembangunan gereja di tengah-tengah masyarakat Muslim membuat kita perlu introspeksi. Tidak sedikit media massa dan sekelompok orang Islam di Indonesia yang menutup mata, tidak check recheck dan peduli pada fakta permasalahan yang ada, tanpa reserve membela mereka yang ingin memaksa membangun gereja walaupun tanpa mempedulikan peraturan dan keberatan penduduk sekitar, serta tidak segan2 memblame penduduk yg keberatan tsb dengan label tidak toleran menghalangi kebebasan beragama.

Mereka juga menyamakan ketidaksetujuan orang2 Islam atas pembangunan gereja ini dengan ketidaksetujuan kelompok non-Muslims atas pembangunan masjid di New York dan kota2 lain di Amerika. Padahal kedua kasus tsb jelas tidak sama. Orang2 Islam di Amerika yang ingin membangun masjid berusaha untuk memenuhi peraturan yang berlaku serta meminta persetujuan terlebih dahulu melalui city council, town hall meetings, etc.

Protes2 keberatan atas pembangunan masjid di Amerika diorganisir oleh kelompok2 Islamophobes yg bukan penduduk lokal di mana masjid akan dibangun. Beda dengan fakta tidak sedikitnya kasus pembangunan gereja di Indonesia yg tampak dipaksakan walaupun tidak ada jama'ah di tengah2 masyarakat yg keberatan terhadapnya.

Mudah2an kita tidak menempatkan kekesalan kita terhadap suatu kelompok (Muslim atau non-Muslim) tidak membuat kita menutup mata terhadap fakta dan berlaku adil.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (5:8)

Tuesday, September 21, 2010

Studi Qur'an di Jerman

Semoga bermanfaat...


Studi Alquran di Jerman


Oleh Dr Sahiron Syamsuddin
(Dosen di UIN Sunan Kalijaga)



Kajian kritis historis terhadap Alquran adalah kajian yang berupaya menunjukkan bagaimana teks Alquran dan sejarahnya dapat diketahui dengan bantuan pengetahuan rasional. Tujuan utama dari kajian ini adalah untuk menjelaskan asal-usul teks dan menggambarkan bentuk dan fungsinya yang paling awal (Kroop 2007:1). Model penelitian semacam ini telah dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat sejak abad ke-19. Abraham Geiger (1810-1874) dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis ini terhadap Alquran. Pada tahun 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul Was hat  Mohammed aus dem Judentum aufgenommen? (Dirk Hatwig 2009:241).

Dalam karya ini, ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengambil banyak bagian dari tradisi Yahudi dalam memproduksi Alquran. Pandangan semacam ini kemudian diikuti oleh banyak sarjana lainnya, seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historis-kritis ala Geiger ini adalah buku yang diedit oleh Tilman Nagel, yaitu Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld (2010). Para sarjana ini menganggap Alquran sebagai teks ‘epigonik’ dalam arti bahwa Alquran merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan ini tentu saja menjadi sangat kontroversial di kalangan sarjana Muslim.

Meskipun demikian, tidak semua sarjana Barat sepakat dengan pandangan tersebut di atas. Banyak sarjana Barat lainnya, seperti Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig mengkritik pandangan dan temuan di atas. Berdasarkan wawancara dengan mereka pada tanggal 2 Juli 2010 dan beberapa artikel, diketahui bahwa mereka tidak setuju dengan kesimpulan bahwa Alquran hanyalah salinan ‘teks-teks pra-Islam’. Untuk mendukung posisi ini, mereka telah melakukan beberapa penelitian. Salah satunya adalah proyek yang mereka sebut dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman.

Dalam proyek ini, mereka menggunakan pendekatan yang sama seperti yang dilakukan oleh Abraham Geiger, tetapi dengan paradigma yang berbeda. Tidak seperti Geiger, mereka memandang Alquran sebagai ‘teks polifonik’ dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya. Tren penelitian semacam ini bisa disebut dengan ‘tren baru studi historis-kritis terhadap Alquran’. Proyek ini terdiri atas tiga kerja utama, sebagai berikut.

Pertama, para sarjana tersebut membuat dokumentasi tentang manuskrip-manuskrip Quran awal berikut variasi qira’at. Namun, pendokumentasian ini tidak bertujuan untuk membuat teks edisi kritis Alquran. Dalam hal manuskrip Alquran, mereka membuat data bank tentang lokasi, penanggalan, dan aspek-aspek paleografis dari setiap manuskrip. Saat ini, bank data terdiri atas 250 entri dan setiap entri memiliki sejumlah foto manuskrip. Jumlah foto yang telah digitalisasi dalam beberapa komputer saat ini 3.500. Adapun dalam bank data tentang variasi bacaan Alquran, seseorang dapat menemukan semua cara baca (qira’at) Alquran, baik qira’at yang dianggap sebagai qira’at mutawatirah (diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi), qira’at masyhurah (diriwayatkan oleh relatif banyak perawi), maupun qira’at syadzdzah (yang tidak termasuk kedua macam qira’at tersebut).

Kedua, para sarjana yang terlibat dalam proyek tersebut juga melakukan penelitian dan kajian serta membuat bank data terkait dengan apa yang mereka sebut dengan Texte aus der Welt des Quran (teks-teks di sekitar Alquran). Dalam hal ini, mereka berupaya mencari kemiripan teks Alquran dengan teks-teks lain pada masa turunnya wahyu Quran. Kajian semacam ini dikenal dengan istilah ‘intertekstualitas’ antara ayat-ayat Aquran dan teks-teks dari tradisi pra-Islam, seperti Alkitab, teks Yahudi pasca-biblikal, dan puisi Arab klasik. Intertekstualitas ini, menurut mereka, merupakan fondasi yang sangat berarti bagi upaya rekonstruksi teks-teks yang ada di sekitar Alquran (Marx 2008:51; Wawancara 2 Juli 2010).
 
Namun, berbeda dari orientalis-orientalis lain pada abad ke-19 yang berpandangan bahwa Alquran adalah imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, para sarjana ini telah melakukan riset seobjektif mungkin dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa Alquran bukanlah ‘teks epigonik’ yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi pra-Islam. (Neuwirth 2008:16; Wawancara 1 Juli 2010). Mereka menegaskan, bahwa Alquran meskipun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lain, tetapi ia merupakan teks ‘independen’ yang memiliki karakteristik sendiri dan dinamikanya sendiri, baik dari segi bahasa maupun isi.

Sebagai contoh, Neuwirth membandingkan antara surat al-Rahman dan Zabur dan membuktikan bahwa meskipun kedua teks ini memiliki paralelitas/interseksi, tetapi Alquran memiliki gaya sendiri dalam hal struktur sastra dan spirit yang spesifik dalam hal isi dan pesan (Neuwirth 2008:157-189). Kesimpulan yang sama juga dibuktikan oleh Nicolai Sinai ketika meneliti QS. An-Najm. Seiring dengan temuan ini, Dirk Hartwig,ketika diwawancarai tanggal 2 Juli, mengkritik Christoph Luxemberg yang mengatakan bahwa Alquran adalah salinan teks dari tradisi Kristen yang berbahasa Syro-Aramaik.

Ketiga, mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut der historisch-kritische literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran (interpretasi historis-kritis dan sastrawi terhadap Alquran). Struktur interpretasi ini terdiri atas empat elemen. Unsur pertama adalah teks Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Jerman. Teks Arab didasarkan pada qiara’at Hafsh dari 'Asim. Terjemahan Alquran sebagian besar berasal dari terjemahan Rudi Paret dengan beberapa penyesuaian tertentu. Studi tentang urutan kronologis wahyu merupakan elemen kedua interpretasi mereka. 

Mereka ingin merekonstruksi dinamika teks Alquran ber kaitan dengan aspek linguistik/sastranya. Juga, apa yang mereka sebut “kritik sastra” dalam arti mereka mem berikan penjelasan struktur sastra Alquran dalam menyampaikan pesan tertentu. 

