<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665</id><updated>2012-02-02T16:47:08.221-08:00</updated><title type='text'>Contemplating my faith...</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-6722148771719088565</id><published>2012-02-02T16:45:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T16:47:08.231-08:00</updated><title type='text'>Konsep Evil</title><content type='html'>Berikut pertanyaan2 dari non-Muslim, baik yang atheist maupun agnostic, yang kerap muncul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Tuhan yang katanya Maha Kuasa akan segalanya, diam saja membiarkan kejahatan atau kezhaliman berlangsung dan membiarkan hamba2Nya yang tak berdosa menderita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Dia Maha Kuasa untuk menghapus kezhaliman? &lt;br /&gt;Bukankah Dia mampu mengirimkan malaikat2-Nya untuk membantu hamba2Nya? &lt;br /&gt;Bukankah Dia mampu membolakbalik hati para pemimpin dunia untuk membantu yang lemah dan menghukum yang zhalim?&lt;br /&gt;Bukankah Dia mampu merubah orang2 zhalim untuk tidak lagi mampu berlaku zhalim? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa semua doa yang telah dilakukan sungguh2 tidak terlihat juga hasilnya dalam membantu mereka yang menderita?&lt;br /&gt;Apakah Tuhan kalian yang katanya Maha Kuasa tidak mampu (atau tidak mau) mencampuri urusan manusia di bumi seperti layaknya pembuat jam yang membiarkan jam tersebut berjalan tanpa campur tangannya lagi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita mengetahui orang yang akan membunuh banyak orang dan kita mampu menstopnya, apakah kita dibenarkan untuk diam saja? &lt;br /&gt;Kalau Dia memang ada, mengapa Dia diam saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia biasa pertanyaan2 ini kadang bisa saja terbesit dalam hati, atau mungkin saja ditanyakan oleh anak2 kita yang mulai berpikir kritis ketika melihat berita mengenai konflik2 maupun penderitaan yang dialami banyak manusia di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan singkat ini dibuat dengan merangkum beberapa pandangan yang mencoba menjawab pertanyaan2 di atas, dengan harapan mudah2an bisa bermanfaat buat siapa saja yang membutuhkannya. Tolong dikoreksi dan ditambahkan bila ada yang salah dan kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Keburukan/Evil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya semua pertanyaan di atas bersumber dari pertanyaan dasar "Mengapa ada kejahatan/kezhaliman/keburukan di muka bumi?" yang berhubungan dengan "problem of evil", topik theodicy, salah satu field dalam philosophy, yang banyak diperdebatkan dalam sejarah filsafat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evil atau keburukan adalah persepsi manusia melabel sesuatu yang dialaminya/dirasakannya tidak menyenangkan (suffering) baik secara fisik maupun mental. Keburukan ini bisa disebabkan oleh perbuatan manusia ataupun selain perbuatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebabkan oleh perbuatan manusia, contohnya: kejahatan (di mana manusia melakukannya dengan sengaja), dan kecelakaan (dilakukan tanpa sengaja atau akibat ketidaktahuannya). Yang disebabkan oleh selain perbuatan manusia, misalnya: bencana alam dan penyakit yang menimpa di luar pengetahuan ataupun kuasa manusia. Lalu apa kaitannya ini semua dengan Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontradiksi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita meyakini bahwa Tuhan adalah Pencipta alam semesta yang Maha Tahu, Maha Kuasa, serta Maha Pengasih. Keyakinan ini oleh sebagian orang dianggap bertentangan dengan keburukan/evil yang dialami manusia di muka bumi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Tuhan Maha Tahu, tentu Dia mengetahui akan kejahatan atau keburukan sebelum terjadi, dan Dia tentu mau menghilangkannya karena Dia Maha Pengasih. Dia juga mampu menghilangkannya karena Dia Maha Kuasa. Tapi kenyataannya kejahatan dan keburukan tetap terjadi di muka bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kontradiksi" ini membuat sebagian orang menjadi atheist/mengingkari adanya Tuhan, sebagian lagi meyakini Tuhan tidak Maha Kuasa atau tidak mau bercampur tangan dalam urusan manusia, sebagian lagi bahkan meyakini adanya dua Tuhan: Tuhan Baik (God of Good) dan Tuhan Buruk (God of Evil) yang keduanya selalu bersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita memandang semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, Allah SWT, Tuhan pencipta dan pemelihara alam semesta adalah Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Pengasih/Maha Baik. Allah SWT bebas berbuat sesuai dengan ilmu-Nya, kekuasaan-Nya serta iradah/kehendak-Nya yang tidak bisa dijangkau oleh akal kita yang sangat terbatas. Lalu, mengapa ada evil/keburukan terjadi di muka bumi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa penjelasan yang mengandung imptant point yang bisa diutarakan dalam hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Free will&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebagai khalifah di muka bumi diberikan kebebasan (free will) oleh Allah SWT. Dengan free will ini, manusia bebas berbuat baik atau berbuat jahat, taat atau membangkang. Kalau Allah menahan semua perbuatan manusia yang tidak dikehendakiNya, atau merubah manusia untuk tidak lagi bebas berbuat, manusia tidak bisa lagi dibilang memiliki free will, dan ia akan seperti malaikat, yang selalu taat pada perintah Tuhan dan tidak pernah membangkang, atau bagaikan robot yang diprogram untuk melakukan apa saja yang dikehendaki programmernya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"By the soul, and the proportion and order given to it; and its enlightenment as to its wrong and its right; truly he succeeds that purifies it, and he fails that corrupts it!" (Qur'an 91:7-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"and shown him (men) the two highways (of good and evil)" (Qur'an 90:10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is the truth from your Lord; wherefore let him who will, believe, and let him who will, disbelieve." (Qur'an 18: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bumi, tempat ujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibekali dengan ruh, jasad, akal, free will, dan petunjuk dari-Nya, manusia diamanahi tugas untuk hidup sebagai khalifah di muka bumi. Alam semesta termasuk bumi di dalamnya diciptakan Allah SWT dengan aturan2 yang didesign berhubungan satu dengan yang lainnya, baik secara micro maupun macro. Misalnya tanah, api, air, dan angin yang bisa bermanfaat tapi bisa juga berbahaya bagi manusia, terkait dengan hukum sebab akibat. Hewan2 karnivora seperti singa akan menyerang siapapun yang mengganggunya atau yang dianggap makanannya. Gravitasi bermanfaat buat kehidupan di bumi, tapi dapat membawa keburukan bagi orang yang menjatuhkan diri dari gedung yang tinggi. Semua diciptakan Allah SWT berdasarkan ukuran dan aturan yang ditetapkan dalam designnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Verily, all things have We created in proportion and measure." (Qur'an 54:49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He said: "Our Lord is He Who gave to each (created) thing its form and nature, and further, gave (it) guidance.  (Qur'an 20:50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"it is He Who created all things, and ordered them in due proportions." (Qur'an 25:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"and who determines the nature (of all that exists), and thereupon guides it (towards its fulfilment)." (Qur'an 87:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam interaksinya dengan alam yang berjalan dengan aturan2 yang telah digariskan, juga interaksinya antar sesamanya, manusia akan mengalami situasi/kondisi suka dan duka, sad and joy, good and evil di mana ia akan merasakan sesuatu yang tidak enak (discomfort, pain, suffering) baik secara mental maupun fisikal. Semua ini dinilai Allah SWT sebagai ujian hidup manusia di muka bumi, bagaimana mereka bertindak dalam situasi/kondisi tersebut dengan semua faculty dan free will yang dimiliki. With this comes responsibility yang akan diminta pertanggunganjawabnya ketika kita kembali menghadap-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We said: Go down, all of you, from hence; but verily there comes unto you from Me a guidance; and whoso followeth My guidance, there shall no fear come upon them neither shall they grieve. (Qur'an 2:38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"And pursue not that of which you hast no knowledge; for every act of hearing, or of seeing or of (feeling in) the heart will be enquired into (on the Day of Reckoning)." (Qur'an 17:36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...We test you by evil and by good by way of trial. To Us will you return." (Qur'an 21:35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Do men think that they will be left alone on saying, "We believe", and that they will not be tested? We did test those before them, and Allah will certainly know those who are true from those who are false." (Qur'an 29:2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And surely We shall try you with something of fear and hunger, and loss of wealth and lives and crops; but give glad tidings to the steadfast, who say, when a misfortune striketh them: Lo! we are Allah's and Lo! unto Him we are returning. Such are they on whom are blessings from their Lord, and mercy. Such are the rightly guided. (Qur'an 2:155-157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And so, he who shall have done an atom's weight of good, shall behold it. And he who shall have done an atom's weight of evil, shall behold it. (Qur'an 99:7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala perbuatan kejahatan yang mengakibatkan keburukan/evil sebagai akibat manusia  menyalahgunakan free will mereka, dilarang dengan tegas oleh Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He commands them what is right and forbids them what is wrong, he makes lawful the things that are wholesome and makes unlawful the things that are bad and lifts from them their burdens and the yokes that were upon them."(Qur'an 7:157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah does command you justness, goodness and liberality to the near ones and He does forbid you shameful deeds, impropriety and rebelliousness." (Qur'an 16:91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But seek, with the (wealth) which Allah has bestowed on you, the Home of the Hereafter, nor forget your portion in this world: but do thou good, as Allah has been good to you, and seek not (occasions for) mischief in the land: for Allah loves not those who do mischief. (Qur'an 28:77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And do not deprive people of what is rightfully theirs; and do not act wickedly on earth by spreading corruption. (Qur'an 26:183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengamati "keburukan" di alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang kita miliki berasal dari hasil observasi dan akal pikiran. Data dari observasi yang kita dapat melalui penggunaan panca indera diolah oleh akal kita sehingga menghasilkan pengetahuan. Tapi tidak jarang untuk mengenal suatu definisi itu, akal kita didesign untuk memproses definisi dari lawannya/its opposite. Misalnya bagaimana kita tahu manis kalau tidak ada pahit? Dari mana kita tahu sehat kalau tidak ada sakit? Begitu pula dari mana kita tahu kebaikan kalau tidak ada keburukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kita sebagai manusia menilai sesuatu yang terjadi di alam itu sebagai suatu yang buruk secara subyektif berdasarkan impactnya terhadap kehidupan kita. Misalnya, gunung meletus yang menghancurkan suatu desa. Dari sudut pandang orang2 di desa jelas meletusnya gunung ini adalah suatu yang buruk karena membawa negative impact buat kehidupan mereka (musnahnya perumahan, sawah  ladang, dll). Tapi dari kalau dilihat secara keseluruhan, bumi memang perlu mengeluarkan lahar melalui meletusnya gunung tsb dari dalam untuk menjaga kestabilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya, misalnya seekor singa yang mengejar dan memakan kerbau di padang sahara. Bagi observer mungkin kejam sekali kerbau itu diterkam dan dimakan singa. Tapi dari sudut pandang lain, ternyata hidup singa dan juga anak2nya sangat tergantung kepada kerbau itu sebagai makanan mereka. Kalau kita melihat dari sudut pandang ini, tampaknya semua evil/keburukan yang terjadi di alam ini ternyata tampak bersifat relatif saja, tergantung dari mana sudut memandangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hikmah di balik setiap "keburukan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta bebas untuk mencegah atau membiarkan suatu keburukan terjadi yang menimpa manusia dengan kehendak-Nya dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Setiap keputusan Allah itu (dicegah atau dibiarkan suatu event terjadi) selalu mengandung hikmah di baliknya, meskipun kita tidak selalu bisa mengetahuinya secara langsung ataupun pasti karena keterbatasan akal kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thy Lord brings to pass what He wills and chooses. They have never any choice. Glorified be Allah and exalted above all that they associate (with Him)!" (Qur'an 28:68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He will not be questioned as to that which He does, but they will be questioned." (Qur'an 21:23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang suatu kejadian dianggap buruk, tapi kemudian dianggap baik. Atau sebaliknya. Misalnya, para penumpang bis yang harus menunggu karena ban kempes di jalan mungkin pada awalnya menggerutu akan situasi tsb, tetapi setelah mereka mengetahui bahwa beberapa km di depan baru saja telah terjadi kecelakaan beruntun yang banyak memakan korban, mereka bersyukur karena selamat akibat kempesnya ban tadi karena kalau tidak mereka akan turut mengalami kecelakaan tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita tidak bisa melihat hikmah kebaikan di balik suatu kejadian, tapi ini tidak berarti tidak ada kebaikan sama sekali di sana. Allah mengizinkan sesuatu terjadi dengan izin-Nya karena Dia lebih mengetahui adanya "the greater good" di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But it may well be that you hate a thing the while it is good for you, and it may well be that you love a thing the while it is bad for you: and God knows, whereas you do not know.  (Qur'an 2:216)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you take a dislike to them, it may be that you dislike something and Allah will bring about through it a great deal of good. (4:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini tidak berarti bahwa kita mendiamkan atau tidak mengacuhkan setiap evil/keburukan yang disebabkan oleh kejahatan manusia yang dilakukan dengan sengaja dan niat yang buruk, dengan dalih bahwa pasti ada hikmahnya di baliknya. Tetapi Allah serta Rasul-Nya memerintahkan kita untuk merubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Do those who seek after evil ways think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous deeds,- that equal will be their life and their death? Ill is the judgment that they make." ( Qur'an 45:21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You are the best community ever brought forth for mankind (in that) you command the proper and forbid the wrong and believe in Allah." (Qur'an 3:110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Let there among you be a group that summon to all that is beneficial commands what is proper and forbids what is improper; they are the ones who will prosper." (3:104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The good deed and the evil deed are not alike. Repel the evil deed with one which is better, then certainly he, between whom and you there was enmity (will become) as though he was a bosom friend. But none is granted it except those who are steadfast, and none is granted it except the owner of great fortune. (Qur'an 41:34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Whoever sees something evil should change it with his hand. If he cannot, then with his tongue; and if he cannot do even that, then in his heart. That is the weakest degree of faith."  (HR.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the people see an evil and they do not change it, soon Allah will inflict them all with His punishment. (HR.Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dunia abadi bukan di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang kita jalani tidak hanya selesai di bumi ini. Hidup kita di dunia ini hanya temporary yang akan berlanjut ke akherat yang abadi dan hakiki. Orang2 yang meninggal karena peperangan, penyakit, kecelakaan, bencana alam di dunia, tidaklah menderita dan terbaur menjadi tanah, atau hilang begitu saja, tapi berlanjut hidup di akherat dunia setelah mati, di mana setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban dan diberikan ganjaran atas penggunaan free will mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We did not give any human being before you immortality. And if you die, will they then be immortal? Every self will taste death. We test you with both good and evil as a trial. And you will be returned to Us," (Qur'an 21:34-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He Who created death and life to test which of you is best in action. He is the Almighty, the Ever-Forgiving," (Surat al-Mulk: 2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Know that the life of this world is only play and amusement, pomp and mutual boasting among you, and rivalry in respect of wealth and children, as the likeness of vegetation after rain, thereof the growth is pleasing to the tiller; afterwards it dries up and you see it turning yellow; then it becomes straw. But in the Hereafter (there is) a severe torment, and (there is) Forgiveness from Allah and His good pleasure, whereas the life of this world is only a deceiving enjoyment." (Qur'an 57:20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak2 yang tidak berdosa dan orang2 shaleh yang meninggal karena dizhalimi atau tertimpa musibah di dunia ini akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik dari kebahagiaan mereka dapatkan di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"And say not of those who are slain in the way of Allah. "They are dead." Nay, they are living, though ye perceive (it) not." (Qur'an 2:154)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Think not of those who are slain in Allah's way as dead. Nay, they live, finding their sustenance in the presence of their Lord; They rejoice in the bounty provided by Allah. And with regard to those left behind, who have not yet joined them (in their bliss), the (martyrs) glory in the fact that on them is no fear, nor have they (cause to) grieve. (Qur'an 3:169-170)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW entered upon 'Ubadah ibn al-Samit when he was sick and said, "Do you know who is a shahid (martyr) in my ummah?" The people remained silent, then 'Ubadah said, "Help me to sit up." They helped him to sit up, then he said, "O Messenger of Allah, (is it) the patient one who seeks reward from Allah for his patience?" The Prophet SAW said, "(If that is the case) then the martyrs among my ummah would be very few. Being killed for the sake of Allah is martyrdom, the plague is martyrdom, drowning is martyrdom, stomach disease is martyrdom, and if a woman dies during the post-partum period, her child will drag her to Paradise by his umbilical cord." (HR. Muslim, Ahmad, Malik, Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-6722148771719088565?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/6722148771719088565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=6722148771719088565' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/6722148771719088565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/6722148771719088565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2012/02/konsep-evil.html' title='Konsep Evil'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-3073725719848262289</id><published>2009-07-09T17:15:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T17:16:09.446-07:00</updated><title type='text'>Menjawab keraguan terhadap otentisitas Qur'an</title><content type='html'>Assalamu'alaikum wr.wb.,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menanggapi tulisan mengenai sejarah Al Qur'an di bawah.&lt;br /&gt;Berikut ini response saya terhadap tanggapan tsb.&lt;br /&gt;Mudah2an bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Di kalangan kaum muslim awam, teks dan bacaan yang ada dewasa&lt;br /&gt;&gt; ini di dalam mushaf Alquran diyakini sebagai rekaman lengkap&lt;br /&gt;&gt; dan otentik wahyu-wahyu Nabi Muhammad yang dikodifikasi Zayd&lt;br /&gt;&gt; ibn Tsabit berdasarkan otoritas Khalifah Utsman ibn Affan.&lt;br /&gt;&gt; Pernyataan Alquran dalam 15:9, dipandang sebagai garansi ilahi&lt;br /&gt;&gt; atas kemurnian mushaf tersebut dari berbagai perubahan dan&lt;br /&gt;&gt; penyimpangan, bahkan --menurut suatu pendapat yang ahistoris--&lt;br /&gt;&gt; dalam titik serta barisnya.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat mengenai kemurnian kitab suci Al Qur'an ini tidak hanya&lt;br /&gt;di kalangan Muslim awam, tapi juga di kalangan scholars, Muslim&lt;br /&gt;maupun  non-Muslim. Meskipun dasar keimanan terhadap ini bisa&lt;br /&gt;dilihat dalam Qur'an 15:9, tetapi hal ini bisa dibuktikan melalui&lt;br /&gt;catatan2 sejarah dan argumen yang logis (i.e. presevation by&lt;br /&gt;memorization and the written text).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Tetapi, orang-orang yang mengetahui perjalanan historis Alquran&lt;br /&gt;&gt; menyadari bahwa keadaan sebenarnya tidaklah sesederhana itu.&lt;br /&gt;&gt; Fenomena kesejarahan Alquran yang awal justeru menunjukkan&lt;br /&gt;&gt; eksisnya keragaman tradisi teks dan bacaan kitab suci itu, yang&lt;br /&gt;&gt; kemudian menjadi alasan utama dilakukannya standardisasi&lt;br /&gt;&gt; Alquran oleh Utsman untuk kepentingan kohesi sosio-politik umat&lt;br /&gt;&gt; Islam. Uraian artikel anda di atas terlalu menyederhanakan&lt;br /&gt;&gt; proses penyusunan Al Quran yang super komplek. Penyederhanaan&lt;br /&gt;&gt; macam ini biasanya untuk menyembunyikan sesuatu agar tidak&lt;br /&gt;&gt; diketahui banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Al Qur'am bisa dibaca oleh semua, tidak ada yang perlu&lt;br /&gt;disembunyikan, dan tidak perlu juga dibuat2 seakan2 menjadi&lt;br /&gt;"kompleks" apalagi "super kompleks".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sahabat terpercaya yang ditugaskan Utsman untuk menyalin/&lt;br /&gt;mengcopy mushaf Qur'an yang sebelumnya dicompiled oleh Abu Bakar&lt;br /&gt;berdasarkan suhuf2 yg telah ditulis dan dihapal semasa Nabi SAW masih&lt;br /&gt;hidup untuk dijadikan standard mushaf yang disebarkan ke pelosok wilayah&lt;br /&gt;Islam. Utsman melakukan tugas ini untuk menghindari perpecahan di&lt;br /&gt;kalangan umat Islam di daerah2 baru di luar Arabia (Armenian dan&lt;br /&gt;Azerbijan). Bukan karena adanya keragaman tradisi text dan bacaan&lt;br /&gt;Qur'an (di luar yang diajarkan Nabi SAW).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Fakta yang terekam sejarah dan tidak pernah dibantah oleh&lt;br /&gt;&gt; siapapun adalah adanya ukuran yang dilakukan oleh zaid bin&lt;br /&gt;&gt; tsabit ketika ia menjawab permintaan Abu bakar untuk&lt;br /&gt;&gt; mengumpulkan Al quran&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; " Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami me­mindahkan&lt;br /&gt;&gt; sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari&lt;br /&gt;&gt; apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang."&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Mengumpulkan dan menyusun Al quran di ukur oleh Tsabit sebagai&lt;br /&gt;&gt; sesuatu pekerjaa yang lebih sulit dari memindahkan gunung&lt;br /&gt;&gt; raksasa.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Bisakah manusia memindahkan gunung raksasa ?.... Imposible&lt;br /&gt;&gt; bukan ?&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Jadi Pengumpulan pengumpulan dan penyusuan Al quran pada masa&lt;br /&gt;&gt; itu adalah very very Imposible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Zaid tsb jangan langsung diartikan literally, tapi&lt;br /&gt;merupakan ungkapan perasaan beliau yang overwhelming akan beratnya&lt;br /&gt;tugas tsb. Ini mengingat bahwa meskipun banyak para sahabat&lt;br /&gt;menghapal Al Qur'an semasa Nabi hidup, tapi mereka yang bisa&lt;br /&gt;menulis Al Qur'an dalam suhuf2 tidak sebanyak mereka yang&lt;br /&gt;menghapalkan. Seandainya ada satu mushaf saja di kalangan shahabat&lt;br /&gt;saat itu dan mushaf ini somehow hilang atau terbakar, Al Qur'an&lt;br /&gt;tidak hilang begitu saja dari kalangan mereka karena adanya&lt;br /&gt;tradisi kuat penghapalan ini. Usaha pengumpulan suhuf yang&lt;br /&gt;ditugaskan kepada Zaid ini bukanlah suatu yg impossible, buktinya&lt;br /&gt;Zaid akhirnya menerima tugas ini dan berhasil menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Kalau sekarang ada Al quran di tangan anda benarkan ia kitab&lt;br /&gt;&gt; yang lengkap ? benarkah ia kitab yang sempurna seperti yang&lt;br /&gt;&gt; dipropagandakan selama ini.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas benar. Historically and logically. Kalau seluruh mushaf Al Qur'an&lt;br /&gt;di dunia sekarang ini dibakar semuanya dan hilang dari muka bumi,&lt;br /&gt;umat Islam dengan mudah bisa menulis kembali mushaf2 yg sama&lt;br /&gt;dari hapalan2 mereka. Tradisi kuat penghapalan Al Qur'an ini turun&lt;br /&gt;temurun dari generasi ke generasi sejak dari zaman Nabi. Bahkan&lt;br /&gt;saat ini pun mungkin ada ratusan ribu orang di seluruh dunia yang&lt;br /&gt;menghapal Al Qur'an from cover to cover.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Sahabat, Sebenarnya literatur Sunni sendiri memperbincangkan&lt;br /&gt;&gt; berbagai riwayat yang menyebutkan sejumlah ayat telah hilang&lt;br /&gt;&gt; sebelum Alquran dihimpun atas inisiatif Abu Bakar. Pakar ilmu&lt;br /&gt;&gt; Alquran Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an meriwayatkan&lt;br /&gt;&gt; bahwa Umar pernah mencari-cari ayat Alquran yang ia lupa-lupa&lt;br /&gt;&gt; ingat. Umar menjadi sedih sekali, karena akhirnya ia menemukan&lt;br /&gt;&gt; orang yang mencatat ayat itu telah meninggal saat Perang&lt;br /&gt;&gt; Yamamah, dan akibatnya ayat itupun hilang (vol.I: 204). Umar&lt;br /&gt;&gt; juga ingat ayat-ayat lain yang ia pikir hilang dari Alquran,&lt;br /&gt;&gt; termasuk satu ayat tentang kewajiban terhadap orang tua dan&lt;br /&gt;&gt; satu lagi tentang jihad (vol.III: 84).&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Hal ini dibenarkan oleh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas,&lt;br /&gt;&gt; dan Ubay bin Ka'ab.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang perlu diingat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam 'ulumul Qur'an, dikenal adanya konsep "nasikh wa&lt;br /&gt;mansukh", di mana dikenal adanya ayat2 Qur'an yang dihapus qira'at&lt;br /&gt;atau bacaannya berdasarkan petunjuk Nabi SAW berdasarkan wahyu&lt;br /&gt;dari Allah SWT (2:106). Meskipun terdapat perbedaan pendapat di&lt;br /&gt;antara scholars mengenai detail hal ini, kita jumpai adanya&lt;br /&gt;catatan2 sejarah atau riwayat2 yang menyebutkan memang ada ayat2&lt;br /&gt;yg pernah diturunkan dan dihapalkan tapi kemudian dihapuskan dari&lt;br /&gt;ingatan dan bacaannya sehingga tidak dimasukkan ke dalam kumpulan&lt;br /&gt;suhuf Al Qur'an semasa Nabi hidup, dan ini berdasarkan petunjuk&lt;br /&gt;Nabi SAW sendiri. Jadi ayat2 tsb tidaklah hilang atau tidak ditemukan&lt;br /&gt;tulisannya begitu saja setelah Nabi wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Riwayat2 mengenai hal ini yang bisa ditemukan dalam kitab2&lt;br /&gt;ulumul qur'an atau masahif tidak semuanya bisa dipercaya begitu&lt;br /&gt;saja tanpa diverifikasi keshahihannya. Ini jelas2 menunjukkan&lt;br /&gt;keterbukaan, tidak ada riwayat2 yang disembunyikan oleh para ulama&lt;br /&gt;Islam dalam hal sejarah Al Qur'an. Mengenai hal ini one scholar&lt;br /&gt;Dr.G.F.Haddad, menulis:&lt;br /&gt;"Anything that comes only from kitab al-Masahif must be held in&lt;br /&gt;suspension until corroborated by an independent, reliable source&lt;br /&gt;or declared authentic by one of the competent authorities, or&lt;br /&gt;adduced by them".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, riwayat2 yg nyata2 shahih telah terang menyebutkan&lt;br /&gt;bahwa seluruh isi Qur'an telah dihapal dan ditulis semasa Nabi SAW&lt;br /&gt;hidup di bawah supervisi beliau sendiri. Apakah masuk akal kalau&lt;br /&gt;kita memilih mempercayai riwayat2 yg tidak shahih dan penuh&lt;br /&gt;keraguan dibanding riwayat2 yg shahih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Demikian juga dikemukakan Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar.&lt;br /&gt;&gt; Banyak keberatan juga ditujukan pada teks Alquran versi Usmani&lt;br /&gt;&gt; yang dibakukan hingga sekarang. Sejumlah riwayat menyebutkan,&lt;br /&gt;&gt; banyak sahabat terkemuka tidak menjumpai dalam teks resmi&lt;br /&gt;&gt; sejumlah ayat yang mereka sendiri dengar dari Nabi, atau&lt;br /&gt;&gt; menemukannya dalam bentuk berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat point 2 di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Ubay bin Ka'ab, misalnya,membaca surat al-Bayyinah dalam versi&lt;br /&gt;&gt; berbeda yang ia klaim didengarnya dari Nabi, termasuk dua ayat&lt;br /&gt;&gt; yang tidak tercatat dalam teks Usmani. Ia berkata, versi&lt;br /&gt;&gt; orisinal dari surat al-Ahzab lebih panjang; ia juga mengingat&lt;br /&gt;&gt; ayat rajam hilang dari teks Usmani. Hal ini didukung oleh Zaid&lt;br /&gt;&gt; bin Tsabit dan Aisyah (yang menyebutkan pada masa hidup Nabi&lt;br /&gt;&gt; surat tersebut tiga kali lebih panjang). Hudzaifah bin Yaman&lt;br /&gt;&gt; menemukan sekitar tujuh puluh ayat tidak tercantum dalam teks&lt;br /&gt;&gt; Usmani, ayat-ayat yang ia sendiri biasa membacanya pada masa&lt;br /&gt;&gt; hidup Nabi. Ia mengatakan, surat al-Bara'ah (ke-9) dalam teks&lt;br /&gt;&gt; Usmani hanya sepertiga atau seperempat dari apa yang ada pada&lt;br /&gt;&gt; masa Nabi.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Riwayat di atas tidak bersumber dari orientalis, melainkan&lt;br /&gt;&gt; kitab-kitab ulama terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat point 1 (nasikh mansukh) dan 2 (keshahihan riwayat2) di&lt;br /&gt;atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orientalist dan misionaris yang mengutip riwayat2&lt;br /&gt;yang disebutkan dalam kitab2 'Ulumul Qur'an maupun Masahif,seperti&lt;br /&gt;al-Itqannya Suyuthi dan al-Masahifnya Ibn Abi Dawud, tanpa analisa&lt;br /&gt;yang valid, konsisten, dan komprehensif (Dr.M.M.Azami dan&lt;br /&gt;Dr.M.Mohar Ali membeberkan contoh2 nyata mengenai hal ini dalam&lt;br /&gt;buku2 mereka - see the reference below). Padahal As-Suyuthi maupun&lt;br /&gt;Ibn Abu Dawud sendiri mengakui bahwa isi mushaf Utsman bin Affan&lt;br /&gt;adalah identik dengan apa yang diajarkan oleh Nabi SAW kepada para&lt;br /&gt;sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.M.M.Azami menulis:&lt;br /&gt;Even the author of al-Masahif himself, Ibn Abu Dawud, categorically denies&lt;br /&gt;the reliability of reports about the variant readings which clash with the&lt;br /&gt;‘Uthmanic text saying:&lt;br /&gt;"We do not submit that anyone should recite the Qur’an except what&lt;br /&gt;in Uthmanic mushaf. If anyone recites in his prayer against this&lt;br /&gt;mushaf, I will order him to re-do his prayer." (Al-Masahif, p.53-54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam bi shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Ridha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation,&lt;br /&gt;by Dr.M.Mustafa Al-Azami&lt;br /&gt;* The Qur’an and The Orientalists, by Dr.M.Mohar Ali&lt;br /&gt;* Variant Readings of the Qur’an, by Dr.Ahmad Ali al-Imam&lt;br /&gt;* Ulumul Qur’an, by Ahmad Von Deffer&lt;br /&gt;* Companion Memorizers Of Qur'an, Refutation Of False Claims Made&lt;br /&gt;By Christian Missionaries, by Dr.G.F.Haddad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-3073725719848262289?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/3073725719848262289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=3073725719848262289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/3073725719848262289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/3073725719848262289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2009/07/menjawab-keraguan-terhadap-otentisitas.html' title='Menjawab keraguan terhadap otentisitas Qur&apos;an'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-5632027587654219720</id><published>2007-08-13T03:18:00.000-07:00</published><updated>2007-08-13T04:06:56.678-07:00</updated><title type='text'>Tanggapan terhadap "Propaganda anti-Islam"</title><content type='html'>Mencoba menanggapi &lt;a href="http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=2672&amp;page=4"&gt;tanggapan&lt;/a&gt; terhadap &lt;a href="http://mridha.blogspot.com/2006/09/menganalisa-metode-propaganda-anti.html"&gt;tulisan ini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&gt; 1. propaganda apa yang dianggap menyudutkan Islam....