Monday, September 20, 2010

Berbuat adil dan Ukhuwah Islamiyah

Membaca artikel di bawah, saya jadi teringat ayat Qur'an ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاء لِلّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقَيرًا فَاللّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُواْ الْهَوَى أَن تَعْدِلُواْ وَإِن تَلْوُواْ أَوْ تُعْرِضُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. (4:135)

Juga hadits ini:
Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

((انصر أخاك ظالماً أو مظلوماً))

“Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zhalim atau ketika dia dizhalimi.”

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia terzhalimi, namun apabila dia berbuat zhalim, bagaimana aku menolongnya?”

Beliau menjawab,

((تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره))

“Cegahlah dia atau tahanlah dia dari berbuat zhalim, maka ini adalah pertolongan baginya.” (HR. Al Bukhari)

----


"Ukhuwwah Islamiyyah"

Kompas, Rabu, 15 September 2010 | 04:43 WIB**

*Oleh: Moh Mahfud MD*

Beberapa waktu yang lalu seorang kawan lama yang saat mahasiswa aktif bersama saya di Himpunan Mahasiswa Islam datang kepada saya untuk meminta tolong agar, atas nama ukhuwwah islamiyyah, saya membantu memenangkan seorang calon kepala daerah yang sedang beperkara di Mahkamah Konstitusi.

Itu menjengkelkan saya karena dia datang bukan dengan alasan obyektif agar MK memenangkan orang yang beperkara sesuai dengan hukum dan keadilan, melainkan datang dengan argumen yang menurut saya mengada-ada dan destruktif. Bayangkan, dia meminta saya memenangkan seorang calon kepala daerah dengan alasan calon yang diperjuangkannya adalah orang Islam, sedangkan lawannya bukan Islam. Katanya, demi ukhuwwah islamiyyah saya harus membantu agar yang Islam itu dimenangkan perkaranya oleh MK.

Kepada teman itu saya katakan bahwa dia salah dalam tiga hal. Yakni, salah memahami arti ukhuwwah islamiyyah, salah memahami arti penegakan keadilan dalam Islam, dan salah menilai MK sebagai lembaga yudikatif.

*”Ukhuwwah islamiyyah”*

Kepadanya saya katakan bahwa dirinya salah memahami istilah ukhuwwah islamiyyah karena dia mengartikannya sebagai persaudaraan antar sesama orang-orang Islam. Padahal, dari sudut bahasa, istilah ukhuwwah islamiyyah itu adalah persaudaraan yang Islami atau persaudaraan yang bersifat Islam.

Kalau persaudaraan antar sesama orang Islam, istilahnya tentu ukhuwwah bayn al-muslimien.

Ukuwwah islamiyyah adalah persaudaraan yang islami dalam arti sifat persaudaraan yang bernapas Islam. Dalam pemahaman yang demikian, orang Islam wajib bersikap benar dan baik kepada siapa pun sesuai dengan sifat ”rahmah” Islam; bukan hanya terhadap sesama orang Islam. Dengan ukhuwwah islamiyyah, umat Islam harus tampil dengan inklusif dan kosmopolit. Inklusivisme dalam pluralitas kebangsaan inilah yang dapat menjadi fiqh bagi umat Islam Indonesia.

Dalam persaudaraan antar sesama manusia sifat islami (islamiyyah) itu berarti harus bersikap baik, bersahabat, jujur, menolong, dan menghargai hak orang lain, baik yang Islam maupun bukan Islam. Jadi, ukhuwwah islamiyyah itu adalah persaudaraan yang beradab antar sesama manusia tanpa mengenal eksklusivitas yang terbatas antar sesama orang Islam saja.

*Adil antar manusia *

Saya katakan juga bahwa teman saya itu salah dalam memahami perintah Isla mengenai ”pengadilan yang adil” ketika dia meminta agar, demi ukhuwwah islamiyyah, yang beragama Islam harus dibantu untuk dimenangkan dalam beperkara. Itu salah karena Al Quran dan sunah Rasul memerintahkan agar keadilan itu ditegakkan di antara manusia dan bukan di antara orang-orang Islam saja.

Di dalam Al Quran surat An Nisa’ ayat (58), misalnya, ditegaskan bahwa ”apabila kamu melakukan tahkim (mengadili) di antara manusia (bayn al-naas) maka hakimilah dengan adil”. Sangat eksplisit ayat tersebut memerintahkan, keadilan harus ditegakkan di antara manusia dan bukan hanya di antara dan untuk orang-orang Islam (bayn al muslimien). Jika tahkim hanya menguntungkan dan memihak kelompok tertentu, misalnya karena alasan kesamaan memeluk agama, sejatinya hal tersebut bukanlah keadilan, melainkan kezaliman.

Membedakan secara tegas antara keadilan dan kezaliman berdasar inklusivisme ini penting agar kelangsungan negara terjaga. Ahli filsafat politik Islam ibn Taymiyah mengatakan, ”Akan abadilah eksistensi suatu negara kalau diselenggarakan dengan adil meskipun bukan negara Islam dan akan hancurlah suatu eksistensi negara jika diperintah dengan zalim meskipun bernama negara Islam.”

*Salah menilai MK *

Kepada kawan itu saya nyatakan juga penyesalan karena dia salah menilai MK.

Dengan meminta tolong untuk memenangkan perkara di MK, berarti dia menilai bahwa vonis di MK bisa diatur melalui pendekatan atau kolusi dengan hakim.

Dia ikut terjebak dalam public mindset bahwa di Indonesia semua pengadilan bisa dia beli. Saya katakan bahwa kami di MK berjuang dan menjamin bahwa hal itu tak pernah dan tak boleh terjadi.

Memang kadang kala ada saja orang yang mencoba menitip perkara ke MK, tetapi kepada mereka saya katakan, ”MK akan memberi keadilan, bukan memenuhi pesanan.”

Proses persidangan, pertimbangan, dan penilaian atas fakta hukum dalam setiap perkara juga digelar secara sangat terbuka sehingga tak bisa dibelok-belokkan tanpa diketahui publik dan pihak-pihak yang beperkara. Dari sanalah MK membuat mekanisme yang bertumpu pada prinsip dan adagium internal, ”MK tak bisa mengalahkan pihak yang seharusnya menang dan tak bisa memenangkan pihak yang seharusnya kalah.”

Melalui pemahaman seperti itulah seharusnya ukhuwwah islamiyyah dipergunakan dalam berhukum. Yakni memahami ukhuwwah islamiyyah sebagai persaudaraan yang bersifat islami yang berintikan kejujuran dan keadilan terhadap siapa pun, tidak eksklusif hanya untuk orang-orang Islam. Eksklusivisme itu sendiri sebenarnya paham yang berpijak pada ketidakadilan dan bertentangan dengan fitrah manusia.

*MOH MAHFUD MD*
*Ketua Mahkamah Konstitusi*

Tuesday, September 07, 2010

Doa di penghujung Ramadhan

"Tidak ada yang dapat menolak qadha' (ketentuan Allah) kecuali doa." (HR. Tirmidzi).

“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi).

"Mintalah selalu kepada Allah, meskipun yang kamu minta itu hanya tali sepatu. Sesungguhnya kalau Allah tidak memberikan kemudahan, tidak akan ada kemudahan." (HR.Tirmidzi)

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin Allah akan mengabulkannya, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari (seorang yang ketika berdoa) hatinya lalai dan lupa (tidak berkonsentrasi)” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

"Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang". (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim)

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak seorang Muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan sebuah doa yang di dalamnya tidak ada dosa atau memutuskan tali silaturahmi, kecuali Allah akan membalasnya dengan tiga hal:  doanya akan segera dikabulkan, doanya ditangguhkan untuk di akherat nanti, atau ia akan dihindarkan dari keburukan yang semisal dengannya." Para sahabat bertanya "Kalau begitu kita akan memperbanyak doa". Rasulullah SAW menjawab: "Allah akan menjawab lebih banyak lagi." (HR.Bukhari, Ahmad, Al-Hakim).


Di penghujung bulan suci Ramadhan ini, kita semua berusaha memohon semua kebutuhan kita kepada Allah SWT apalagi di malam-malam terakhir Ramadhan ini. Saking banyaknya doa yang kita mau minta, kadang kita sampai lupa mau minta apa lagi, atau kita bolak-balik melafazhkan doa yang sama.

Setiap dari kita pasti memiliki kebutuhan yang specific dan berbeda dengan yang lain, tapi kita semua butuh ampunan dan rahmat Allah SWT dan kita semua ingin dilindungi dari segala keburukan dan diberikan segala kebaikan di dunia dan akherat. Mungkin ada baiknya juga kalau kita buat list doa permohonan, panjang pun tak apa, yang akan kita minta kepada Allah SWT supaya kita tidak lupa dan insya Allah semua doa yang kita munajatkan tidak sia2 di hadapan-Nya. Contoh list di bawah ini mungkin bisa bermanfaat untuk membangun list permohonan kita sendiri:

1. Kita memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan, memohon rahmat dan kasih sayang-Nya, memohon husnul khatimah, dan berlindung dari su'ul khatimah serta keburukan di kubur, dan diselamatkan dari adzab neraka.

2. Kita memohon perlindungan dari yang membahayakan iman, dari kekafiran, kemusyirikan, kemunafikan, kezhaliman, kefasikan

3. Kita memohon perlindungan dari keburukan dunia, penyakit yang berbahaya, kecelakaan, bencana alam, kejahatan, kemiskinan, kehinaan, kemalasan, kelemahan, kebakhilan, jeratan hutang, dan kepengecutan.

4. Kita memohon untuk mendapatkan kesehatan jasad, akal, dan ruh, memohon umur panjang yang penuh dengan amal shaleh, keluarga yang sakinah, keturunan yang shaleh, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang banyak dan berkah, kemudahan dalam berkeluarga, beribadah, bekerja, dan berdakwah, serta keteguhan dalam iman dan islam.

5. Kita memohon ampunan, perlindungan, dan kebaikan untuk diri kita, untuk istri dan anak-anak kita, untuk orang tua kita, untuk saudara-saudara dan karib kerabat kita, untuk kaum Muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

6. Terakhir kita memohon untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akherat.

Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar...
Wa shalatu wa salamu 'ala Rasulillah wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in...
wal hamdulillahi rabbil'alamin...
Amin ya rabbal 'alamin... al fatihah.

Monday, September 06, 2010

Langit dan bumi dapat berbicara dalam Quran?


Beberapa ulama tafsir menafsirkan bahwa ayat2 yang membicarakan langit dan bumi seperti layaknya manusia yang diberikan kemampuan berkomunikasi (seperti dalam 41:11, 33:72, 99:4) bersifat allegorical atau mengandung gaya bahasa/majas personifikasi, yang pesan komunikasi dalam ayat-ayat tersebut mengandung isyarat bahwa langit dan bumi ini tidak diberikan "free will" seperti halnya manusia. Mereka terikat dengan hukum2 yang didesign oleh Allah SWT, sedang manusia diberikan "free will" kebebasan untuk berbuat, dengan konsekwensinya masing2...

Wallahu'alam.

Ketidakjelasan argumentasi para atheist


Dalam perdebatan hal ketuhanan saya lihat memang banyak ketidakkonsistenan argumentasi dari pihak atheist.

Dalam perdebatan mengenai ketuhanan ini, akal / reason manusia memang dibatasi oleh data yang masuk dari hasil observasi yang tergantung oleh terbatasnya indera manusia dan teknologi observasi yang manusia buat untuk bisa membantunya. Akal manusia menurut saya sebenarnya sudah memiliki built-in logical processor dengan segala macam predefined rules of logic di dalamnya. Tidak adanya data dari observasi mengenai sesuatu tidak langsung berarti sesuatu tersebut tidak ada. Di mana direct data tidak ada (contohnya eksistensi Tuhan, malaikat, alam setelah kematian, dll), akal manusia bisa menggunakan rules of deduction, induction, dst. untuk mencapai kesimpulan yang reasonable.

Selain itu manusia juga telah diberikan wahyu oleh Tuhan sejak adanya ia pertama kali di muka bumi. Wahyu inilah yang memberikan cahaya di dalam kegelapan keterbatasan indera dan akal kita dalam meraba2 segala hal yang tidak dalam jangkauan kita. Tanpa wahyu, manusia hanya bisa menerka, meraba2, tanpa adanya keyakinan yang pasti mengenai hidup dan kehidupan di dunia ini.

Di antara manusia ada orang2 yang memperdebatkan Allah tanpa ilmu (reason), tanpa petunjuk (observation), dan tanpa kitab yang memberikan cahaya (wahyu).
(Al Qur'an 22:8)

Wednesday, September 01, 2010

Mengapa umat Islam bershalawat pada Nabi SAW?

Semalam tarawih sudah sampai ke surah al-Ahzab (33), salah satu ayat yang dibaca Imam (bacaan murattalnya bagus sekali) sepertnyai belum pernah sama sekali saya dengar atau baca:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

33:43 - He it is Who sends blessings on you, as do His angels, that He may bring you out from the depths of Darkness into Light: and He is Full of Mercy to the Believers.


Ini mengingatkan saya akan beberapa ayat selanjutnya yang biasa dibaca dalam khutbah Jum'at:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

33:56 - Allah and His angels send blessings on the Prophet: O ye that believe! send ye blessings on him, and salute him with all respect.


Banyak misionaris yang selalu membawa tuduhan bahwa Tuhan dan malaikat dalam Islam lebih rendah statusnya dibanding Nabi karena Allah SWT dan para malaikat-Nya melakukan shalat, berdoa/menyembah kepada Nabi, dengan dalih ayat 33:56 ini.

Padahal seharusnya mereka belajar bahwa dalam bahasa Arab arti kata "yushali" di dalam ayat tsb tidak berarti "shalat", "berdoa" atau "pray" tapi juga "send or conferring the blessings" (menurunkan rahmat), "magnification" (mengangkat derajat) terutama dalam konteks subjectnya Tuhan, atau "invoking the blessing" kalau subjectnya malaikat atau manusia [Reference: Arabic-English Lexicon, Edward William Lane.]

Di dalam ayat 33:56 tsb, Allah SWT dan malaikat tidaklah melakukan shalat atau berdoa kepada Nabi, tapi Allah SWT menurunkan blessings dan mengangkat derajat beliau, dan para malaikat memohon rahmat Allah agar dicurahkan kepada beliau.

Dan untuk memperkuat hal ini, ayat 33:43 sebelumnya dengan jelas menunjukkan bahwa bukan hanya Nabi SAW yang Allah SWT dan para malaikat bershalawat atasnya, tapi juga orang2 yang beriman. Ini jelas menggugurkan tuduhan para misionaris yang tidak berdasar di atas.


Dulu ada seorang teman saya yang Christian pernah bertanya tentang shalat, saya berikan dia buku shalat dalam bahasa Inggris. Dia membaca sampai akhir (bagian tahiyyat), lalu bertanya why Muslims have to pray to God for their Prophet? Apakah belum pasti bagi Nabi kalian masuk surga karena itu minta didoakan? Saya jawab, tentu saja Allah SWT akan memasukkan para Nabi dan RasulNya ke dalam surga-Nya, tetapi mendoakan mereka adalah perkara yang berbeda. Saya tunjukkan kepadanya ayat dalam Bible-nya yang berhubungan dengan balasan Tuhan kepada mereka yang mendoakan kesejahteraan dan keberkahan atas Nabi Ibrahim:

I will BLESS those who BLESS you, and whoever curses you I will curse; 
and all peoples on earth will be blessed through you." (Genesis 12:3)

Saya bertanya padanya apakah Nabi Ibrahim masuk surga? Dia jawab ya. Lalu saya bilang padanya bhw ayat dalam Biblenya ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan sangat cinta kepada Nabi Ibrahim sehingga siapa saja yang mendoakan beliau akan diberikan rahmat-Nya dan siapa yang mengutuk/mencela beliau akan dikutukNya pula. Pointnya adalah cinta Tuhan kepada hambaNya.

Teman saya ini agak terkejut sewaktu dia membaca ayat tadi seperti ia tidak tahu ayat tsb sebelumnya. Lalu dia bertanya lagi jadi kalian Muslims setiap hari dalam shalat kalian membaca shalawat kepada Nabi kalian juga Nabi Ibrahim? Iya jawab saya. And according to his own Bible, those who send blessing to a prophet of God, someone loved by Him, God will send blessing for them too.