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Propaganda mengandung arti penyebaran informasi dengan tujuan tertentu. Penyebaran informasi yang tidak benar mengenai Islam yang disebarkan oleh mereka yang anti-Islam atau Islamophobes biasanya mengandung tujuan2 yang berhubungan dengan kekuasaan (power), kekayaan (wealth), keyakinan/agama seperti missionaris, atau lainnya. Pointnya adalah penyebaran informasi tidak benar ini harus dicegah karena will cause harm and sufferings to many innocent Muslims as well as non-Muslims who are related to them. Tulisan tsb saya buat dengan tujuan untuk menunjukkan kesalahan2 propaganda anti-Islam ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;with the intention to foster cordial relationships between Muslims and non-Muslims, especially in this time of age where extremists, Muslims and non-Muslims alike, are trying their best to incite everyone to start the clash of civilizations.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&gt; 2. apakah propaganda itu memiliki dasar atau tidak.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jelas tidak ada dasarnya yang benar dalam ajaran Islam. Tulisan tsb dibuat untuk mengekspos fallacy yang mudah ditemukan dalam propaganda tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&gt; 3. apakah penindasan hak asasi manusia dan terorisme diajarkan dalam Islam.... kalo tidak, maka umat Islam sedunia harus mengutuk dengan keras aksi2 terorisme yang mengatasnamakan Islam dan bersama-sama mencari dan menyerahkan pelaku2 terorisme itu ke muka pengadilan yang fair ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Islam jelas tidak mengajarkan hal2 yang dituduhkan tsb. Umat Islam mengutuk tindakan terorisme terlepas siapa yang melakukannya Muslims ataupun non-Muslims. Overwhelming majority of Islamic organizations have condemned it tetapi media massa di dunia barat jarang ada yang mau meliputnya sehingga tidak jarang terlontar tuduhan tidak ada kutukan dari organisasi2 Islam. Mengapa ini bisa terjadi dan apa tujuan mereka menyembunyikan hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya heran mengapa anda menghubung2kan belum tertangkapnya seorang atau sekelompok kriminal dengan sikap mayoritas umat Islam yang jelas tidak setuju dengan tindakan kriminal tsb? Mengapa harus dibawa2 pastor dalam hal ini, apa hubungannya? Please jangan menggiring pembuatan konklusi yang salah dengan membuat2 opini yang tidak benar. Don't put words into other people's mouth. Strawman fallacy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&gt;  http://www.indonesia.faithfreedom.or...ic.php?t=14246&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak paham apa hubungannya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mubahalah &lt;/span&gt;dengan topik propaganda anti-Islam? Mubahalah adalah suatu bentuk komitmen yang diakui bersama oleh kedua pihak yang berdebat sehingga setiap pihak  diminta komitmennya untuk menghindari perbuatan tidak jujur atau berdusta secara SENGAJA. Saya tidak paham mengapa mesti takut dikutuk Tuhan kalau memang kedua pihak bersedia komitmen untuk berlaku jujur? Rasanya hanya orang2 yang memang ada niat tidak jujur yang takut untuk melakukan mubahalah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&gt;  http://www.indonesia.faithfreedom.or...ic.php?t=14469&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak paham apa hubungan ayat Qur'an yang melarang Nabi untuk tidak mencela tuhan2 sesembahan kaum musyrik dengan topik propaganda anti-Islam? Bukankah ini jelas menunjukkan sikap mutual respect yang diajarkan di dalam Qur'an meskipun terhadap orang2 musyrik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&gt; http://www.indonesia.faithfreedom.or...ic.php?t=15215&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks ayat 5:32 jelas dimulai dari ayat 5:27, yakni tentang sejarah pembunuhan pertama yang dilakukan oleh dua anak Adam. Ayat 5:33-34 menjelaskan konteks yang berbeda, yakni hukuman keras terhadap para pelaku kriminal berat (perampokan yang disertai pembunuhan atau pembantaian seperti yang bisa ditemukan dalam asbabun nuzul ayat tsb). Saya tidak melihat apa dasarnya ayat ini dihubung2kan dengan hukuman thd Yahudi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tentang tuduhan bahwa ayat 5:32 adalah plagiarism dari Mishnah Sahendrin juga tidak benar. Biasanya kelompok misionaris anti-Islam seperti Ibn Warraq and the likes, mengutip quotation dari Mishnah yang sudah diubah. Quotation yang benar dari Mishnah Sahendrin: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"he who destroys one human life OF ISRAEL, it is accounted to him BY SCRIPTURE as though he had destroyed a whole universe, and he who saves one human life OF ISRAEL, it is accounted to him BY SCRIPTURE as though he had preserved a whole universe"&lt;/span&gt;. Mengapa kata2 upper case dalam quotation di atas tidak dicantumkan? Karena jelas menunjukkan perbedaan antara ayat Qur'an dan Mishnah tsb. Lalu Mishnah yang satu ini jelas2 dalam Jewish Encyclopedia disebut berasal dari post abad ke-7 karena mencantumkan influence of Islam seperti pencantuman nama A'ishah, Khadijah and Fatimah. Lalu mengapa masih diulang2 saja tuduhan plagiarism ini oleh para anti-Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&gt; Kalo yang ini mohon dijawab dengan bukti2 yang kuat bahwa Muhammad tidak melakukan hal2 itu..... Abang mungkin bisa baca sendiri di FFI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Burden of proofs is upon those who bring the accusation. &lt;/span&gt;Mereka yang membawa tuduhan, mereka pula yang harus membawa bukti. Seperti yang saya sebut dalam tulisan yang dipost dalam awal thread ini tuduhan2 mereka terhadap Nabi tidak memiliki bukti serta mengandung banyak fallacy. Termasuk posting2 di FFI yang biasanya disertai kata2 dengan bumbu2 kebencian dan permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&gt; Jangan terlalu berlebihan Bang..... kalo "ajaran dasar agamanya" seperti ini gimana : http://www.indonesia.faithfreedom.or...ic.php?t=14268&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan di atas jelas mengandung kesalahan dalam pemahaman ayat2 Qur'an karena dilakukan dengan metode "cut and paste" di luar konteksnya ataupun "the big picture". Kalau ada orang yang men-"cut and paste" episode  dari sebuah movie yang panjang tentu kesimpulan para penonton bisa menjadi salah. Ini sudah disinggung dalam tulisan di awal thread ini. Mengenai tuduhan ayat2 toleransi diturunkan di saat ketika umat Islam masih lemah jelas salah. Ayat "la iqraha fiddin" 2:256, juga ayat 60:8 misalnya, yang mengajarkan tolerasi terhadap mereka yang tidak memusuhi jelas turun di Madinah di saat umat Islam memiliki upper hand terhadap pihak2 yang memusuhi mereka. Premise yang mereka gunakan terbukti salahnya. Dan premise yang salah bisa menghasilkan kesimpulan yang salah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&gt; Wajar ngga kalo dicurigai.... sebagai pembanding di Indonesia, umat Katolik n Kristen mengadakan ibadah di rumah (misa lingkungan, ibadat Rosario), dicurigai Kristenisasi, dilempari batu rumahnya, bahkan kadang2 dibubarkan dengan paksa, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propaganda yang menyebarkan informasi yang tidak jujur terhadap Islam jelas tidak bisa dibenarkan karena akan menyebabkan mayoritas umat Islam dicurigai dan dicap bersalah tanpa ada bukti. Apakah anda mau diperlakukan dengan treatment serupa hanya karena ada orang2 yang seagama dengan anda melakukan tindakan kriminal pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan yang tidak etis oleh sebagian kecil orang2 Islam terhadap orang2 Kristen dan Katolik di tanah air juga tidak bisa digeneralisasi bahwa perbuatan tsb diajarkan dalam Islam serta disetujui mayoritas umat Islam. Point ini pun telah disinggung dalam tulisan di awal thread ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah2an ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-5632027587654219720?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/5632027587654219720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=5632027587654219720' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/5632027587654219720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/5632027587654219720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2007/08/tanggapan-terhadap-propaganda-anti.html' title='Tanggapan terhadap &quot;Propaganda anti-Islam&quot;'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-603367126364518848</id><published>2007-05-26T11:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-10T10:02:52.473-07:00</updated><title type='text'>Mushaf Ustmani tidak lengkap?</title><content type='html'>Berikut ini sekilas diskusi mengenai mushaf Utsman bin 'Affan yang&lt;br /&gt;dianggap tidak lengkap oleh pendebat otentisitas Al Qur'an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Sahabat Nabi, Zaid ibn Tsabit ra, berkata,"Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;&gt; wafat sedangkan Al-Qur'an belum dibukukan"(Al-Itqan fi Ulumul&lt;br /&gt;&gt; Qur'an, Jalaluddin As-Suyuthi, Beirut, Dar Al-Fikr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan ayat Al Qur'an sudah ditulis dalam bentuk suhuf2,&lt;br /&gt;dan dihapal oleh para shahabat, selagi Nabi SAW masih hidup. Fakta&lt;br /&gt;ini banyak ditemukan dalam hadits2 shahih, salah satunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When surah 4 verse 95 of the Qur'an was revealed, the Prophet&lt;br /&gt;said: "Call Zaid for me, let him bring the board, the ink pot,&lt;br /&gt;and the scapula bones." Then he said: "Write: 'Not equal are&lt;br /&gt;those believers...' (4:95)&lt;br /&gt;[ref: Bukhari, VI, No.512; also VI, No.116-118]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Al-qur'an mulai dikumpulkan pada masa khalifah Abu Bakar ra&lt;br /&gt;&gt; berdasarkan hadist yg diriwayatkan Bukhari. Tentang gagasan&lt;br /&gt;&gt; pengumpulan Al-Qur'an atas kegelisahan Umar ra, karena banyaknya&lt;br /&gt;&gt; para pengahafal/hafidz yg gugur dalam pertempuran Yamamah.&lt;br /&gt;&gt; Pelaksana dari gagasan ini adalah Zaid Ibn Tsabit yg menerima tugas&lt;br /&gt;&gt; ini meskipun dgn "berat hati" karena dianggap sebagai tugas yg&lt;br /&gt;&gt; sulit (Bukhari, Bab Fadhail al-Qur'an, Beirut: Dar al-Fikr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits tsb jelas disebutkan keberatan Zaid dikarenakan&lt;br /&gt;kekhawatirannya melakukan sesuatu hal yang tidak dicontohkan oleh&lt;br /&gt;Rasulullah SAW. Ini bisa dibaca explisitly dalam text hadits Bukhari&lt;br /&gt;tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Berikut ini penjelasan ketidaklengkapan mushaf Ustmani.&lt;br /&gt;&gt; Ayat2 yg tidak didapati dalam mushaf Ustmani :&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Riwayat Aisyah ra : Pada zaman Nabi SAW, surat Al-Ahzab dibaca&lt;br /&gt;&gt; sebanyak 200 ayat. Maka tatkala Utsman menulis mushaf, kami tidak&lt;br /&gt;&gt; mendapatinya kecuali yg ada sekarang, (Al-Suyuthi, Al-Itqan...)&lt;br /&gt;&gt; ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dibahas oleh para ulama dalam topik Naskh dalam ulumul Qur'an.&lt;br /&gt;Naskhnya ayat2 Al Qur'an ini terjadi semasa Nabi masih hidup.&lt;br /&gt;Dalam hal naskh ini, riwayat2 yang diterima hanya riwayat2 yang&lt;br /&gt;shahih saja. Belum lagi, riwayat2 ini harus dianalisa maksud yang&lt;br /&gt;terkandung dalam matannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Nabi wafat, ayat2 Al Qur'an telah lengkap tertulis dan terekam&lt;br /&gt;dalam hapalan shahabat2 beliau. Semua ayat2 Al Qur'an lengkap yang&lt;br /&gt;dikumpulkan Nabi ini dibukukan oleh Abu Bakar, yang kemudian&lt;br /&gt;dipegang oleh Hafsa ketika Utsman bin 'Affan mengcopynya sebagai&lt;br /&gt;standard mushaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Beberapa hal yang menjadi "kontroversi" dalam mushaf Ustmani.&lt;br /&gt;&gt; Diantaranya : mengenai surat Mu'awwidzatain(al-Falaq dan An-Nas),&lt;br /&gt;&gt; Ibn Mas'ud mengatakan bahwa keduanya bukan termasuk Al-Qur'an,&lt;br /&gt;&gt; namun dimasukkan dlm mushaf Ustmani (Al-Suyuthi, Al-Itqan...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa diposting the &lt;i&gt;exact quotation&lt;/i&gt; riwayat ini dari Al-Itqan?&lt;br /&gt;Sepertinya Ibn Mas'ud cuma mengatakan bahwa kedua surat tsb tidak&lt;br /&gt;beliau cantumkan dalam mushaf beliau sendiri, tanpa menuduh bahwa&lt;br /&gt;Utsman menambah2kan surat dalam Al Qur'an. Ini terbukti semua&lt;br /&gt;shahabat Nabi SAW (termasuk Ibn Mas'ud) menerima mushaf Utsman&lt;br /&gt;ini sebagai mushaf standard umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Sebenarnya hal ini (ketidaklengkapan mushaf Utsmani) bukanlah hal&lt;br /&gt;&gt; yg "aneh" bagi ulama2 tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada statement dari ulama2 tafsir yang bilang mushaf Utsmani ini&lt;br /&gt;"tidak lengkap"? Apakah ada satu pun dari para shahabat Nabi SAW&lt;br /&gt;yang protes kepada Utsman bahwa mushaf beliau yang dicopy&lt;br /&gt;dari mushaf Hafsa adalah "tidak lengkap"? Banyak para shahabat&lt;br /&gt;yang masih hidup di zaman itu yang hapal Al Qur'an di luar kepala&lt;br /&gt;yang akan menunjukkan kesalahan2 kalau misalnya itu benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Justru ketika kita memang kurang informasi tentang hal inilah yg&lt;br /&gt;&gt; menyebabkan kita menjadi "keras hati". Disinilah mengapa sejak awal&lt;br /&gt;&gt; berdiskusi saya selalu menekankan, kritis dan telitilah dalam&lt;br /&gt;&gt; menanggapi, berargumen maupun "mendebat" terhadap suatu&lt;br /&gt;&gt; masalah/kasus, yaa seperti check &amp; re-check lah... :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang tidak diquote secara komprehensif dan out of context&lt;br /&gt;bisa menghasilkan pemahaman yang salah. Apalagi kalau dipengaruhi&lt;br /&gt;preconceived ideas dan sikap tergesa2 dalam mengambil kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt; Satu hal lagi, kita hidup di dunia fana dimana tidak ada sesuatu yg&lt;br /&gt;&gt; mutlak benar maupun shahih, karena yg mutlak benar itu adalah&lt;br /&gt;&gt; Allah SWT, selain Dia semua relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa Al-Haqq (kebenaran absolute) itu hanya pada Allah semata.&lt;br /&gt;Lalu dari mana kita sebagai manusia tahu benar dan salah dalam hidup ini?&lt;br /&gt;Allah Sang Pencipta telah menurunkan wahyuNya kepada kita, Al Qur'an,&lt;br /&gt;sebagai Al-Furqan, pembeda mana yang benar dan mana yang salah.&lt;br /&gt;Kalau kita bilang Al Qur'an wahyu Allah ini isinya serba relatif, buat apa lagi&lt;br /&gt;diturunkan wahyu pada awalnya? Tidak bisa kita salahkan orang yg berbuat&lt;br /&gt;kejahatan dengan alasan semuanya serba relatif. Kalau demikian halnya, tidak ada lagi gunanya Al Qur'an. Kita  kembali lagi ke square one, berenang di tengah2 samudra keraguan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam bi shawab...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Ridha&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-603367126364518848?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/603367126364518848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=603367126364518848' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/603367126364518848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/603367126364518848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2007/05/mushaf-ustmani-bukan-mushaf-al-quran-yg.html' title='Mushaf Ustmani tidak lengkap?'