Begitu pula dalam keyakinan orang Islam, barangsiapa yang mendoakan salam dan shalawat kepada Nabi SAW, apalagi karena rasa terima kasih atas jasa beliau menyampaikan al-Islam kepada kita, juga karena perasaan cinta kepada beliau, Allah SWT pun akan memberikan salam dan shalawat padanya.

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan 
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" (QS.33:56). 

"Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari qiamat, ialah manusia 
yang paling banyak bershalawat untukku." (HR. Al-Tirmidzî).

"Barangsiapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah SWT bershalawat 
untuknya sepuluh kali." (HR. Muslim).

Mudah2an bermanfaat.

Allahumma shalli 'ala sayyidina wa nabiyiinal karim Muhammadin, wa 'ala alihi wa shahbihi 'ajma'in...

Mudah2an bermanfaat.

Muslims fear backlash if holiday falls on September 11

Muslims fear backlash if holiday falls on September 11


Submitted by Rose Egge, Communities Reporter
Wednesday, September 1st, 11:14am



Imagine if you could not be with your family on Christmas. For many Americans, this holiday is one of the most special days of the year. It would be tragic if you could not safely leave your home and be with your loved ones. Next week, when Islam’s holy season ofRamadan comes to a close, Muslim’s across the country may be hesitant, or even fearful, to celebrate one of their most precious days of the year, the annual "feast of fast breaking" holiday Eid ul-Fitr. That’s because this year, the Eid could fall on September 11.
Muslim leaders are hoping to educate the public so that their holiday is not considered a celebration of the World Trade Center attacks.
"We are concerned for people's safety," said Arsalan Bukhari, Executive Director of theCouncil on American-Islamic Relations here in Washington. "We have nothing to do with 9/11, we have condemned those attacks. But we also understand that it's a day of mourning for all Americans."
Bukhari says he has seen an increase in anti-Muslim sentiment since the debate began over a mosque near Ground Zero in New York. Just recently, a mosque in Kirkland, the Ithna-asheri Muslim Association of the Northwest (IMAN), received mail saying “No mosque in Kirkland.”  
“We’re seeing opposition from New York reverberating across the country,” Bukhari said.
Aziz Junejo, a spokesperson for the Muslim community in Seattle and Seattle Times columnist, told me “no question,” there has been a rise in anti-Muslim sentiment across the country. He mentioned the church in Gainesville, Florida that has vowed to burn copies of the Quran on September 11 this year and the mosque in California where a sign was found reading “No temple for the god of terrorism at Ground Zero.”
“Muslims are concerned about how they should act (on the Eid),” said Junejo. “Everyone is being vigilant. We (are living in) a dangerous environment right now.”
The Ramadan Eid has not landed on September 11 since the attacks on the World Trade Center in 2001 because the date of the holiday is based on the lunar calendar, which is about 11 days shorter than the solar calendar of 365 days more typically used. Each year, Islam’s ninth month, Ramadan, starts about 10 days earlier than the year before. The Eid occurs with the sighting of the new moon and the start of Islam's tenth month. This year, it is expected to occur between September 9 and September 11.
The Eid will not fall near September 11 for another 33 years. Junejo says this Eid could have a significant impact on the Muslim community.
“If children feel they can’t go out on Eid it really gives them a feeling that they’re not a part of this country,” said Junejo. “We want our children to feel like they’re Americans first and foremost.”
Whichever day the Eid lands on, thousands of Muslims are expected to gather at the Washington Convention Center, the Lynnwood Convention Center and downtown Bellevue to pray together.
Local Muslim community groups will celebrate with carnivals and festivals, but some have rescheduled their celebrations. The Muslim Association of Puget Sound (MAPS) will host a celebration at Remlinger Farms on  September 18 – one week after the Eid.
“September 11th was specifically excluded in an attempt to avoid any misunderstandings based on perception from those who may be unaware of the lunar calendar and the end of Ramadan,” said Kabir Jeddy, treasurer of MAPS.
Muslims across the country are also expected to participate in the “Muslims Serve" campaignon September 11.
The Islamic Society of North America has published this statement online:
Given the volatile political and social climate we are experiencing all around the country, a national grassroots coalition of American Muslims asks you to do something special this Eid - invite your family and friends and community to be a part of a nationwide effort to spend the anniversary of 9/11 in service to your neighbors and your city.

Last summer, American Muslims participated in more than 3,500 community service projects all around the country as part of President Obama's "United We Serve" campaign. On September 11th, let's show that we can rise above prejudice and hatred and be the kind of conscientious citizens who give back to our country through a national "Muslim Serve" campaign.
Junejo says September 11 is tragic anniversary for all Americans, including Muslims.
“Let’s turn this tragic anniversary into something positive,” he says.

These local events have been scheduled to celebrate the end of Ramadan:
Cham Muslim Refugee Center field Day and blood drive
September 11. Cham Muslim Refugee Center is located at 5945 39th Avenue South, Seattle.
September 12, 11 a.m., Alderwood Middle School, Lynnwood. Games and Activities for the whole family. Tickets $5/person . Children under 2 - free. Food available at cost.
September 18, 10:45 a.m. to 4:30 p.m., Remlinger Farms. MAPS cordially invites you to celebrate Eid Al- Fitr. Get your tickets in advance, by registering online.


TODAY at 2:35pm on KOMO News radio AM 1000 and FM 97.7, they will be talking about this story.  If there is a number to call, please call in to thank them for great coverage and to make positive statements about positive contributions of American Muslims.  Feel free to plug your organizations' projects in your call :)

Monday, August 30, 2010

Presentasi Islam di sekolah-sekolah

Di sini sering ada undangan ke sekolah2 untuk presentasi mengenai Islam terutama setelah peristiwa 911. Anak saya juga pernah saya ajak untuk memenuhi undangan berpresentasi mengenai Islam ini di middle school. Biasanya pertanyaan2 sekitar:

  • apa itu Islam, 
  • apa rukun2nya, 
  • siapa Muhammad, 
  • apa itu Qur'an, 
  • bagaimana kita sebagai Muslim hidup di negara yang mayoritas non-Muslim ini (berkenaan dengan makanan, shalat, puasa). 


Ada juga yang bertanya mengenai:

  • terorisme dalam Islam, dan
  • yang berkenaan dengan Yesus, Bible dan Trinitas. 


Tapi kalau di sekolah biasanya pertanyaan2nya masih sopan dan tidak offensive, tidak bernada "mocking" seperti yang sering dilontarkan Islamophobes.

Mudah2an kita semua bisa menyiapkan jawaban terhadap pertanyaan2 macam ini, just in case siapa tahu ada teman2 non-Muslim yang bertanya, atau kita diundang untuk presentasi di sekolah2. 

Dua doa di malam Lailatul Qadar

Berikut ini dua versi dari doa di malam Lailatul Qadr:

 اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Alloohumma innaka afuwwun tuhibbul `afwa fa`fu `annii

Aisyah berkata; "Wahai Nabi Allah! Bagaimana menurutmu jika saya berada pada malam lailatul Qodar, apa yang harus saya ucapkan?" Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menjawab: "Hendaklah kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA INNAKA AFUWWUN TUHIBBUL `AFWA FA`FU `ANNI (ya Allah Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, maka ampunilah saya)." (HR. Ahmad)


 اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Alloohumma innaka 'afuwwun kariim(un), tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii

Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui malam apakah lailatul qadr, maka apakah yang aku ucapkan padanya? Beliau mengatakan: "Ucapkan; ALLAAHUMMA INNAKA 'AFUWWUN KARIIMUN TUHIBBUL 'AFWA FA'FU 'ANNII (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku). Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih. (HR. Tirmidzi)

Thursday, August 26, 2010

Mohonlah pertolongan kepada Allah

Mudah2an Allah SWT melindungi kita semua dan keluarga kita dari segala kesulitan dan kezhaliman...amin...


Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : "Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. Tirmidzi - hadits shahih)

Dari Usman bin Affan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang hambapun yang pada pagi setiap hari dan sore setiap malam, mengucapkan: "Bismillahil ladzi la yadhurru ma'asmihi syai-un fil-ardhi wa la fissama-i wa huwas sami'ul 'alim -Dengan nama Allah yang segala sesuatu tidak akan dapat membahayakan dengan menyebut namaNya itu, baik yang ada di bumi ataupun yang ada di langit dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Mengetahui, sebanyak tiga kali, melainkan ia tidak akan terkena bahaya oleh sesuatu apapun." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi - hadits shahih)

Tuesday, August 24, 2010

Humor: Two Christians were lost in the Sahara desert .


One is called David, the other is called Michael .

They were dying of hunger and thirst when they suddenly came upon an oasis, with what looked like an minaret of a mosque in the middle.

David said to Michael : "Look,  let's pretend we are Muslim, otherwise these Arabs are going to kill us. I am going to call myself Mohammed."

Michael refused to change his name, he said: " My name is Michael, and I will not pretend to be other than but what I am . ...Michael."

The Imam of the mosque received both well and asked about their names .

David said: "My name is Mohammed ."

Michael said: "My name is Michael. "

The Imam turned to the helpers of the mosque and said: "Please bring some food and water for Michael only."

Then he turned to the other and said : "Well Mohammed I hope you are aware that we are still in the holy month of Ramadan."

Sunday, August 22, 2010

Tamu dari Gereja, Door to Door

Kami dulu sering juga dikunjungi Christian missionaries, sekarang2 ini sudah jarang lagi, yg masih ada biasanya Mormon...

Kalau saya tidak ada di rumah, biasanya istri saya tidak membukakan pintu, dan misionaris akan pergi karena menyangka tidak ada orang di rumah. Kalau saya ada di rumah dan ada Christian missionaries datang, saya bukakan pintu, dan saya bilang we are Muslims. Kalau mereka insist ingin diskusi, saya ajak mereka masuk dan berdiskusi. Tapi kalau kita bilang bahwa kita Muslim, tidak jarang mereka akan permisi pergi... :)

Kalau rasanya kita siap untuk berdiskusi untuk berdakwah kepada mereka, tidak ada salahnya berdiskusi. Tetapi kalau kita rasa masih belum siap, saya setuju dengan sarannya mas Ahmad Fahri , kita bisa refer mereka kepada Imam di masjid untuk informasi2 mengenai Islam. Siapa tahu Allah SWT membuka hati mereka dan memberikan hidayah. Saya kadang merasa bersalah kalau saya tidak memberikan informasi kepada mereka mengenai Islam, khawatir di akherat nanti mereka akan berdalih, "saya datang ke rumah orang ini, tapi dia sama sekali tidak memberikan jalan kepada saya untuk mengetahui apa itu Islam".

Bagus juga untuk menyiapkan pamflet yang berisikan informasi mengenai Islam. Pernah ketika missionaries memberikan pamflet/brosur, selain saya ambil saya berikan juga brosur2 mengenai Islam. Ada yang menerima, ada juga yang menolak. At least kita sudah berusaha memberikan jalan. It's their responsibility to accept or reject it.

Brosur2 mengenai Islam ini banyak dijumpai di internet, beberapa di antaranya:
http://www.dawahusa.com/ebooks/index.shtml
http://www.kalamullah.com/dawah-pamphlets.html
http://www.iiie.net/index.php?q=taxonomy/term/1  (especially: http://www.iiie.net/index.php?q=node/23)
Biasanya di masjid juga ada brosur2 mengenai Islam yang bisa kita minta untuk dakwah...

Mudah2an bermanfaat...

Friday, August 20, 2010

Imam Shamsi on FoxNews - Ground Zero Mosque

Another discussion on the proposed ICC near Ground Zero with the Chairman of NY State Conservative Party and Imam Shamsi Ali:

http://www.myfoxny.com/dpp/good_day_ny/mosque-debate-20100820


Alhamdulillah atas responsenya Imam Syams terhadap komentar dan pertanyaan bahkan yang tricky... :)
Pertanyaan Imam Syamsi nggak dijawab oleh Michael Long, why when Muslims try to build a mosque there they are called insensitive?

Seharusnya mereka tidak perlu lagi "beating around the bush".... simple straight forward answer = Islamophobia...

Mudah2an ustadz Syamsi diberikan kesehatan

Wednesday, August 18, 2010

Keith Olbermann Special Comment: There Is No 'Ground Zero Mosque'

Saya mempost link di bawah di facebook, tanpa setahu saya seorang teman saya American non-Muslim me-repost link tsb di facebook wall Tea Party group!

Saya sempat berpikir, semua adalah mudah bagi Allah SWT. Mudah bagi Dia membuat orang lain simpati dan membela hak2 Muslim padahal orang tsb bukanlah seorang Muslim. Di saat tidak banyak Muslims yang care untuk menyuarakan hak2 mereka, Allah akan membuka hati orang2 non-Muslims untuk menyuarakannya.

Please take your part as Muslim in making firm and clear statement that Islamophobia must be rejected in America and everywhere else.

http://www.youtube.com/watch?v=QZpT2Muxoo0

Sunday, August 15, 2010

Muslim bashers and the need for Muslim public relations...

Di tengah2 polemik pembangunan masjid di Amerika yang ditentang oleh Islamophobes/anti-Islam, comedian John Steward criticized the "Muslim Basher" through his jokes related to the two mosques:

Wish You Weren't Here (Tennessee Masjid):
http://www.thedailyshow.com/watch/wed-july-7-2010/wish-you-weren-t-here

Ground Zero Masjid:
http://www.thedailyshow.com/full-episodes/tue-august-10-2010-jason-bateman


Mungkin perlu ada widespread public relations and press conference dari semua organisasi Muslim seAmerika untuk menjelaskan permasalahan sebenarnya dari kebencian ini yang bersumber dari propaganda Islamophobes, yang telah berhasil mempengaruhi sebagian media massa dan elemen di pemerintahan atau law makers, juga uneducated masses.  Malah kabar dari CNN (yang sumber datanya bisa saja sudah diubah untuk membuat opini), 70% rakyat Amerika tidak setuju dengan pembangunannya. Sampai kuatnya propaganda media massa, Obama  dibuat berkomentar bahwa dalam jamuan iftar kemarin dia tidak membahas "wisdom" pembangunan gedung tsb, yg dibahas cuma "rights" of the muslims untuk membangunnya. Bahkan White House hari ini membuat press release bahwa President tetap mendukung hak2 Muslim membangun gedung tsb (sepertinya untuk membuat impression President tetap konsistent dengan statement sebelumnya di iftar dinner).

Para pemimpin organisasi Islam di Amerika rasanya perlu menjawab satu per satu dari tuduhan2 mereka yang bermacam2 yang harus diexposed di media massa untuk menjangkau audience yang luas.
- integritas dari imam pencetus usulan tsb,
- assosiasinya dengan organisasi Islam (ISNA, CAIR) yang dituduh sebagai organisasi teroris,
- apa yang akan diajarkan di dalam masjid,
- tidak jelasnya dana yang digunakan dalam pembangunan gedung tsb (takut didanai oleh wahabi),
- feeling some people yang menyamakan Islam dengan ajaran cult satanic, yang menginspire tragedi 911 (yang ditambahi berbagai bumbu2 kebencian oleh Islamophobes).
Seperti interviewnya Imam Syamsi di FoxNews yang menjawab dengan gamblang tentang point nomor 2 tuduhan mereka di atas, ini bisa merubah persepsi yang salah dari banyak orang.

Atau apakah ada yang tahu kalau sudah ada comprehensive rebuttals terhadap point2 di atas tsb?

Mudah2an Allah SWT melindungi kita semua dari kejahatan orang2 yang bodoh dan zhalim.
Amin.