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-7064455085255980878</id><published>2007-05-25T08:16:00.000-07:00</published><updated>2007-05-25T10:37:19.861-07:00</updated><title type='text'>Ringkasan kronologis pembukuan Al Qur'an</title><content type='html'>Sebagai Muslim kita meyakini bahwa Al Qur'an yang kita miliki saat ini adalah sama dengan yang dibaca Nabi SAW serta para shahabat beliau. Apa buktinya bahwa Al Qur'an tidak pernah berubah isinya dan tidak terjadi penambahan, pengurangan atau perubahan ayat2nya seperti halnya dengan kitab2 sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat2 Al Qur'an selain ditulis semasa Nabi SAW masih hidup juga dihapal oleh banyak shahabat beliau. Selepas Nabi SAW wafat, khalifah Abu Bakar (ra) memerintahkan Zaid bin Tsabit (ra) untuk mengcopy dan mengumpulkan suhuf2 berdasarkan hapalan seluruh isi Al Qur'an, untuk dibukukan dalam satu kitab. Di zaman khalifah Utsman bin 'Affan (ra) beliau memerintahkan Zaid kembali bersama2 shahabat2 lainnya untuk mereproduksi/mengcopy exactly mushaf yang disusun oleh Abu Bakr sebelumnya, dan dijadikan standard mushaf untuk didistribusikan ke wilayah2 baru Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua metode yang digunakan Nabi SAW dan para shahabat beliau dalam menjaga kemurnian isi Al Qur'an:&lt;br /&gt;1) memorization (penghapalan),&lt;br /&gt;2) written manuscripts (manuskrip tertulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini data2 yang bisa didapat dari catatan2 hadits dan sirah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nabi SAW menganjurkan penghapalan dan menyuruh penulisan Qur'an semasa ia hidup (Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nabi SAW regularly meminta para shahabat melafazhkan Al Qur'an yang dihapalnya di hadapan beliau (Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nabi mengirimkan utusan untuk mengajarkan Al Qur'an (Ibnu Hisyam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Nabi memerintahkan pembacaan ayat2 Al Qur'an dalam shalat dan menganjurkan tadarrus Al Qur'an dalam setiap keluarga Muslim, especially pada bulan Ramadhan. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Selepas Nabi SAW wafat, ketika 70 orang penghapal Al Qur'an gugur dalam perang, karena khawatir tidak adanya official WRITTEN copy of mushaf, Abu Bakar sebagai khalifah memerintahkan pengumpulan suhuf2 (written manuscripts - kertas, pelepah, dlsb), tempat ayat2 Al Qur'an ditulis untuk membentuk official written copy of the mushaf. Para shahabat Nabi SAW ada yang literate (bisa tulis baca) dan ada yang illiterate tapi semua menghapal the whole Qur'an. Yang literate memiliki kumpulan suhuf pribadi mereka. Abu Bakr memerintahkan Zaid bin Tsabit melakukan tugas ini. Zaid mengumpulkan suhuf2 yang didukung oleh memorization para shahabat at least 2 orang yang hapal Al Qur'an sebagai saksinya. Official mushaf pertama Al Qur'an pun terbentuk. (Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setelah Abu Bakr wafat, mushaf ini dipegang oleh Umar. Setelah Umar wafat, putrinya Hafsa yang memegang mushaf. Tidak ada satu pun historical records yang menginformasikan adanya DISPUTE atau PROTEST dari para shahabat terhadap keshahihan mushaf ini. Mushaf ini tidak disebarkan ke segenap penjuru wilayah kekhalifan Islam karena mainly para shahabat yang menyebarkan Islam menghapal seluruh Al Qur'an dan sebagian dari mereka memiliki suhuf pribadi. (Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Di zaman Utsman sebagai Khalifah, Islam sudah menyebar luas di mana berbagai macam dialek exist. Ketika dalam military journey ke Armenia dan Azerbijan, terdapat dan terdapat perselisihan bacaan yang benar dalam Al Qur'an di kalangan orang2 Islam. Untuk menghindari perselisihan ini, Utsman meminjam mushaf dari Hafsa dan memerintahkan satu team yang diketuai Zaid bin Tsabit untuk MENGCOPY mushaf Hafsa ini exactly the same content. Kemudian Utsman mengirim mushaf copyan ini ke seluruh wilayah Islam. (Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman tidak membuat ulang mushaf, tapi hanya mengcopy mushaf yang sudah dikumpulkan oleh Abu Bakr. Distribusi standard copy mushaf ini diterima di semua wilayah Islam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"The wide distribution of the standard text and its UNDISPUTED&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;authority can also be deduced from the reports on the battle of Siffin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(AH 37), 27 years after the death of the Prophet, and 5 years after&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Uthman's copies were distributed, Mu'awiyah's troops fixed sheets&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;from Qur'an on their spears to interupt the battle. However nobody&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;accused anyone else of using a 'partisan' version of the text, which&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;would have made a splendid accusation against the enemy." &lt;/span&gt;(Ulumul&lt;br /&gt;Qur'an, Von Denffer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meyakinkan public bahwa tidak ada perbedaan antara mushaf yang dikumpulkan Utsman ini dengan standard mushaf Hafsa, mushaf2 lainnya dibakar di depan public. Yang menyaksikan event tsb adalah para shahabat Nabi SAW yang hidup bersama di zaman Nabi termasuk para penghapal Al Qur'an. Tidak ada yang protes terhadap hal tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zaid is reported to have said, "I saw the companions of Muhammad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(going about) saying, "By Allah, Uthman has done well! By Allah,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Uthman has done well!"&lt;/span&gt; (Nisaburi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibn Abi Dawud records Musab ibn Sad ibn Abi Waqqas to have&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;testified: "I saw the people assemble in large number at Uthman's&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;burning of the proscribed copies; not a one spoke out against him."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ali commented, "If I were in command in place of Uthman, I would have&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;done the same." &lt;/span&gt;(Zarkashi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendebat otentisitas Qur'an sering membawa argument bahwa Abdullah bin Mas'ud keberatan dan INITIALLY tidak mau memberikan mushafnya kepada Utsman. Mereka seharusnya menyadari bahwa ini terjadi karena mushaf tsb dimilikinya sejak beliau mendapat pengajaran Al Qur'an dari Nabi SAW masih hidup dan terdapatnya personal notes yang ditulisnya sebagai penjelasan terhadap ayat2 Al Qur'an, yang bukan merupakan ayat2 Al Qur'an itu sendiri. Jelas saja pada awal mulanya beliau tidak mau menyerahkan personal mushafnya ini untuk dibakar. Di samping itu beliau merasa berhak untuk ikut dalam komite yang dipimpin Zaid yang lebih junior dari beliau dari segi umur. Berikut ini pengakuan orientalis Arthur Jeffrey sendiri terhadap tindakan Ibn Mas'ud tsb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...As for 'Abdullah's initial objection to hand over his codex&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to 'Uthman, and his anger of assigning the compilation of the codices&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to Zayd rather than him to the extent that 'Uthman said: "Who can&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;make 'Abdullah excuse me? He is angry at me as I didn't put him in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;charge of copying the Qur'an. Why didn't he complain of Abu Bakr&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;and 'Umar since they are the ones who put Zayd in charge?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It was also narrated in that report that the Companions didn't&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;approve Ibn Mas'ud when he said: "How can I be isolated from the&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Codices [i.e. from their copy] while I received 70 surahs from the&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prophet and Zayd was still a kid playing with kids. It was also&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;narrated that 'Abdullah eventually agreed with 'Uthman and approved&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the opinion of the community and regretted his previous sayings and&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;was ashamed from them. Indeed Abu Waael narrated that report and&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ended with: " 'Abdullah was ashamed of his attitude and said 'I am&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;not the best among them' " and he stepped down the mimbar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ref: Arthur Jeffery, Muqaddimatan Fi 'Ulum al-Qur'an&lt;br /&gt;(Two Muqaddimas To The Qur'anic Sciences), 1954, Makhtabat al-Khanji,&lt;br /&gt;pg. 94-95.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendebat otentisitas Al Qur'an biasanya sering mengutip dari bukunya Jeffrey ini tapi tidak pernah mengutip bagian di atas. Objectivitas mereka dalam hal ini dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah2an bermanfaat bagi yang membutuhkan informasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;References:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahmad Von Denffer: Ulumul Qur'an, Islamic Foundation, 1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Abdur Rafay Ahmad &amp;amp; Mohd Elfie Nieshaem Juferi:&lt;br /&gt;What is the Degree of the Authenticity of the Qur'an Historically?&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.answering-christianity.com/quran/quran_textual-reply.html"&gt;http://www.answering-christianity.com/quran/quran_textual-reply.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Islamic Awareness' The Qur'anic Manuscripts &lt;a href="http://www.islamic-awareness.org/Quran/Text/Mss/"&gt;http://www.islamic-awareness.org/Quran/Text/Mss/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dr.G.F.Haddad:&lt;br /&gt;Sayyidina `Uthman's Preservation of Qur'an&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sunnah.org/history/Sahaba/Sayyidina_Uthmans_preservation_Quran.htm"&gt;http://www.sunnah.org/history/Sahaba/Sayyidina_Uthmans_preservation_Quran.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-7064455085255980878?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/7064455085255980878/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=7064455085255980878' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/7064455085255980878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/7064455085255980878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2007/05/sejarah-singkat-kronologis-pembukuan-al.html' title='Ringkasan kronologis pembukuan Al Qur&apos;an'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-117535921985954472</id><published>2007-03-31T10:39:00.000-07:00</published><updated>2007-05-25T08:14:30.733-07:00</updated><title type='text'>Sekilas mengenai da'wah di Amerika</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya" (Al Qur'an 5:67)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah, kepada Heraclius, kaisar Romawi. Salam kepada mereka yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya saya mengajak anda untuk memeluk Islam agar anda selamat (surat Nabi kepada Kaisar Heraclius - HR.Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah artikel yang pernah saya baca yang mengatakan bahwa kita yang sudah Islam ini tidak perlulah bersusah2 mengajak orang untuk memeluk Islam seperti halnya para misionaris Kristen yang mengajak orang memeluk Kristen. Dikatakan dalam artikel tsb bahwa di dalam Islam tidak ada paksaan dalam beragama, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;la ikraha fiddin&lt;/span&gt;", "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lakum dinukum wa liyadin&lt;/span&gt;". Meskipun dasar2 nash yang dipakai dalam artikel ini benar adanya, tetapi artikel tsb mengandung "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;half-truth&lt;/span&gt;" atau "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;partial information&lt;/span&gt;" karena penulisnya tidak memasukkan nash2 yang lain yang menganjurkan adanya da'wah kepada mereka yang belum memeluk Islam yang banyak ditemui dalam Al Qur'an, termasuk dalam sejarah perjalanan da'wah yang ditempuh Nabi SAW, seperti salah satu surat beliau yang dikutip di atas. Karena penggunaan basis argumentnya hanya partial, kesimpulan yang diambil penulis artikel tsb bisa salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Benar, dalam Islam diakui kebebasan beragama. Tetapi ini tidak berarti di dalam Islam tidak dikenal adanya da'wah, mengajak orang kepada Islam. Nabi SAW sejak diutusnya sampai beliau wafat selalu mengajak orang2 untuk memeluk Islam selain mengajarkan ajaran2 Islam kepada mereka yang telah memeluknya. Sejak dari kaumnya (Quraisy), sampai ke pelosok2 daerah di luar jazirah Arab (Romawi dan Persia). Bahkan para sahabat Nabi SAW ada yang sampai melakukan perjalanan da'wah ke negeri-negeri yang jauh seperti Cina. Ini menunjukkan bukti bahwa da'wah kepada non-Muslim merupakan salah satu bagian integral da'wah di dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya pernah dikunjungi oleh beberapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brothers &lt;/span&gt;dari Jama'ah Tabligh. Setelah mendengarkan tausiyah mereka, saya bertanya mengapa da'wah tablighi ini tidak dikembangkan kepada da'wah kepada non-Muslim dengan mengunjungi rumah2 mereka dan menyampaikan informasi yang benar mengenai Islam sehingga bisa meluruskan kesalahan persepsi yang dimiliki banyak orang. Salah seorang brother menjawab bahwa prioritas da'wah mereka ditujukan untuk Muslim dahulu, baru setelah orang2 Islam dibenahi aqidah dan akhlaq mereka, da'wah tsb akan diarahkan kepada non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya lagi mengapa prioritasnya demikian, bukankah kita semua tahu bahwa saat ini image Islam digambarkan buruk oleh banyak media begitu pula oleh mereka yang anti-Islam, serta ajaran2nya banyak tidak diketahui atau bahkan disalahpahami oleh orang2 awam. Bukankah da'wah kepada mereka ini sangat dibutuhkan bukan hanya untuk kepentingan umat Islam di Amerika maupun negara2 lainnya (karena dampak foreign policy negara ini) tetapi juga kepentingan umat2 agama lain di pelosok dunia (yang berinteraksi dengan umat Islam), sehingga layak mendapatkan prioritas? Tidak ada jawaban memuaskan yang saya dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah di Amerika kini ada organisasi2 yang begitu aktif melakukan da'wah secara continue dan konsisten (seperti CAIR, ISNA, ICNA, dll) tetapi usaha mereka ini perlu disupport oleh Muslim community di tingkat lokaliti (local masjids/Islamic-centers/organizations). Bagus bila setiap lokaliti memiliki satu organisasi da'wah atau sub-unitnya yang dikhususkan menangani masalah da'wah terhadap non-Muslim ini yang bisa mencakup hal2 seperti:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menyediakan informasi mengenai Islam - misalnya rukun Islam, rukun Iman, dll.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meluruskan salah paham (misconceptions) terhadap Islam - misalnya salah paham "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muslims worship their Prophet&lt;/span&gt;".&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjawab tuduhan2 (accusations) terhadap Islam - misalnya tuduhan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muhammad is an evil robber and a pedofile&lt;/span&gt;", "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam teaches terrorism&lt;/span&gt;", etc.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pengalaman saya di beberapa lokaliti, ketika ada kunjungan" dari tetangga non-Muslim, para pelajar atau mahasiswa ke masjid, biasanya kita tidak memiliki orang2 yang memang dikhususkan untuk menangani audience ini. Kadang2 pertanyaan2 yang dilontarkan dijawab berlainan oleh beberapa brothers atau sisters yang tidak memiliki pengetahuan yang ditanyakan. Atau malah menjawab dengan jawaban yang terkesan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"apologetics" &lt;/span&gt;tapi tidak berbasiskan sejarah yang benar. Misalnya ketika ada yang bertanya mengapa Nabinya umat Islam menikah dengan 'Aisyah yang masih tergolong minor (dalam standard modern), ada yang menjawab bahwa cerita itu tidak ada dasarnya (padahal jelas2 disebutkan dalam hadits2 shahih Bukhari, dllnya). Pengetahuan2 dalam menjawab hal2 seperti ini perlu dikuasai oleh mereka yang memang dikhususkan atau spesialisasi menangani urusan da'wah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang sehari2 berhadapan dengan orang2 non-Muslim di kampus, kantor, groceries store, mall, dlsb, tentunya ingin menyampaikan informasi mengenai agama kita kepada mereka, apalagi di saat di mana berita2 di media massa ramai membicarakan Islam dan Muslim. Tetapi tentunya kita tidak ingin terlihat "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pushy&lt;/span&gt;" atau pun "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;preachy&lt;/span&gt;" karena selain attitude macam ini menimbulkan sikap tidak simpatik, tetapi juga tidak mengikuti etika da'wah yang diajarkan Islam untuk mengambil cara yang bijaksana/hikmah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan   cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qur'an 16:125)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya metodologi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"da'wah bil hikmah wa mauizhatil hasanah"&lt;/span&gt; ini perlu kita pelajari dan pahami. Kita perlu mengetahui  cara2 apa saja dalam mengapproach audience yang akan kita da'wahkan. Da'wah di dalam Islam tidak menghalalkan segala cara termasuk menghalalkan penipuan, pengancaman, atau pemaksaan/pemerasaan, yang bisa kita jumpai dalam da'wah sebagian misionaris maupun kelompok extremis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita amati, bermacam2 tipe orang Amerika dari segi keyakinan hidupnya. Ada yang religious, ada yang atheist, ada yang agnostic, ada yang hedonist, dan lain sebagainya.  