Thursday, July 22, 2010

Superheros inspired by Islam

Very entertaining presentation!
I remember about the comics few years back but never know about the movie production until now..

http://www.ted.com/talks/naif_al_mutawa_superheroes_inspired_by_islam

Friday, July 16, 2010

Ground zero mosque - Reza Aslan vs. Zuhdi Jasser


Seru juga debatnya di CNN....  we need more people like Reza to argue or debate with the Islamophobes...  :)

Reza looks confidence, tampaknya karena dia merasa memiliki data (facts) yang kuat juga logical argument yg sound.

http://www.loonwatch.com/2010/07/reza-aslan-rips-republican-zuhdi-jasser-on-mosque/

Wednesday, July 14, 2010

Islamophobia dan da'wah

Islamophobia is a real problem that Muslims need to resolve together. IMHO, ini salah satu akibat dari ditinggalkannya da'wah, baik internal (pada diri, keluarga, umat Islam) maupun external (pada non-Muslims).

Saya jadi ingat ceramahnya Imam Joban di pengajian Redmond beberapa bulan yang lalu.

Banyak orang meninggalkan da'wah karena merasa dirinya masih banyak dosa dan kekurangan. Mereka beranggapan mereka harus perfect dulu baru bisa berda'wah. Padahal yang namanya manusia itu tempat salah dan dosa. Iman itu naik dan turun. Kalau kita baru mau berda'wah menunggu kalau iman kita tinggi dan stabil, tidak akan pernah kita mau memulai da'wah. Ustadz Joban memberikan contoh seorang Muslim yang merasa dirinya masih banyak dosa tapi kemudian ia berhasil membuka jalan temannya kepada Islam, hanya karena memberikan temannya Al Qur'an. Allah SWT membuka hati dan menunjuki siapa saja yang Dia kehendaki, melalui siapa saja.

Saya mengajak seluruh anggota IMSA untuk bersama2 aktif dalam da'wah di lingkungan community kita tinggal. Tidak hanya kepada Muslims saja, tapi juga kepada non-Muslims, karena kita sekarang ini part of this society dan harus involved di dalamnya. Tidak hanya dengan ucapan saja, tapi juga dengan perbuatan/bil hal. Dengan berakhlaq yang baik (lillahi ta'ala bukan show off), tapi juga dengan melakukan aktivitas2 da'wah lainnya yg terorganize rapih, seperti menulis di newspaper mengcounter miskonsepsi yang salah, membantu the poor, homeless, aktif dalam interfaith meetings, mengundang tetangga2 untuk dinner di waktu ramadhan atau eidul fitri either di rumah atau di masjid, da'wah booth di campus, library, etc. Ada baiknya kalau setiap dari kita mengerti akan fiqh da'wah, materi2 da'wah apa saja yang bisa disampaikan dan metode2nya.

Insya Allah kalau semua Muslims di negeri ini aktif melakukan da'wah lillahi ta'ala, problem2 orang membenci Islam akan sedikit demi sedikit bisa berkurang.

Tugas kita berusaha dan berdoa. Hasil akhir, terbukanya hati untuk mendapat hidayah itu hanya oleh Allah SWT.

Berikut ini ada slides mengenai da'wah to non-Muslim yang mudah2an bermanfaat untuk memotivasi kita semua untuk lebih aktif lagi berda'wah.
https://docs.google.com/present/edit?id=0AR4bDYUpI9PTZGc4ZzJnNjRfMjdoaDQ1dDRjaw&hl=en&authkey=CNqRjbUF

Mohon dikoreksi dan ditambahkan bila ada yang salah dan kurangnya.

Saturday, July 10, 2010

Dengki Penghancur Kebaikan

Semoga bermanfaat...

Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).
Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).
Hadits itu menegaskan kepada kita bahwa dengki itu merugikan. Yang dirugikan bukanlah orang yang didengki, melainkan si pendengki itu sendiri. Di antara makna memakan kebaikan, seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, “Ia merugi dunia dan akhirat.” (‘Aunul Ma’bud juz 13:168)
Hilangnya pahala itu hanyalah salah satu bentuk kerugian pendengki. Masih banyak kebaikan-kebaikan atau peluang-peluang kebaikan yang akan hilang dari pendengki, antara lain:
Pertama, mengalami kekalahan dalam perjuangan. Orang yang dengki perilakunya sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendiskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibilitas, dan daya tarik orang yang didengkinya. Dan sebaliknya, mengangkat citra, nama baik dan kredibilitas pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:
Dari Jabir dan Abu Ayyub Al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)
Kedua, meruntuhkan kredibilitas. Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, cari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.
Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?
Ketiga, mencukur gundul agama. Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut, melainkan mencukur agama.” (At-Tirmidzi)
Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Akan tetapi Islam yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan rahmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.
Keempat, menyerupai orang munafik. Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan perilaku itu sebagai perilaku orang munafik. Abi Mas’ud Al-Anshari –semoga Allah meridhainya– mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Bukhari dan Muslim)
Benarlah ungkapan seorang ulama salaf: “Al-hasuudu laa yasuud (pendengki tidak akan pernah sukses).” (Kasyful-Khafa 1:430).
Kelima, tidak mampu memperbaiki diri sendiri. Orang yang dengki, manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari-cari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.
Keenam, membuat gelap mata dan tidak dapat melihat kebenaran. Dengki membuat pengidapnya tidak dapat melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri; dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya, jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan, dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya, dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar:18)
Ketujuh, membebani diri sendiri. Orang yang membiarkan dirinya dikuasai oleh iri dengki hidupnya menanggung beban berat yang tidak seharusnya ada. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Enakkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Tentu saja menyesakkan. Dalam bahasa Al-Qur’an, bumi yang luas ini dirasakan sumpek. Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. Bila dia tidak dihilangkan akan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Al-Baqarah: 10)
Betapa sulitnya kita menghimpun kebaikan dan meraih kemenangan. Maka janganlah diperparah dan dipersulit dengan membiarkan dengki menguasai hati kita. Mari berlomba dalam kebaikan. Allahu a’lam.

Saturday, July 03, 2010

Menela'ah lebih dalam antara Ikhlash dan Riya'

Semoga bermanfaat...


oleh:  
Abu Zuhriy Rikiy Dzulkifliy

Hakikat Ikhlash
Ikhlash adalah sesuatu yang begitu mudah diucapkan akan tetapi betapa sulitnya direalisasikan. Sampai-sampai sebagian ulama salaf menyatakan: “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersaksikan bahwasanya dirinya telah ikhlash maka sungguh dia butuh untuk ikhlash lagi”, sebagaimana diucapkan oleh As-Susiy.
Hal ini dikarenakan apabila seseorang merasa telah ikhlash dalam ucapan dan perbuatannya berarti dia telah berbuat ‘ujub (kagum dan bangga dengan amalnya) yang akan menghapuskan amalannya tersebut. Sedangkan orang yang ikhlash adalah orang yang amalnya bersih dari seluruh hal yang akan menghapuskannya seperti riya`, sum’ah, ’ujub dan yang lainnya.
Berkata Ya’qub: “Orang yang ikhlash adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”
Kecuali kalau dalam rangka agar orang lain mengikuti perbuatan baiknya maka boleh menampakkan perbuatannya tersebut karena ada maslahat bagi orang lain.
Berkata Ayyub: “Memurnikan niat bagi orang-orang yang beramal itu lebih berat atas mereka daripada (mengerjakan) seluruh amalan-amalan.”
Berkata sebagian ulama salaf: “Ikhlash sesaat adalah keselamatan selama-lamanya, akan tetapi ikhlash itu adalah sesuatu yang sangat sulit.”
Ketika Suhail ditanya: “Apakah yang paling berat bagi jiwa?” Maka beliau menjawab: “Ikhlash, karena padanya tidak ada bagian yang lainnya.”
[Lihat: Tazkiyyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hal.17, dengan beberapa perubahan.]
Hakikat riya’
Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Ar Riya’." (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)
Arriya’ (الرياء) berasal dari kata kerja raâ ( راءى) yang bermakna memperlihatkan. Sedangkan yang dimaksud dengan riya’ adalah memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan ibadah tertentu seperti shalat, shaum (puasa), atau lainnya dengan tujuan agar mendapat perhatian dan pujian manusia. Semakna dengan riya’ adalah Sum’ah yaitu memperdengarkan suatu amalan ibadah tertentu yang sama tujuannya dengan riya’ yaitu supaya mendapat perhatian dan pujian manusia.
Para pembaca yang mulia, perlu diketahui bahwa segala amalan itu tergantung pada niatnya. Bila suatu amalan itu diniatkan lkhlas karena Allah subhanahu wata’ala maka amalan itu akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Begitu juga sebaliknya, bila amalan itu diniatkan agar mendapat perhatian, pujian, atau ingin meraih sesuatu dari urusan duniawi, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya amalan seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ’alaihi)
Ibadah merupakan hak Allah subhanahu wata’ala yang bersifat mutlak. Bahwa ibadah itu murni untuk Allah subhanahu wata’ala, tidak boleh dicampuri dengan niatan lain selain untuk-Nya. Sebagaimana peringatan Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya (artinya):
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
Alangkah indahnya perkataan imam al-fudhail bin iyadh dalam menjelaskan riya’ :
“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya` seperti dia tidak mau shalat sunnah karena takut riya’, berarti dia sudah terjatuh pada riya` itu sendiri. Yang seharusnya dia lakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.
[Lihat: Tazkiyyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hal.17, dengan beberapa perubahan.]
Hukum Riya’
Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil.
Sebagaimana hadits di atas dari shahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Ar Riya’."
Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam mara bahaya.
Perlu diketahui, meskipun riya’ “hanya” syirik asghar, kita tidak boleh meremehkannya karena syirik asghar termasuk dosa besar yang dosanya lebih besar dari zina, merampok atau yang semisal.
Bahaya Riya’
Penyakit riya’ merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena memilki dampak negatif yang luar biasa.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir”. (Al Baqarah: 264)
Dalam konteks ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala memberitakan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau menyakiti perasaan si penerima maka akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya’ yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatanya saja (riya’), tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wata’ala mengancam bahwa kesudahan yang akan dialami orang-orang yang berbuat riya’ adalah kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak. Sebagaimana firman-Nya:
“Wail (Kecelakaanlah) bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’, … " (Al Maa’uun: 4-7)
Diperkuat lagi, adanya penafsiran dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, makna Al Wail adalah ungkapan dari dasyatnya adzab di akhirat kelak. (Tafsir Ibnu Katsir 1/118)
Sedangkan dalam hadits yang shahih, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ancaman bagi orang yang berbuat riya’ yaitu Allah subhanahu wata’ala akan meninggalkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan kesyirikan bersama-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu”.
Bila Allah subhanahu wata’ala meninggalkannya siapa lagi yang dapat menyelamatkan dia baik di dunia dan di akhirat kelak? Dalam hadits lain, Allah subhanahu wata’ala benar-benar akan mencampakkan pelaku perbuatan riya’ ke dalam An Naar.
Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al Imam Muslim, bahwa yang pertama kali dihisab di hari kiamat tiga golongan manusia: pertama; seseorang yang mati di medan jihad, kedua; pembaca Al Qur’an, dan yang ketiga; seseorang yang suka berinfaq. Jenis golongan manusia ini Allah subhanahu wata’ala campakkan dalam An Naar karena mereka beramal bukan karena Allah subhanahu wata’ala namun sekedar mencari popularitas. (Lihat HR. Muslim no. 1678)
Perlu diketahui, bahwa riya’ yang dapat membatalkan sebuah amalan adalah bila riya’ itu menjadi asal (dasar) suatu niatan. Bila riya’ itu muncul secara tiba-tiba tanpa disangka dan tidak terus menerus, maka hal ini tidak membatalkan sebuah amalan.
Pengobatan Riya’
Di antara cara untuk mencegah dan mengobati perbuatan riya’ adalah:
1. Mengetahui dan memahami keagungan Allah subhanahu wata’ala, yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.
Ketahuilah, Allah subhanahu wata’ala adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat serta Maha Mengetahui apa-apa yang nampak ataupun yang tersembunyi. Maka akankah kita merasa diperhatikan dan diawasi oleh manusia sementara kita tidak merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala?
Bukankah Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):"Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya”, …" (Ali Imran: 29)
2. Selalu mengingat akan kematian.
Ketahuilah, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Ketika seseorang selalu mengingat kematian maka ia akan berusaha mengikhlaskan setiap ibadah yang ia kerjakan. Ia merasa khawatir ketika ia berbuat riya’ sementara ajal siap menjemputnya tanpa minta izin /permisi terlebih dahulu. Sehingga ia khawatir meninggalkan dunia bukan dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya) tapi su’ul khatimah (jelek akhirnya).
3. Banyak berdo’a dan merasa takut dari perbuatan riya’.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita do’a yang dapat menjauhkan kita dari perbuatan syirik besar dan syirik kecil. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan At Thabrani dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Wahai manusia takutlah akan As Syirik ini, sesungguhnya ia lebih tersamar dari pada semut. Maka berkata padanya: “Bagaimana kami merasa takut dengannya sementara ia lebih tersamar daripada semut? Maka berkata Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam :” Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه
“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”
4. Terus memperbanyak mengerjakan amalan shalih.
Berusahalah terus memperbanyak amalan shalih, baik dalam keadaan sendirian atau pun dihadapan orang lain. Karena tidaklah dibenarkan seseorang meninggalkan suatu amalan yang mulia karena takut riya’. Dan Islam menganjurkan umat untuk berlomba-lomba memperbanyak amalan shalih. Bila riya’ itu muncul maka segeralah ditepis dan jangan dibiarkan terus menerus karena itu adalah bisikan setan.
Apa yang kita amalkan ini belum seberapa dibandingkan amalan, ibadah, ilmu dan perjuangan para shahabat dan para ulama’. Lalu apa yang akan kita banggakan? Ibadah dan ilmu kita amatlah jauh dan jauh sekali bila dibandingkan dengan ilmu dan ibadah mereka.
Berusaha untuk tidak menceritakan kebaikan yang kita amalkan kepada orang lain, kecuali dalam keadaan darurat. Seperti, bila orang berpuasa yang bertamu, kemudian dijamu. Boleh baginya mengatakan bahwa ia dalam keadaan berpuasa. (Lihat HR. Al Imam Muslim dari sahabat Zuhair bin Harb no. 1150)
Namun boleh pula baginya berbuka (membatalkan puasa selama bukan puasa yang wajib) untuk menghormati jamuan tuan rumah.
Beberapa perkara yang bukan termasuk riya’
1. Seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapatkan pujian dari manusia tanpa ia kehendaki.
Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Abu Dzar, bahwa ada seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam : “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal (secara ikhlas) dengan amal kebaikan yang kemudian manusia memujinya?” Maka Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam menjawab: “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin”.
2. Seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan Islam.
Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidaklah masuk Al Jannah seseorang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah (setitik) dari kesombongan.” Berkata seseorang: "(Bagaimana jika) seseorang menyukai untuk memperindah pakaian dan sandal yang ia kenakan? Seraya Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain".
3. Beramal karena memberikan teladan bagi orang lain.
Hal ini sering dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Seperti Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam shalat diatas mimbar bertujuan supaya para shahabat bisa mencontohnya. Demikian pula seorang pendidik, hendaknya dia memberikan dan menampakkan suri tauladan atau figur yang baik agar dapat diteladani oleh anak didiknya. Ini bukanlah bagian dari riya’, bahkan Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِْسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa yang memberikan teladan yang baik dalam Islam, kemudian ada yang mengamalkannya, maka dicatat baginya kebaikan seperti orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun dari kebaikannya.” (HR. Muslim no. 1017)
4. Bukan termasuk riya’ pula bila ia semangat beramal ketika berada ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal. Karena ia merasa terpacu dan terdorong untuk beramal shalih. Namun hendaknya orang ini selalu mewaspadai niat dalam hatinya dan berusaha untuk selalu semangat beramal meskipun tidak ada orang yang mendorongnya.
Pentingnya Ikhlash bagi Penuntut Ilmu
Berkata Al-Imam An-Nawawiy setelah membicarakan tentang keutamaan ilmu dan kedudukan ulama: “Ketahuilah bahwasanya apa-apa yang telah kami sebutkan dari keutamaan menuntut ilmu, hanyalah akan diperoleh bagi orang yang mencarinya dalam rangka mengharapkan Wajah Allah Ta’ala, bukan dalam rangka mencari dunia. Dan barangsiapa dalam menuntut ilmu dia mencari tujuan duniawi seperti harta, kepemimpinan, kedudukan, kemegahan, ketenaran, menarik perhatian manusia kepadanya atau ingin mendebat orang lain, atau yang sejenisnya maka ini semuanya tercela.” (Al-Majmuu’ 1/23)
Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan dalam dirinya kecenderungan kepada riya` dan senang untuk berbangga-bangga dengan ilmunya, maka wajib baginya untuk menyibukkan diri dengan memperbaiki niat, bersungguh-sungguh melatih jiwanya agar tetap di atas keikhlashan, menghilangkan was-was syaithan, berlindung diri dari kejahatan dan kejelekannya sampai niatnya kembali menjadi bersih dari berbagai kotoran riya dan yang lainnya, dan tertutuplah pintu-pintu masuk syaithan yang biasa menyusup dari sela-sela jiwa manusia.
Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnus Simak bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata:
“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada (memperbaiki) niatku, karena niat itu senantiasa berubah-ubah pada diriku.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawiy wa Aadaabis Saami’ 1/317)
Al-Khathib juga meriwayatkan dari Bisyr Ibnul Harits bahwasanya beliau ketika berbicara lalu menyebutkan sanad hadits, maka beliau berkata:
“Astaghfirullaah, sesungguhnya ketika menyebutkan sanad muncul perasaan bangga dan sombong dalam hatiku.” (Ibid. 1/338)
Dia takut masuknya perasaan sombong dan bangga ke dalam hatinya, ketika dia menyebutkan sanad dari para perawi dan guru-gurunya yang meriwayatkan dari mereka, lalu hal ini menjadi sebab munculnya riya`, maka diapun mengawasi bisikan-bisikan jiwanya lalu meminta ampun kepada Rabbnya.
Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan juga dari ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far bahwasanya beliau berkata:
“Apabila seseorang ketika sedang berbicara di suatu majelis lalu pembicaraannya tersebut menjadikan dia ta’ajjub (kagum) maka hendaklah dia diam, dan sebaliknya apabila dia diam lalu diamnya tersebut menjadikan dia ta’ajjub maka hendaklah berbicara.” (Ibid. 1/338)
Beramal Terus Sambil Memperbaiki Niat
Sangatlah pantas bagi kita untuk memperhatikan permasalahan ini yaitu terhadap pintu-pintu masuknya syaithan yang selalu berusaha menggoda manusia, yang wajib bagi para penuntut ilmu mewaspadainya.
Yang dimaksud pintu syaithan di sini adalah godaan dan tipuannya syaithan yang menjadikan permasalahan riya` dan rasa takut darinya sebagai senjata untuk menghalangi seorang penuntut ilmu dari tujuannya (sehingga tidak lagi menuntut ilmu karena takut riya`), dan menghalangi seorang yang alim dari majelis ilmu (sehingga tidak lagi mengajarkan ilmunya karena takut riya`), menghalangi seorang da’i dan pemberi nasehat dari pelajaran-pelajarannya, dengan alasan bahwasanya manusia akan kagum dengan pembicaraannya dan hal ini mengantarkan kepada riya` atau karena semata-mata didapati dalam dirinya ada kecenderungan kepada bisikan-bisikan riya` dan senang dengan kagumnya manusia dan pujian mereka kepadanya.
Sungguh para ulama telah membedakan antara riya` yang merupakan tujuan dan pendorong atas suatu amalan dengan keadaan seorang muslim yang telah menyempurnakan amalannya dengan ikhlash kemudian dia mendapati sebagian kesenangan pada dirinya dari pujian manusia atasnya setelah dia menyelesaikan amalannya tersebut, maka hal ini tidaklah mengurangi hakikat keikhlashannya insya Allah. (Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin hal.221)
Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Dzarr, dia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah: “Apakah pendapat engkau terhadap seseorang yang melakukan suatu amalan kebaikan dan manusia memujinya?” Maka beliau menjawab: “Itulah balasan kebaikan yang disegerakan sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”
Sebagaimana para ulama juga telah memberitahukan bahwasanya selayaknya bagi seorang penuntut ilmu agar jangan meninggalkan jalan menuju ilmu apabila dia mendapatkan dalam dirinya ada sesuatu dari riya`, akan tetapi yang harus dia lakukan adalah menyibukkan diri dengan memperbaiki niatnya dengan tetap meneruskan menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya kepada orang lain.
Berkata Al-Imam An-Nawawiy: "Tidak Selayaknya bagi seorang yang berilmu untuk tidak mengajarkan ilmunya kepada seseorang dengan alasan karena niat orang yang belajar tersebut belum benar, karena sesungguhnya dia masih diharapkan agar baik niatnya. Dan terkadang dirasakan berat oleh kebanyakan para pemula dari kalangan para penuntut ilmu masalah perbaikan niat karena lemahnya jiwa-jiwa mereka dan sedikitnya kesenangan mereka terhadap kewajiban memperbaiki niat.
Karena menghalangi atau mencegah dari mengajari mereka akan mengantarkan kepada terluputnya ilmu yang banyak, bersamaan dengan itu masih diharapkan perbaikannya dengan adanya barakah ilmu apabila dia senang ilmu. Dan sungguh para ulama salaf mengatakan: “Kami dulunya menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itupun enggan kecuali agar dicari dalam rangka karena Allah semata.” Artinya akibat terakhirnya adalah jadilah menuntut ilmunya itu karena Allah semata." (Al-Majmuu’ 1/30)
Hal itu juga sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ibnul Jauziy, di mana beliau mengatakan:
“Sungguh Iblis telah memberikan tipu dayanya kepada seorang pemberi nasehat yang ikhlash, maka Iblispun berkata kepadanya: “Orang sepertimu tidaklah memberi nasehat dan akan tetapi kamu hanya pura-pura memberi nasehat.” Akhirnya diapun diam dan berhenti dari memberi nasehat. Itulah di antara makar Iblis, karena dia menginginkan menghalangi perbuatan yang baik…. Iblispun juga berkata: “Sesungguhnya kamu ingin bernikmat-nikmat dengan apa yang kamu sampaikan dan kamu akan mendapatkan kesenangan karena hal itu, dan kadang-kadang akan muncul perasaan riya` pada ucapanmu, dan menyendiri itu lebih selamat.” Maksud dari perkataan ini adalah menghalangi dari berbagai kebaikan". (Talbiisu Ibliis hal.125)