Mereka yang tergolong religious, kebanyakan dari kalangan yang taat menjalankan agama Kristennya. Mereka benar-benar menjaga kepribadian dan kelakuannya berdasarkan ajaran kitab suci mereka. Di lingkungan kampus, organisasi kalangan ini aktif dalam mengadakan acara-acara studi mengenai Bible, ceramah-ceramah umum, memberikan bantuan dana dan tenaga kepada bencana-bencana alam dan kelaparan, dan lainnya. Kebanyakan dari mereka ramah dalam pergaulan, tapi tidak sedikit juga yang benar-benar fanatik dan dengan mudahnya mengutuk orang-orang yang berlainan keyakinan dengannya kata-kata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;you will go to hell&lt;/span&gt;" atau "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;you will get eternal damnation&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari mereka dahulunya bergaya hidup serba hura-hura dan hedonist, dan akhirnya bertaubat dan menjadi "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;born again&lt;/span&gt;" (seorang yang lahir kembali dengan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;holy spirit&lt;/span&gt;"/ruhul kudus sebagai pembimbing hidupnya). Tapi sayangnya mereka sangat ekstrim dan "taklid" buta dengan ajaran-ajaran Bible, sehingga tidak sedikit yang membuat interpretasi seenaknya terhadap ayat-ayat kitab sucinya. Tetapi di kalangan mereka juga bisa kita jumpai orang2 yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sincere &lt;/span&gt;dan baik hati terhadap mereka yang lain iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contohnya saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman semasa kuliah dahulu. Suatu hari selepas kuliah sewaktu melintasi taman rumput kampus, saya berhenti mengayuh karena melihat seorang pemuda, yang tengah berdiri di tengah-tengah taman, berkhutbah di sekitar mahasiswa-mahasiswi yang tengah tidur2an sembari membaca2 buku pelajaran. Saya tertarik mendengar khutbah yang dibawakannya. Setelah memarkir sepeda, saya duduk di bawah sebatang pohon rindang hendak mendengarkan khutbahnya sambil berpura2 membaca buku. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You have to serve God with all your heart! You shall not make for ourself an idol beside God! Have you replaced God with the things of this world? Have you lived for sex, drugs, or music? For wealth, power or pleasure? Is an education or career more important to you than serving God? If you care more about any one of these things than God you are committing idolatry!&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saja, saya kaget mendengar khutbah sang pemuda saat itu. Kata2nya serupa dengan ajaran tauhid dalam Islam. Ada beberapa orang pelajar yang kemudian menimpali khutbah sang pemuda sambil mengolok-oloknya. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hey, shut up, will you! There is no God! He does not exist! Ask your God, if He exists, to come here, to solve all the problems we have now! Ask Him to help the Bosnians, ask Him to stop the hunger of people in Africa, or elsewhere! Ask Him to stop killing people with AIDS virus!"&lt;/span&gt;  Sang pemuda seperti terkena berondongan peluru oleh olok-olokan orang-orang di sekitarnya, kembali mencoba membuka-buka Bible yang dibawanya dan membaca beberapa ayat dari dalamnya. Beberapa saat kemudian ia "sujud" sebagaimana sujudnya orang-orang Islam dalam shalat. Saya kembali terkejut melihat tingkahnya yang termasuk "aneh" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya merasa kesal dan kasihan mendengar tertawaan mereka terhadap pemuda itu. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa dan hanya diam di sana. Ketika tatapan saya berpas-pasan dengan tatapannya, mungkin karena melihat ada seseorang yang tertarik akan khutbahnya, tanpa saya duga ia datang menghampiri tempat saya duduk. Dengan ramah ia menyapa dan duduk di sebelah saya. Ia menanyakan nama saya. Setelah saya jawab, tampaknya ia kaget.  Dia bertanya, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Are you Moslem?&lt;/span&gt;" Saya jawab, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yes, I am a Muslim.&lt;/span&gt;" Dia bertanya lagi "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Do you worship Mohammed?&lt;/span&gt;" Saya terkejut mendengar pertanyaannya. Ia menyangka Muslim menyembah Nabi Muhammad SAW. Saya mencoba menjawab pertanyaannya. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;No, we do not worship him. We worship Allah Almighty&lt;/span&gt;." Dia bertanya lagi "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allah? Is that the name for one of gods of Arabs&lt;/span&gt;?" Saya kembali terkejut. Dia menyangka nama "Allah" merupakan salah satu nama dewanya orang Arab. Setelah saya jawab bahwa Allah itu bukan nama dewa orang Arab karena orang Kristen dan Yahudi Arab pun menyebut "Allah" sebagai Tuhan mereka, ia pun mulai mengajak diskusi mengenai konsep dosa dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menjelaskan hal tsb kepada Veso, nama missionaris tsb, tiba2 ada beberapa orang temannya yang datang dan duduk bersama kami. Salah seorang dari mereka bertanya apakah saya tahu mengenai keajaiban Bible yang ia pegang saat itu. Saya bilang saya tidak tahu. Dia pun mulai menjelaskan bahwa semua peristiwa di dunia yang terjadi saat ini sudah diprediksi di dalam Bible, termasuk perang dunia, runtuhnya Russia, dlsb. Lalu saya tanya kalau begitu Nabi Muhammad, Nabinya umat Islam yang jumlahnya milyaran jiwa, yang mengajarkan penghormatan tinggi terhadap Jesus dan ibunya, tentu telah diprediksi di dalamnya. Sang pemuda terlihat "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;taken by surprise&lt;/span&gt;", dan mengatakan tidak ada: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nowhere in the Bible you can find a verse about your Prophet!&lt;/span&gt;". Lalu saya jawab lho bukankah tadi dikatakan semua big event di dunia telah diprediksi di Bible? Salah seorang lainnya dari mereka berkata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh yes, your Prophet is mentioned in the Bible. He is the Anti-Christ!&lt;/span&gt;". Veso terdiam terlihat merasa tidak enak dengan tingkah laku teman2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha menjawab dengan tenang (menahan emosi yang agak naik juga sebenarnya), "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anti-Christ? Our Prophet told us too about the coming of the Anti-Christ (Dajjal) near the end of days. This Anti-Christ will be killed by Jesus Christ when he returns in his second coming&lt;/span&gt;." Pemuda tadi terlihat surprise, mungkin baru tahu bahwa di dalam Islam dikenal adanya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anti-Christ&lt;/span&gt;" dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the second coming of Jesus&lt;/span&gt;". Saya lanjutkan bercerita bahwa ketika Nabi Isa datang dia akan mematahkan salib (simbol penyaliban, yang diartikan beliau akan mengingkari dirinya disalib) dan membunuh babi (ada yang mengartikan "babi" di sini merefer ke "Dajjal/Anti-Christ", ada pula yang mengartikan Jesus akan mengingkari pernah menghalalkan babi untuk dimakan). Wajah kelima orang pemuda-pemudi misionaris, termasuk si Veso, yang duduk mengelilingi saya terlihat begitu curious karena belum pernah mengetahui hal ini ada dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tiba2 seorang pemuda dari mereka bangkit dan sambil berkata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I curse Islam in the name of Jesus!&lt;/span&gt;". Lalu ia pun pergi meninggalkan kami yang hanya bisa melongo melihat tingkahnya. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Don't worry about him&lt;/span&gt;." kata Veso berusaha menenangkan situasi. Lalu kami pun berjabat tangan dan berpisah dengan saling berterima kasih telah sharing informasi. Saya tidak berharap banyak dari perjumpaan itu tapi hati saya merasa bersyukur diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk memberikan informasi kepada mereka mengenai Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan agnostic dan atheist biasanya tidak menghiraukan masalah keagamaan. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I do not care, God exists or not, Hell and Paradise exist or not&lt;/span&gt;." Mereka sama sekali tidak tertarik dengan salah satu agama dunia. Bagi mereka, agama adalah candu yang mengekang pengikutnya dari kemajuan zaman. Mereka lebih tertarik dalam dunia ilmu pengetahuan yang nyata dapat dirasakan manfaatnya. Banyak dari mereka yang dinilai berhasil dalam studinya di universitas. Meskipun mereka mengklaim tidak beragama, banyak adri mereka yang masih menjaga etika norma dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi penghalang mereka dari agama biasanya banyaknya pertanyaan mereka yang tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari konsep ketuhanan agama. Contohnya: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Why God creates us?", "Why God creates evil?", "Why God sends people to hell?&lt;/span&gt;" Tidak sedikit dari mereka yang lari dari agama orangtua mereka karena banyak dari ajaran2nya yang didapat tidak masuk akal mereka (atau tidak bisa diterima oleh feeling mereka).  Ada juga yang lari karena sikap munafik dan tidak simpatik dari penganut2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan hedonist menganut keyakinan bahwa selama hidup di dunia ini, kita harus menikmati semaksimal mungkin kenikmatan-kenikmatan yang ada. Mereka biasanya berasal dari golongankaya dan berkecukupan. Mereka umumnya masih memegang keimanan/agama mereka, tetapi ada pula yang telah membuang imannya. Bagi yang beragama, agama bagi mereka hanya sebagai penghibur hati di kala sedih. Ketika kesenangan datang, agama mereka lempar jauh-jauh. Saya melihat sendiri semasa kuliah dulu banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang menolak menerima pembagian cuma-cuma Bible oleh penyebarnya di pelataran kampus, bahkan beberapa orang melemparnya ke tong sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam da'wah diperlukan keahlian dalam mengapproach audience da'wah, dalam hal memahami kadar akal/logika mereka, keahlian bahasa mereka, dan kedudukan/tradisi mereka. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dia menerangkan kepada mereka." (Ibrahim: 4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang saya amati ada beberapa level pengetahuan dan attitude dari orang2 non-Muslim yang menjadi audience da'wah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Orang2 yang jujur benar2 ingin mendapatkan informasi mengenai Islam. Orang2 pada level ini biasanya banyak tidak tahu tentang Islam, bahkan banyak ajaran2 dasarnya (rukun Islam, rukun Iman, kitab dan Nabinya, dll) tidak diketahui mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang2 yang jujur benar2 ingin mendapatkan penjelasan dari pertanyaan2 mengenai Islam yang membingungkan mereka yang bisa jadi didapat dari media. Biasanya orang2 pada level ini tahu secara garis besar ajaran dan dasar2 Islam saja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang2 yang merasa sudah tahu mengenai Islam dan ajaran2nya (meskipun sumber yang salah) dan yakin akan keburukan Islam serta senang melakukan perdebatan dengan orang2 Islam untuk meyakinkan mereka akan keburukan agama mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang2 yang merasa yakin bahwa mereka sudah tahu mengenai Islam dan seluruh ajarannya (meskipun dari sumber yang salah) dan yakin akan keburukan serta bahayanya sehingga melakukan segala cara untuk menyebarkan tuduhan2 negatif terhadap Islam di publik dan media massa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan sikap dari non-Muslim ini disinggung di dalam Al Qur'an dengan reference ke Ahli Kitab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh." (Qur'an 3:114-115)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya." (Qur'an 3:199)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara berdiskusi/beradu-argumentasi/berdebat dengan kelompok2 yang berbeda2 ini? Allah SWT mengisyaratkan dalam Qur'an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada   kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri". (Qur'an 29:46)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sirah Nabi bisa kita dapati insiden di mana Nabi SAW didatangi kunjungan sekitar 60 delegasi dari Najran yang beragama Nasrani yang kemudian terjadi perdebatan/adu argumentasi di antara mereka. Mereka diterima Nabi di masjid Nabawi. Ketika Nabi mengajak mereka masuk Islam, mereka berkilah "Kami sudah Islam". Nabi menjawab "Kalian belum Islam karena kalian menyembah salib, menghalalkan daging babi, dan mengangkat Nabi Isa sebagai anak Allah". Mereka menjawab "Kalau bukan Allah, siapa lagi ayahnya?" Terjadi tanya jawab antara Nabi dan para delegasi tentang sifat2 Nabi Isa yang berbeda dengan sifat2 Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Nabi secara logika telah menang dalam debat ini, tetapi para delegasi tetap bersikukuh akan keyakinan mereka, sampai Allah SWT menurunkan ayat mengenai mubahalah (doa bersama memohon Allah untuk menurunkan kutukan terhadap orang yang berbohong sehingga terlihat oleh kedua pihak siapa yang benar2 berbohong). Nabi SAW mengajak putri dan menantu beliau (Fatimah dan Ali bin Abi Thalib),  serta cucu2 beliau (Hasan dan Husain) untuk diajak bermubahalah dengan delegasi Najran ini tapi kemudian para delegasi tidak berani karena takut kalau memang Muhammad itu benar2 Nabi, seluruh keluarga mereka akan terkena dampak kutukannya. Akhirnya mereka berdamai (dengan tetap memeluk agama mereka) dan berjanji setia kepada Nabi SAW &lt;span style="font-style: italic;"&gt;as part of the community&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa dalam berdiskusi semua pihak harus menyadari akan kemungkinan dicapainya suatu point dimana semua pihak harus "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;agree to disagree&lt;/span&gt;". Allah SWT mengisyaratkan dalam Al Qur'an agar dalam hal ini kita harus mengedepankan persamaan keyakinan (common ideas/beliefs), bukannya masalah perbedaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Qur'an 3:64)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini pun diquote Nabi SAW dalam surat beliau kepada kaisar Romawi, Heraclius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Ahmad Sakr pernah bercerita bahwa ada satu Muslim community di suatu kota di Amerika yang ingin membeli sebuah gereja untuk dijadikan Islamic center dan school. Karena harganya yang tinggi mereka berusaha menawar harga tetapi tidak berhasil. Beberapa hari kemudian ada beberapa Christian Nuns yang datang ke masjid dan bertanya tentang Jesus in Islam. Ketika dijelaskan dan ditunjukkan ayat2 mengenai Nabi Isa dan ibunya di dalam Al Qur'an, para Nuns ini merasa terharu, dan berjanji akan membicarakan harga penjualan gereja dengan pihak gereja supaya bisa diturunkan harganya. Mereka berkata "kami merasa lebih lega bila bisa menjual gedung gereja itu kepada pihak Muslim yang masih menyembah Tuhan serta menghormati Jesus dan ibunya daripada kepada orang2 sekuler yang tidak menghormati Tuhan dan Jesus sama sekali." Akhirnya gedung gereja itu pun dijual dengan harga yang jauh lebih murah dari harga yang ditawar oleh pihak Muslim. Ini contoh orang2 non-Muslim yang jujur seperti nomor 1 di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da'wah harus jelas fokus tujuannya (sharing information, correct misconceptions, etc), dan target audiencenya. Ada baiknya kalau tujuan yang ingin dicapai dibuat kecil scopenya supaya tidak terlalu besar agar bisa tercapai. Bagus lagi kalau ada planning jangka panjang dan jangka pendeknya. Seperti dalam jangka pendek yang ingin dicapai:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membuat brosur atau pamflet berisikan jawaban terhadap pertanyaan2 yang biasa dilontarkan oleh non-Muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat basic kit buat brothers and sisters yang baru masuk Islam (new converts/reverts) - seperti cara2 ibadah, shalat, contact persons in community, etc. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat pengajian buat new converts ini supaya mereka merasa di-welcome dalam Muslim community yang biasanya lebih dekat dengan orang2 dari negara2 asal mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat paket presentasi buat the schools and the libraries in the community.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dlsb.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Terakhir yang amat penting dalam hal da'wah kepada non-Muslim adalah da'wah bil hal (da'wah dengan tingkah laku). Tingkah laku kita menjadi buku mengenai "Islam" atau "Muslim" yang dibaca oleh orang2 di sekitar kita. Perkataan yang tidak seragam dengan tingkah laku menimbulkan kesan munafik dan ini merupakan sikap yang tidak simpatik. Kita tentunya tidak ingin dicap munafik oleh manusia apalagi oleh Allah SWT. Na'udzubillah min dzalik.  Sikap seperti ini jelas diperingatkan oleh Allah SWT dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Qur'an 61:2-3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Nabi SAW banyak kita lihat contoh2 suri teladan beliau dalam melakukan amalan2 yang beliau da'wahkan. Bahkan istri beliau berkata bahwa beliau adalah "Qur'an yang berjalan", maksudnya semua ajaran2 Qur'an beliau amalkan (tidak hanya mengajarkannya kepada orang lain tapi juga mempraktekkannya sendiri).  Pernah suatu hari di saat Nabi SAW dan para sahabat beliau berada di masjid, masuk seorang Badui ke dalam masjid dan kencing di dalamnya. Beberapa sahabat ada yang berusaha mengusirnya, tetapi Nabi melarang dan berkata "Biarkan ia selesaikan hajatnya". Badui ini kagum akan tindakan Nabi yang bijaksana sehingga mengangkat tangannya dan berdoa "Ya Allah, berilah rahmat kepadaku dan kepada Muhammad, dan jangan yang lainnya". Nabi pun berkata padanya "Jangan kamu menyempitkan sesuatu yang sangat luas (rahmat Allah)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman kekhalifan Ali (RA), Ali pernah kehilangan perisai beliau dan beliau mendapatinya dibawa oleh seorang Ahli Kitab (Yahudi). Khalifah Ali (RA) melaporkan kasus ini dan membawanya ke pengadilan. Di pengadilan, sang hakim bertanya apakah Khalifah memiliki bukti bahwa perisai itu milikinya. Ali (RA) menjawab ia tidak memiliki bukti apa2. Akhirnya pengadilan memenangkan si Ahli Kitab dalam kasus ini. Belum jauh ia berjalan keluar dari ruang pengadilan, ia berbalik berjalan menuju Ali (RA) dan berkata: "Sungguh, kejadian seperti ini tertulis dalam Hukum-hukum para Nabi di Taurat. Seorang Khalifah yang berkuasa kalah dalam pengadilan di kekhalifahannya yang dipimpin oleh hakim dalam kekhalifahannya pula. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad itu utusan Allah. Wahai Khalifah, perisai ini adalah milikmu. Aku mendapatinya di tengah padang dalam peperangan Shiffin." Ali (RA) yang merasa terharu akan pengakuan orang tadi menjawab "Ambillah, sekarang perisai itu menjadi milikmu." ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-117535921985954472?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/117535921985954472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=117535921985954472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/117535921985954472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/117535921985954472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2007/03/sekilas-mengenai-dawah-di-amerika.html' title='Sekilas mengenai da&apos;wah di Amerika'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-115739310354720769</id><published>2006-09-04T11:00:00.001-07:00</published><updated>2007-03-31T11:25:59.516-07:00</updated><title type='text'>Menganalisa metode propaganda anti Islam</title><content type='html'>&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemelut politik dunia akhir-akhir ini, Islam disudutkan sebagai agama yang mengajarkan terorisme dan penindas hak asasi manusia. Tidak sedikit kita jumpai pandangan-pandangan anti-Islam yang dipropagandakan untuk memperburuk &lt;i&gt;image&lt;/i&gt; agama besar dunia yang penganutnya lebih dari satu miliar manusia ini. &lt;/span&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Angin propaganda bertiup keras lewat buku-buku anti-Islam seperti &lt;i&gt;Islam and Terrorism&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Islamic Invasion&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Myth of Islamic Tolerance&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Islam Unveiled&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Prophet of Doom&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Why I am Not a Muslim&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Apostates Speak Out&lt;/i&gt;. Juga banyak artikel atau tulisan di internet yang berisikan pandangan serupa, yang mudah diakses dan dibaca di seluruh dunia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Walaupun dikemas dengan gaya berbeda, pandangan-pandangan anti-Islam ini bernada sama: Islam dianalogikan dengan 'virus' yang bisa membuat orang normal menjadi ekstrem dan berbahaya. Alquran dipandang sebagai buku yang meracuni pemikiran manusia menjadi terbelakang, tidak toleran, serta penuh kebencian dan permusuhan terhadap semua orang yang berbeda agama. &lt;/span&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Nabi Muhammad SAW, tokoh utama yang dijadikan idola setiap Muslim, yang namanya dibaca dalam doa di setiap shalat, digambarkan sebagai seorang yang buruk perangainya, seorang perampok dan pembunuh kejam, seorang poligamis yang merendahkan derajat wanita, juga seorang pedofil karena menikahi anak di bawah usia. Umat Islam dipandang rendah standar moralnya karena dianggap sama sekali tidak menghargai nyawa manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Propaganda anti-Islam ini tidak hanya mempengaruhi kalangan awam, tetapi juga para tokoh agama dan politik di negara-negara non-Muslim. Akibatnya, tidak jarang keluar komentar buruk atau kebijaksanaan yang dirasa tidak adil terhadap orang-orang Islam di sana. Ketika komentar para tokoh ini diliput media nasional dan mendapat perhatian banyak orang, &lt;i&gt;image&lt;/i&gt; Islam dan umatnya menjadi bertambah buruk di mata publik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Umat Islam yang menjalankan ajaran dasar agamanya tidak jarang dipandang sebagai seorang ekstremis dan cikal bakal teroris yang harus selalu diwaspadai dan dicurigai sebagai seorang yang bersalah. Seakan-akan motto keadilan &lt;i&gt;innocent until proven guilty&lt;/i&gt; tidak berlaku buat orang Islam. Yang terjadi malah sebaliknya: &lt;i&gt;guilty until proven innocent&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Pandangan publik yang buruk ini membuat sebagian orang Islam yang hidup di negara-negara non-Muslim merasa malu menunjukkan identitas keislaman mereka. Sayangnya, di tengah situasi seperti ini, sedikit sekali dapat kita jumpai tanggapan para ulama Islam terhadap propaganda anti-Islam ini. Bilapun ada, tanggapan mereka jarang yang dipublikasikan di negara-negara non-Muslim. Padahal sangat diperlukan untuk mengubah persepsi yang salah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Metode anti-Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan singkat ini dibuat untuk mengekspose metode-metode yang biasa digunakan kalangan anti-Islam dalam menyebarkan propaganda mereka, dan peran apa yang bisa dilakukan oleh umat Islam dalam menghadapi tantangan ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Metode pertama yang sering dijumpai adalah penggunaan informasi dari sumber-sumber yang tidak jelas dasarnya. Misalnya, banyak dari kalangan anti-Islam mengutip pernyataan dari kalangan orientalis maupun ulama Islam yang langsung dijadikan premis yang dianggap valid untuk mendukung tuduhan mereka tanpa dijelaskan dasar-dasar argumentasinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Contohnya, untuk menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal toleransi beragama untuk menafikan ayat-ayat Al Qur'an tentang toleransi (seperti &lt;i&gt;laa ikraha fiddin&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;lakum dinukum wa liyadin&lt;/i&gt;) mereka mengutip pendapat beberapa ulama Muslim yang mengatakan ''ayat-ayat toleransi'' sudah di &lt;i&gt;nasakh&lt;/i&gt; (dibatalkan hukumnya) dengan ''ayat-ayat pedang (perang)''.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Seharusnya mereka menyadari bahwa pendapat siapapun mengenai Islam sekalipun dikeluarkan oleh mereka yang berstatus ulama argumentasinya harus berdasarkan sumber-sumber yang diakui, yakni Alquran dan Hadits shahih Nabi SAW. Apalagi, ini berhubungan dengan &lt;i&gt;nasikh&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;mansukh&lt;/i&gt; yang jelas harus ada keterangan langsung dari Nabi SAW. Tanpa ada dasar-dasar ini, pernyataan ulama hanya bisa diakui sebagai pendapat atau interpretasi pribadi, yang mungkin saja dikeluarkan dalam konteks dan situasi tertentu di zamannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Metode kedua adalah penggunaan sumber-sumber sejarah yang tidak &lt;i&gt;reliable&lt;/i&gt; atau tidak terjamin otentisitasnya. Untuk menghujat Nabi SAW, kalangan anti-Islam biasanya mengutip kisah yang bisa ditemui di dalam kitab-kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sirah &lt;/span&gt;Nabi dan &lt;i&gt;tarikh&lt;/i&gt; Islam, seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Sa'ad, dan Thabari, tanpa mempedulikan status kesahihan riwayat kisah tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Seharusnya mereka mengetahui bahwa kitab-kitab ini berbeda dengan kitab-kitab Hadits yang bisa dijumpai rantai periwayatannya dari informasi yang dicatat, sehingga bisa diteliti status keshahihannya. Imam Thabari sendiri menjelaskan dalam &lt;i&gt;muqaddimah&lt;/i&gt; kitab &lt;i&gt;tarikh&lt;/i&gt;-nya bahwa ia memasukkan semua berita yang didengarnya tanpa menyaring kembali kesahihan periwayatannya. Sayangnya, penjelasan beliau sebagaimana penjelasan ahli-ahli sejarah Islam lainnya tidak dipedulikan oleh kalangan anti-Islam ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Metode ketiga adalah penggunaan informasi yang parsial, tidak utuh, yang dijelaskan &lt;i&gt;out of context&lt;/i&gt;, meskipun dari sumber-sumber yang sahih. Karena tidak mengandung informasi yang menunjukkan konteks dan fakta yang benar, kutipan-kutipan yang parsial cenderung menyebabkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Ini bisa kita lihat ketika mereka mengutip potongan kisah-kisah kehidupan Nabi SAW yang diseleksi untuk menghujat beliau. Seharusnya mereka menyadari bahwa membaca perjalanan hidup Nabi serupa dengan menonton film kolosal berseri. Menonton hanya sepotong episode tidak akan membuat kita tahu jalan cerita yang sebenarnya. Bahkan, pihak yang benar bisa dianggap sebagai penjahat, sedang para penjahat bisa dianggap berada pada pihak yang benar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Contoh lain misalnya pengutipan ayat-ayat perang dalam Alquran tanpa menjelaskan konteks diturunkannya, atau &lt;i&gt;asbabun-nuzul&lt;/i&gt;-nya. Ayat 9:5 dikutip tanpa ayat 1-15 dalam surah yang sama, atau tidak dikutipnya ayat lain yang menjelaskan dua konteks yang berbeda, misalnya ayat 60:8-9. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Contoh lainnya dapat dilihat ketika tidak dikutipnya ayat-ayat Alquran, Hadits Nabi ataupun kisah-kisah dalam &lt;i&gt;sirah&lt;/i&gt;, yang menggambarkan kemuliaan ajaran Islam atau sifat-sifat agung dan tanda-tanda kerasulan Nabi SAW. Padahal, semua ini sama-sama ada dalam kitab-kitab yang mereka gunakan untuk menghujat 'keburukan moral' Islam dan Nabi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Metode keempat adalah penggunaan standar ganda atau standard berbeda dalam menghujat Islam dan Nabi. Standard ganda biasanya digunakan oleh kalangan anti-Islam dari golongan Kristen fundamentalis. Contohnya Nabi SAW dituduh nabi palsu dengan alasan beliau melakukan peperangan dan beristri banyak. Padahal, dalam kitab suci mereka sendiri didapati kisah para Nabi yang berperang dan yang memiliki banyak istri. Standar yang berbeda sering juga digunakan kalangan anti-Islam. Contohnya ketika Nabi dituduh sebagai pedofil karena menikahi Aisyah yang masih kecil berdasarkan standar modern yang tidak dikenal pada zaman kontemporer beliau. Tradisi ini tidak mendapatkan satu pun kecaman terutama dari musuh-musuh beliau saat itu yang selalu berusaha mencari kesalahan untuk dihujat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;br /&gt;Metode kelima adalah pengaburan sejarah Islam. Islam dituduh sebagai sumber keterbelakangan dan kemunduran. Padahal jelas sejarah menunjukkan kemajuan peradaban Islam jauh sebelum majunya peradaban di Barat. Islam dituduh pula sebagai penyebab sikap tidak toleran terhadap mereka yang berbeda agama. Padahal sejarah jelas menunjukkan bahwa umat Islam dapat hidup berdampingan dengan umat lainnya sejak zaman Nabi SAW di Madinah. Sejarah juga menunjukkan bahwa ketika dilancarkan &lt;i&gt;inquisition&lt;/i&gt; di Spanyol pada abad pertengahan, berbondong-bondong orang Yahudi lari keluar Spanyol dan diberikan perlindungan di dalam kekhalifahan Islam. Ini menunjukkan anti-Semit tidak dikenal di dalam Islam seperti yang sering dituduhkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Metode keenam adalah penggunaan generalisasi. Ini biasanya dikaitkan dengan peristiwa kekerasan ataupun terorisme yang terjadi dalam pergolakan politik dunia Islam. Perbuatan sekelompok kecil orang Islam yang menyimpang dari ajaran Islam dinilai mewakili semua orang Islam, atau diidentikkan dengan ajarannya dan contoh dari Nabinya. Seharusnya mereka sadar bahwa menilai suatu agama tidak bisa dilihat dari perbuatan pemeluknya, tapi dilihat dari ajaran agama tersebut. Meskipun terorisme jelas dilarang dalam Islam dan mayoritas umat Islam mengutuknya, kalangan anti Islam tetap menyebarkan propaganda mereka bahwa Islam dan Muslim mendukung terorisme. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Peran ulama&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Menghadapi tantangan merebaknya propaganda anti-Islam, para ulama sangat diharapkan berperan aktif dalam menjawab tuduhan-tuduhan tersebut dengan informasi dan argumentasi yang benar dan jelas. Jawaban para ulama hendaknya jangan hanya dipublikasikan di negara-negara Muslim, tetapi juga di negara-negara non-Muslim dalam bahasa mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Selain ulama, pemerintah diharapkan pula dapat berperan aktif dengan usaha-usaha diplomasi serta mampu menunjukkan ketegasan sikap terhadap pihak-pihak yang mengobarkan kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan umatnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Terakhir, tanpa mengecilkan perannya, umat Islam diharapkan untuk menuntut ilmu Islam secara benar dan utuh, serta tetap menunjukkan sikap kritis terhadap usaha-usaha penyebaran propaganda anti-Islam dengan berpegang teguh pada nilai-nilai mulia Islam yang &lt;i&gt;rahmatan lil 'alamin&lt;/i&gt;. Kita semua menyadari bahwa dakwah yang paling efektif adalah &lt;i&gt;da'wah bil-hal&lt;/i&gt;, sebagaimana dicontohkan oleh junjungan kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW. &lt;i&gt;Wallahu a'lam&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-115739310354720769?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/115739310354720769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=115739310354720769' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/115739310354720769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/115739310354720769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2006/09/menganalisa-metode-propaganda-anti.html' title='Menganalisa metode propaganda anti Islam'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-112063323771149752</id><published>2005-07-05T23:41:00.000-07:00</published><updated>2007-03-31T12:44:35.066-07:00</updated><title type='text'>Conflict management buat umat</title><content type='html'>Terus terang saja, saya memiliki trauma mengenai unity dalam umat ini. Sudah banyak saya lihat perdebatan sengit di masjid, sampai menuju ke perkelahian fisik sesama Muslims, hanya karena diakibatkan perbedaan pendapat terhadap suatu hal yang sepele. Dalam rapat MSA (Muslim Students' Association), masjid committee members, bahkan dalam acara ceramah mingguan di dalam masjid, sempat pernah terjadi konflik macam ini. Sedihnya lagi, ada beberapa Muslim yang baru mencoba aktif di masjid, menjadi malas ke masjid kecuali untuk shalat Jum'at, karena perasaan was2 terjadinya conflict.