Luruskan Niat dalam Menuntut Ilmu!
Kita akhiri pembicaraan ini dengan wasiat Abu Hamid (beliau di akhir hidupnya bertaubat dan kembali ke manhaj salaf, yang sebelumnya bermanhaj shufi) di mana beliau mengingatkan para penuntut ilmu akan wajibnya mengawasi dan memperhatikan jiwanya dan agar selalu bertanya kepadanya apa pendorong dalam mencari ilmu dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan menuntut ilmu:
“Berapa malam kamu bangun untuk mengulang ilmu dan mentelaah kitab-kitab dan kamu mengharamkan dirimu untuk tidur, aku tidak tahu apa yang mendorongmu melakukan semuanya itu? Apabila niatmu mencari bagian dari dunia, perhiasannya dan kedudukan-kedudukan di dunia, serta ingin berbangga-bangga dengan teman-teman setingkatmu, maka kecelakaanlah bagimu kemudian kecelakaanlah bagimu. Dan apabila tujuanmu dalam mencari ilmu adalah dalam rangka menghidupkan syari’atnya Nabi dan mendidik akhlakmu serta mengikis habis nafsu yang cenderung kepada kejelekan, maka kebahagiaanlah bagimu kemudian kebahagiaanlah bagimu.” (Ayyuhal Walad hal.105-106)
Wallaahu A’lam, disadur dari Aadaabu Thaalibil ’Ilmi hal.31-35.
Sumber:
1. Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah
Edisi ke-24 Tahun ke-3 / 13 Mei 2005 M / 04 Rabi’uts Tsani 1426 H
Judul Artikel: Ikhlash, Betapa Sulitnya…
url: http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/24.htm
2. Buletin Al Ilmu
Rabu, 16-Januari-2008
Judul Artikel: Bahaya Riya dan Pengobatannya
url: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1002