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru dari sebuah local Muslim community. Belum lagi dari segi nasional, internasional. Banyak sudah orang mengumandangkan perlu ukhuwah Islamiyah, tapi tidak sedikit dari mereka malah membuat kotak2 baru di umat ini. Antara berbagai organisasi Islam tidak jarang konflik2 terjadi antara sesama Muslim akibat perbedaan visi, background dan metode2 da'wah yang tidak jarang membuat sekat2 pembatas, padahal masing2 mempunyai tujuan sama, yakni menjunjung tinggi kalimat Ilahi. Teringat selalu peristiwa masa lalu dalam sejarah perjalanan umat Islam, peristiwa pecahnya perang antara Ali dan Mu'awiyah, yang sama2 merasa berdiri di atas kebenaran, begitu pula sepeninggal mereka, antara Sunni dan Syi'ah, antara NU dan Muhammadiyah, dlsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang diberikan akal dengan kapasitasnya masing2 oleh Allah SWT memiliki latar belakang yang berbeda2 sehingga normal saja bila manusia yang satu berbeda pendapat dengan manusia lainnya terhadap hal yang sama. Beda pendapat biasanya dilihat sebagai suatu hal yang negatif oleh banyak orang, padahal bisa menjadi hal yang positif apabila dengannya terbuka pandangan dan menjadi luasnya wawasan masing2 pihak. Perbedaan pendapat ini kalau tidak bisa di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;manage &lt;/span&gt;atau di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;handle &lt;/span&gt;dengan baik akan menyebabkan konflik di antara pihak2 yang berbeda pendapat. Dan pada umumnya konflik bersifat merugikan kalau membuat perpecahan atau permusuhan antara pihak2 yang mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja orang2 Islam memahami bagaimana caranya me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;manage &lt;/span&gt;perbedaan pendapat&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;yang terjadi antara mereka tentunya konflik bisa dihindari sehingga tidak akan terjadi perpecahan bahkan perseteruan yang tajam antara sesama Muslim. Sayangnya, jarang sekali setahu saya di masjid2, sekolah2, organisasi2 Islam, kita dengar adanya materi2, workshop, atau seminar2 yang membahas bagaimana cara mengatasi konflik ini. Adanya guidelines atau petunjuk secara terstruktur cara keluar masalah ini sangatlah bermanfaat buat umat Islam yang kini tengah tidak bersatu akibat berbagai konflik (termasuk konflik antar pribadi/personal, ataupun antar jamaah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini contoh beberapa guidelines dalam menyelesaikan konflik dengan cara syura, musyawarah, yang saya dapat dari berbagai sumber:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kumpulkan fakta yang benar, hindarkan hearsays/gossips/rumors,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersikap objective dan sabar, tidak subjective dan emosional,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hindari titik2 ekstrim yang bisa membuat lebih parah conflict,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Coba lihat dari kedua pihak perspective (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;put yourself in other people shoes&lt;/span&gt;) untuk memahami perasaan pihak lain,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mau mengakui kebenaran atau argument pihak lain bila bisa diterima secara objective, dan mengakui kesalahan serta mengkoreksinya bila memang demikian setelah didiskusikan masalahnya,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rendah hati dan tetap menjaga akhlaq karimah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Dr.Iqbal Unus dari ISNA (Islamic Society of North America) pernah menulis suatu artikel mengenai cara mengatasi conflict dengan metode SALAM:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stating the conflicting view,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;greeing the conflict exist, without making any judgment,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;L&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;istening for and learning the difference,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Advising one another, recognizing that the advisor is not always right, accepting the standard Al Qur'an and the authentic Sunnah,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Minimizing areas of disagreement that could lead to aggression or withdrawal &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Semua ini bisa disimpulkan dalam 3 metode:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Shura (musyawarah), &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Naseeha (saling menasehati), &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Ta'awun (saling kerja sama membangun/cooperation).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mungkin dengan mengajarkan materi seperti ini di dalam acara training dan seminar2 Islam dapat meminimize dampak negatif dari konflik yang telah ada atau bahkan dapat menghilangkannya dari umat? Sehingga persatuan yang selalu diimpikan dan didambakan menjadi realitas...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-112063323771149752?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/112063323771149752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=112063323771149752' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112063323771149752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112063323771149752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2005/07/conflict-management-buat-umat.html' title='Conflict management buat umat'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-112054287214305937</id><published>2005-07-04T22:37:00.000-07:00</published><updated>2007-03-31T12:44:10.116-07:00</updated><title type='text'>Mengapa memilih Islam?</title><content type='html'>Muslim yang hidup di negara2 yang mayoritas penduduknya non-Muslim sering berhadapan dengan berbagai pertanyaan dari mereka, baik yang ingin tahu tentang Islam, atau memang sengaja melontarkan hujatan2, terutama akhir-akhir ini di mana Islam sering diidentikan dengan ajaran terorisme. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Are you not somewhat embarrassed to profess such a religion that is filled with hate and has its history smeared with blood?&lt;/span&gt;” tanya seorang teman semasa kuliah. Seorang teman lain berkomentar ketika menonton berita di televisi: “Look at this news, Muslims are killing innocent people again!!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat membaca artikel-artikel di surat kabar, majalah, internet, mendengar dan melihat talk show di radio dan televisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Islam = a path to destruction and violence",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Islam = uncivilized = chopping off hands, heads",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Islam = harem = slavery = barbaric",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Muslims = lazy people = idiots = fanatics",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Muslims = terrorists = lunatics = killers",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Muslims eager to invade and conquer non-Muslims",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Muslims fight and kill everyone who disagree with them",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Islam = Satan's deception!",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Islam brings Hell on Earth!", etc.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang bertanya: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where is the 'good fruit' of this 'good tree'? Where is the peaceful society you are always talking about? Are you guys not allowed to live and enjoy a good peaceful life in this world? Are they just fancy talkings and fantasy in writings?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua di atas tidak ada yang baru. Pertanyaan2 yang pernah saya dengar lebih dari 10 tahun yang lalu kini saya dengar kembali. Anehnya akhir2 ini, tidak sedikit orang2 Islam yang membiarkan saja pertanyaan2 di atas tanpa ada usaha kembali menjawab secara seksama dan bijaksana. Lambat laun bukan hanya non-Muslim yang melontarkan pertanyaan macam ini tapi juga generasi muda Muslim yang sehari2nya berinteraksi dengan mereka di negara2 non-Muslim. Melihat kenyataan di depan mata yang ditambahi komentar2 negatif tentang Islam, lambat laun mereka akan berhadapan dengan dilema dan kebimbangan, apa benar Islam ini dari Tuhan? Ataukah benar seperti yang dituduhkan, Islam ini sebenarnya tipuan setan? Tidak mustahil, seorang yang tadinya tampak "extrim" dalam berIslam, bisa berubah 180 derajat, menjadi "extrim" berada di luar Islam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Muslim kita percaya bahwa Islam sebagai agama yang benar yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Mengapa kita percaya Islam benar? Apa dasarnya? "Bukankah ajarannya banyak yang tidak masuk akal dan membuat sengsara banyak orang?" tanya seorang non-Muslim lagi. Pada situasi saat ini, di mana kejadian terorisme di berbagai belahan bumi dituduhkan atas nama Islam, tidak sedikit Muslim yang merasa malu dan bimbang akan kebenaran ajaran agamanya. Adalah merupakan kewajiban setiap Muslim untuk paham dan yakin akan kebenaran iman dalam hatinya, dengan dasar yang solid, tidak dengan dasar yang goyah yang mudah rubuh ditiup berbagai “angin” pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa anda memilih Islam daripada Kristen atau Hare Krisna? Mengapa anda memilih Al Qur'an daripada Bible atau BhagavadGita? Karena analisa pemikiran akal anda sendiri, atau karena mengikuti hati nurani atau perasaan dalam hati? Seorang yang percaya pada kura-kura raksasa yang membawa bumi di punggungnya atau percaya kepada para dewa beranak pinak yang menjelma menjadi raja-raja di bumi, bisa saja merasa imannya membawa ketentraman hatinya, tapi apakah ini berarti iman yang dipercayai benar adanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencari kebenaran dalam hidup, manusia menggunakan seperangkat panca indera untuk mengamati objek yang ditelitinya, serta menggunakan akal untuk memproses hasil pengamatannya ini. Ketika menganalisa mana agama yang benar, kita menggunakan kedua sarana yang telah diberikan Tuhan ini (Qur’an 17:36). Sungguh merugi orang yang mendasari keimanannya dengan terka2 atau khayalan semata karena masalah keimanan ini berhubungan dengan hidup kita di dunia dan apa yang terjadi setelah mati. Islam mengajarkan kita agar jangan mengikuti terka-terka terutama dalam masalah keimanan (Qur’an 10:36, 53:28, 12:108). Tentunya, setelah kita mencari dan menemukan kebenaran agama yang berasal dari Tuhan, akal kita tunduk kepada Tuhan Sang Pencipta akal itu sendiri. Kita yakin akan kebenaran wahyu sebagai informasi dari-Nya, tidak lagi mendebat atau meragukannya, karena kita akan kembali ke pencarian awal semula. Wahyu inilah yang memberikan cahaya terang kepada penggunaan akal kita (Qur'an 22:8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya ada enam alasan dasar yang biasa saya ajukan ketika ditanya non-Muslim mengapa saya memilih Islam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Authentic: Kemurnian kitab suci dan sumber ajarannya.&lt;br /&gt;2. Rational: Dasar ajarannya berdasarkan akal sehat.&lt;br /&gt;3. Moral: Ajarannya mengenai kebaikan dan keadilan.&lt;br /&gt;4. Functional: Ajarannya berfungsi dan bermanfaat.&lt;br /&gt;5. Universal: Ajarannya untuk setiap bangsa dan zaman.&lt;br /&gt;6. Miraculous: Mu'jizat ayat2 kitab sucinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan yang berhubungan dengan  alasan2 dasar di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Kalau terbukti sumber2 Islam (Al Qur'an dan Hadits) tidak murni atau otentik, berarti Islam bukan agama yang benar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu agama yang mendasarkan keyakinan dan ajarannya pada suatu kitab yang tidak jelas asal-usul dan kemurniannya, tidak akan saya anggap sebagai agama yang benar. Apa bedanya agama tsb dengan ajaran filsafat manusia seperti Plato, Socrates, Confucius, dlsb? Yang menjadi pokok ajarannya adalah ide filsafat itu semata, tidak peduli dari mana ide itu berasal, dari Tuhankah atau dari akal manusia. Bagi mereka yang menginginkan agama dari Tuhan tentunya asal usul agama sangat penting untuk diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mengklaim isi Al Qur'an tetap murni, tidak pernah berubah sejak zaman Nabi hingga kini. Begitu pula hadits yang bisa diverifikasi kemurniannya dari generasi ke generasi. Tapi apa dasarnya yang bisa kita berikan kepada non-Muslim yang mempertanyakan klaim ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemurnian Al Qur’an bisa dibuktikan melalui adanya catatan-catatan historis berupa manuskrip2 kuno, serta riwayat2 dalam banyak kitab sirah dan hadits yang ditulis melalui rantai periwayatan sejak masa hidup Nabi dan para shahabat beliau, yang bisa dicheck alurnya dari orang ke orang, ditambah dengan adanya tradisi penghapalan seluruh isi Qur’an dalam setiap generasi sejak zaman Nabi yang dijaga melalui bacaan setiap shalat, khatam tadarusan setiap bulan khususnya Ramadhan, dan program penghapalan di sekolah-sekolah Islam, sehingga sampai sekarang pun masih bisa dijumpai banyak orang yang menghapalnya di luar kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada suatu agama yang mengklaim memiliki kitab suci dari Tuhan yang mengajarkan ajaran kebaikan tapi sumber2 ajarannya sudah tidak jelas sejarahnya, apalagi terbukti tidak murni lagi isinya, tentu kredibilitasnya dipertanyakan. Tetapi sebaliknya, kalau ada agama yang memiliki sumber yang authentic (belum diubah2), tidak bisa langsung disimpulkan agama itu benar dan berasal dari Tuhan, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Mengapa kebenaran Islam didasarkan kepada rasionalitas ajarannya? Bukankah keimanan dan tata cara ibadah tidak bisa dijelaskan oleh akal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal sehatnya, yakni kemampuan berpikir secara logis. Sebagian besar keputusan dalam hidup kita berasal dari proses pemikiran akal. Kita memilih A bukan B, tentu berdasarkan alasan (reason). Consistency (tidak ada pertentangan di dalam ajaran agama) dan factuality (kesesuaian isi ajaran dengan fakta) adalah dua alasan yang bisa kita jadikan dasar ketika melihat rasionalitas ajaran suatu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ayat-ayat Al Qur'an jelas2 saling bertentangan (mengandung kontradiksi/inkonsistensi), tentu orang berakal sehat tidak mau menerima Islam sebagai agama yang benar. Al Qur’an sendiri mengajak pembaca yang meragukannya agar mencari pertentangan di dalamnya (Qur’an 4:82). Selain itu, bila ada ayat-ayat dalam Al Qur'an isinya berlawanan dengan fakta-fakta di dunia nyata, misalnya mengatakan bumi ini datar/ceper seperti uang koin, orang berakal sehat kembali mempertanyakan kebenaran ajaran Islam (Qur’an 41:53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berbeda dengan ajaran konsep keimanan dan aturan peribadatan yang tidak dapat dibuktikan kesalahannya karena sifatnya yang masih ghaib/misteri (berada diluar jangkauan ilmu empirik manusia yang didasarkan kepada observasi dan proses pemikiran), seperti apa yang terjadi sesudah mati (akhirat), mu’jizat, keadaan alam lain (malaikat, jin), atau aturan ibadah yang secara pintas menurut akal tidak dimengerti maksudnya, hanya bisa direnungkan kemungkinan hikmah-hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri adalah sesuatu yang tidak bisa diverifikasi karena keterbatasan kemampuan observasi kita sebagai manusia, lain halnya dengan irrational yang mengandung logical contradiction. Misalnya, keyakinan “Tuhan itu Maha Kuasa tapi Dia itu juga lemah”, akan dinilai salah oleh akal sehat karena ada kontradiksi di dalamnya. Serupa dengan keyakinan “A itu 100% Tuhan tapi juga 100% manusia” atau “Tuhan itu Maha Esa, tapi Tiga pada saat yang sama”. Meskipun Zat Tuhan merupakan misteri yang tidak bisa dijangkau akal kita, keyakinan2 seperti ini bisa disebut irrational, karena adanya kontradiksi di dalamnya. Tuhan yang tidak diciptakan tidak sama dengan manusia yang diciptakan, dan Satu itu bukan Tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan keyakinan terhadap peristiwa mu’jizat2 para Nabi, seperti Isra’ Mi’raj misalnya. Tidaklah mustahil (bisa diterima oleh akal manusia) bahwa Tuhan yang Maha Kuasa tentu mampu memberangkatkan hamba-Nya dengan suatu "teknologi" yang saat ini tidak terjangkau oleh teknologi manusia. Tidak ada kontradiksi di dalam keyakinan seperti ini, sehingga ia bukan merupakan suatu yang irrational atau ditolak akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Kalau ajaran Islam tidak memiliki nilai-nilai moralitas/kebaikan, apakah berarti Islam itu salah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu agama yang kitab sucinya masih belum berubah isinya, rasional ajarannya, tapi tidak bermoral, bukanlah suatu agama yang akan diminati oleh setiap orang yang masih memiliki nilai-nilai kebaikan dalam hatinya. Kalau Islam mengajarkan kejahatan, memperkosa, merampok, menzalimi dan membunuh orang yang lemah dan tak bersalah, mengajarkan seorang anak untuk durhaka kepada orang tua yang melahirkan dan membesarkannya sejak kecil, buat apa kita bersusah payah menyiksa hati nurani ini dengan menganutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam diturunkan Tuhan pencipta manusia sesuai dengan fitrah manusia yang tidak bertentangan dengan hati nurani yang bersih (Qur'an 30:30). Pada awalnya, hati nurani ini mampu menilai baik dan buruk suatu perbuatan (Qur’an 91:7-8), tapi dalam perjalanan hidup manusia, ia bisa ditekan, dipaksa oleh nafsu untuk "tutup mulut", atau bersembunyi karena pemiliknya terbiasa berbuat hal yang ditentangnya (Qur’an 83:14 , 22:46). Karena hilangnya suara asli nurani ini sehingga banyak ketidakjelasan dalam menilai mana benar mana salah, mana baik dan mana buruk, agama diturunkan Tuhan Pencipta manusia untuk mengingatkan hati nurani manusia kembali akan nilai2 asli yang disuarakannya akan kebaikan dan keburukan (Qur’an 7:172-173).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-sumber Islam (Al Qur’an dan Hadits) banyak menjelaskan ajaran-ajaran Islam tentang kebaikan dan kasih sayang, baik terhadap terhadap orang tua, anak-anak, sesama manusia (Qur’an 2:117, 4:36, 17:31-37), bahkan terhadap mereka yang berbeda agama (Qur’an 60:8-9), dan alam sekitar (Qur’an 11:61). Nabi pun diutus Tuhan untuk menyempurnakan budi pekerti sebagai rahmat bagi semesta alam (Qur’an 21:107, HR.Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam misinya menyebarkan kebaikan dan rahmat pada umat manusia, Islam diturunkan dengan kriteria yang membedakan perbuatan baik dan buruk (Qur’an 25:1) serta konsep keadilan (Qur’an 4:135, 5:58). Muslim diajarkan berbuat baik terhadap sesama tapi mereka juga diajarkan untuk tidak akan diam melihat kezaliman di depan mata (Qur’an 3:110). Sayangnya sikap tegas Islam terhadap kezaliman/kejahatan dalam penegakan keadilan ini sering dituduh sebagai sikap sewenang2 dalam bentuk kekerasan oleh orang-orang non-Muslim yang hanya peduli pada pelaku kejahatan tapi tidak peduli kepada korban kejahatan itu sendiri. Islam jelas melarang sikap zalim dan penyebaran kerusakan di muka bumi (Qur’an 26:183). Terorisme jelas dilarang dalam Islam dan hukum peperangan jelas dipaparkan dalam sumber2 Islam (Qur’an 17:33, 22:39, 2:190-192). Nabi sebelum pergi ke medan peperangan jelas2 melarang membunuh mereka yang tidak berperang, termasuk di dalamnya wanita, anak2, dan orangtua (HR.Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menuduh Islam disebarkan dengan pedang dan bernafsu ingin menghabisi semua non-Muslim, seharusnya mempelajari lagi sejarah dunia yang terbentang di depan mata. Sebagai bukti tak terbantahkan, negara2 berpenduduk Muslim di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia yang kini mayoritas penduduknya Muslim, tidak pernah mengenal adanya invasi militer dahulu kala yang memaksa penduduknya masuk Islam. Sebaliknya sejarah mencatat sejarah kelam di Andalusia, Spanyol, ketika orang2 Islam dan Yahudi dipaksa murtad atau dibantai oleh penguasa Nasraninya dengan program Inquisition-nya. Sejarah mencatat pula berapa banyak orang2 Yahudi dari Spanyol karena ancaman Inquisition yang melarikan diri dan tinggal dalam kekhalifahan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan penganut suatu agama tidak selalu berarti diajarkan dalam agamanya sendiri. Bila ada orang berbuat kezaliman dan kebetulan ia beragama Islam, janganlah Islam yang disalahkan. Apakah orang Nasrani rela kalau agamanya dituduh sebagai penyebab penjajahan dan perbudakan di muka bumi? Ataukah mereka rela kalau disamakan dengan Nazi karena Hitler kebetulan beragama Nasrani? Begitu pula pemeluk agama Yahudi, apakah mereka rela kalau agamanya dituduh sebagai penyebab pembantaian rakyat yang tak berdosa di Palestina? Dalam menilai hal yang sama, standar yang digunakan harus sama pula, bukan dengan standar ganda (double standards).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Kalau ajaran Islam tidak ada fungsinya dan tidak membawa manfaat, apakah Islam harus ditinggalkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas kalau ada ajaran suatu agama yang kalau diterapkan akan membawa kepada kesengsaraan pada umat manusia, agama tersebut akan dipertanyakan kebenarannya. Contohnya, bila ada agama yang mengajarkan celebacy (tidak menikah) kepada pemeluknya, manusia tentunya sudah lama punah kalau mereka memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menempatkan manusia sebagai hamba ciptaan Tuhan yang tidak hanya memiliki aspek spiritual tetapi juga aspek fisikal. Islam mengajarkan pemeluknya untuk mencari kebahagian tidak hanya di akhirat tetapi di dunia ini tempat mereka hidup di bumi (2:201, 28:77). Islam tidak hanya menjelaskan latar belakang kita diciptakan sebagai manusia untuk hidup di dunia dan akhirat (2:30), tetapi juga petunjuk dalam mengarungi kehidupan. Tanpa informasi dari Pencipta manusia itu sendiri, manusia tidak tahu pasti akan arah dan tujuan hidupnya (Qur’an 51:56, 2:39). Tanpa adanya tujuan dan petunjuk hidup yang jelas, tidak ada standar penentu kebaikan dan keburukan, pada akhirnya akan terjadi kekacauan dimuka bumi (Qur’an 23:71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam bukanlah agama baru yang muncul di dunia Arab 1400-an tahun yang lalu, tapi merupakan agama dari generasi ke generasi sejak diciptakan manusia pertama di muka bumi (Qur’an 2:213, 2:136, 13:30). Ia merupakan sistem yang komprehensif yang mencakup segala aspek kehidupan mulai dari urusan tingkat individu, keluarga, masyarakat bahkan negara. Dari hal yang mengatur hubungan dengan Tuhan (peribadatan, aqidah) dan hubungan dengan sesama manusia (akhlaq, muamalah). Dari urusan kebersihan, kesehatan, makan dan minum, pakaian, rumah, pendidikan, perniagaan/ekonomi, sosial, budaya, dlsb (Qur’an 13:28, 2:222, 2:168, 7:26, 28:71-73, 3:190, 35:28 3:112, 30:21, 49:13, dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Islam, masyarakat Arab jahiliah yang tidak beradab di zaman Nabi berhasil diubah menjadi masyarakat yang beradab dan mulia sampai pernah mencapai peradaban yang gemilang beratus abad lamanya dan maju dalam berbagai bidang keilmuan, hingga pernah menjadi kiblat peradaban bangsa-bangsa lain. Fakta ini sering dilupakan atau mungkin sengaja tidak disebut-sebut oleh orang-orang non-Muslim yang sering membawa hujatan-hujatan terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Kalau ajaran Islam itu tidak universal, apakah harus ditinggalkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu agama yang jelas2 disebut di dalam kitab sucinya bahwa ajarannya hanya diperuntukan kepada orang2 di suatu daerah tertentu atau pada masa tertentu, tidak akan applicable (dapat dipraktekkan) oleh orang-orang di daerah lain atau pada masa yang berbeda. Kalau kita orang Indonesia, sedangkan Islam dikhususkan untuk orang-orang Arab saja, mengapa lagi repot2 menganutnya? Begitu pula, kalau memang Islam menyebutkan ajarannya diperuntukkan hanya untuk sekelompok orang di zaman diturunkannya ribuan tahun yang lalu, mengapa harus menerapkan ajarannya di zaman modern yang sangat berbeda situasinya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita anut Islam, karena sumber2 Islam (Al Qur’an dan Hadits) sendiri jelas menyebutkan ajarannya diperuntukkan untuk semua bangsa, tidak hanya orang Arab saja (Qur’an 4:1, 49:13) dan berlaku sampai akhir zaman (Qur’an 5:3, HR. Bukhari), tidak hanya untuk orang-orang di zaman ketika Nabi masih hidup saja (berdasarkan banyak pesan Nabi terutama dalam khutbah terakhir beliau). Meskipun garis-garis besar ajarannya telah termaktub di dalam dua sumbernya yakni Al Qur’an dan Hadits, pada situasi dan kondisi tertentu yang tidak ditemukan dasarnya di dalam kedua sumber tsb, upaya ijtihad (dengan perangkat ushul fiqh dan ilmu-ilmu lainnya) terbuka untuk dilakukan demi kemaslahatan umat manusia di mana saja dan kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Apa kriterianya ayat2 suatu kitab suci bisa disebut sebagai suatu mu'jizat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada kitab suci yang diklaim sebagai wahyu dari Tuhan semesta alam yang ilmu-Nya jauh melampaui ilmu yang dimiliki manusia, tetapi isinya tidak berbeda atau dapat ditandingi dengan buku2 tulisan manusia, apa istimewa dan buktinya kitab suci ini dari Tuhan? Ayat2 Al Qur'an tidak hanya tinggi nilainya dalam keindahan sastra balaghahnya, tetapi juga dalam isinya. Dalam Al Qur'an (2:23-24), kita bisa jumpai tantangan terhadap orang2 yang meragukannya untuk membuat satu surat saja yang semisal dengannya. Dalam sejarah kita jumpai orang2 yang berusaha membuat ayat2 untuk menandingi Al Qur'an tetapi mereka gagal bahkan mengakui kegagalannya sendiri. Sejarah mencatat adanya orang2 yang paling ahli dalam sya'ir di zaman Nabi yang memeluk Islam setelah mencoba membuat sya'ir tandingan Qur'an tetapi kemudian mengakui kalah dengan ketinggian nilai sastra Al Qur'an (Sirah nawabiyyah, HR. Bukhari, HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain (Qur’an 4:82) Al Qur'an menantang orang yang meragukannya agar menemukan kontradiksi2 di dalamnya untuk membuktikannya bukan berasal dari Tuhan (menarik untuk diketahui dari ribuan ayat Qur'an, kata "ikhtilafan", yang berarti "kontradiksi", yang digunakan dalam ayat tsb, hanya bisa ditemukan dalam satu lokasi yaitu dalam ayat itu sendiri!) Akhir2 ini bisa kita jumpai usaha2 misionaris2 Nasrani untuk menunjukkan banyak kontradiksi di dalam Al Qur'an. Kalau kita lihat tuduhan2 mereka, semua tuduhan tersebut tidak bisa dikatakan kontradiksi karena berbicara mengenai hal yang berbeda, atau dijumpai dalam konteks yang berbeda. Ada baiknya mereka mempelajari tuduhan2 mereka terlebih dahulu sebelum melontarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an memuat berita2 yang mengandung prediksi atau ramalan terhadap event yang akan terjadi, yang sebagian telah terbukti terjadi di zaman Nabi. Beberapa di antaranya adalah peristiwa menangnya Romawi terhadap Persia (30:1-5), penaklukan kota Mekkah (24:55), kemenangan kaum Muslimin dan berkuasanya mereka di muka bumi (24:55). Ketika dibacakannya ayat2 ini, mereka yang memusuhi Nabi mentertawai dan bahkan berani bertaruh bahwa ramalan tersebut tidak akan terjadi, sejarah mencatat ramalan2 ini sebagai suatu kebenaran yang benar2 terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memuat berita2 mengenai status manusia sebagai ciptaan Allah SWT, asal usul manusia, tujuan mereka diciptakan di dunia, dan akan kemana mereka nanti setelah mati, Al Qur'an juga berisi ayat2 yang mengandung isyarat tanda2 kekuasaan Allah SWT yang bisa diobservasi oleh manusia di alam ini. Meskipun ilmu pengetahuan (sains) manusia terus berkembang dari masa ke masa dengan ditemukannya berbagai teknologi, ayat2 Al Qur'an tetap bisa diterima oleh manusia sejak dari zaman diturunkannya hingga zaman sekarang ini meskipun pemahaman sains mereka berbeda. Al Qur'an menyinggung apa2 yang ada di bumi (laut, daratan, gunung2, sungai), di atmosfir (awan, hujan, petir, badai, lapisan oksigen), dan di langit (bulan, matahari, planet, bintang, galaxy). Al Qur'an berbicara tentang makhluk2 ciptaan Allah yang hidup di muka bumi (manusia, jin, tumbuh2an, hewan), juga di luar bumi (Al Qur'an 42:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir2 ini Al Qur'an membuat takjub banyak orang, Muslim dan non-Muslim, karena kesesuaian ayat2nya dengan sains saat ini yang masih belum ditemukan 1400 tahun yang lalu di zaman Nabi. Seperti Al Qur'an menjelaskan asal usul penciptaan alam semesta (21:30), pengembangan alam semesta (51:47), rotasi dan revolusi bumi (27:88), bulan dan matahari (21:33), kemungkinan penjelajahan angkasa (55:33), proses sequential penciptaan manusia (23:12-16), proses angin dalam penyerbukan tumbuhan (15:22), pembentukan formasi gunung2 sebagai penahan goncangan dari dalam bumi (31:10), adanya layer atmosfir yang memprotek bumi (21:32), komunikasi dunia hewan (27:18, 6:38), dlsb. Seperti kita tahu Nabi SAW bukanlah seorang scientist yang mendedikasikan hidupnya untuk penelitian dalam dunia sains. Hidup beliau penuh dengan suka duka perjuangan da'wah menyebarkan pesan2 Islam kepada manusia mengenai Allah SWT, serta makna dan tugas hidup mereka agar bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini cukup untuk menjadi bukti mu'jizat ayat2 Al Qur'an yang tidak mungkin ditulis oleh beliau sendiri atau dibantu oleh manusia2 lain, sejak dulu hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tidak diturunkan kepadanya mu'jizat-mu'jizat dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhannya?"  Katakanlah: "Sesungguhnya mu'jizat-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mu'jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku  hanya  seorang pemberi peringatan yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan apakah tidak cukup bagi  mereka  bahwasanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kami  telah  menurunkan kepadamu  Al Kitab Qur'an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sedang  dia  dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dalam Al  Qur'an  itu terdapat  rahmat  yang  besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Al Qur'an 29:50-51)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-112054287214305937?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/112054287214305937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=112054287214305937' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112054287214305937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112054287214305937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2005/07/mengapa-memilih-islam_04.html' title='Mengapa memilih Islam?'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-112045665022699019</id><published>2005-07-03T22:48:00.000-07:00</published><updated>2007-03-31T12:44:54.703-07:00</updated><title type='text'>Sekilas mengenai kebenaran</title><content type='html'>Rasa ingin tahu tentang arti dan tujuan hidup mendorong banyak orang mencari jawaban terhadap banyak hal. Dalam usahanya mencari jawaban dari suatu pernyataan, manusia berhadapan dengan konsep kebenaran. Tapi apa sebenarnya kebenaran itu? Definisi setiap orang bisa berbeda2, tergantung konteks apa yang dibicarakannya. Tapi secara umum, suatu pernyataan itu dibilang BENAR bila:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Faktual (tidak ada pertentangan antara statement and realitas/fakta yang bisa di-observasi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, kalau ada orang yang mengeluarkan statement bahwa "Si A sudah lulus PhD", sedang faktanya tidak demikian halnya, maka statement tsb bisa dibilang tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Logical (tidak ada mengandung fallacy/kesalahan logika di dalamnya, seperti inkonsistensi/kontradiksi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Contohnya: Si A bilang Tuhan itu satu. Si B bilang Tuhan itu banyak. Kedua statements ini tidak bisa dibilang dua2nya benar, karena saling bertentangan. Hanya ada satu yang benar, atau dua2nya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usahanya mencari kebenaran, manusia menggunakan perangkat panca indera dan akalnya. Panca indera digunakan untuk melakukan observasi, sedang akal digunakan untuk mengelola data2 yang didapat dari observasi. Karena observasi ini tergantung kepada kemampuan panca indera manusia yang terbatas, manusia membuat teknologi untuk membantu proses observasi ini. Hasil dari proses akal menganalisa data2 observasi bisa menghasilkan suatu teori. Suatu teori bisa dibuktikan kesalahannya oleh teori lainnya karena beberapa faktor: kesalahan dalam pengumpulan data, teknologi yang dipakai tidak secanggih teknologi digunakan teori lain (data2nya tidak seakurat data2 yang lain), atau kesalahan dalam analisa/proses berpikir yang digunakan. Dalam hal2 yang tidak bisa dijangkau observasi, meskipun dibantu oleh teknologi, dunia filsafat pun dimasuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya orang yang melihat hujan. Dia melihat air turun dari langit dengan inderanya (observasi). Berdasarkan dari pengetahuan sebelumnya (mungkin akibat pernah melihat ember yang bocor), logikanya berpikir bahwa "sumber air di langit yang bocor sehingga tumpah ke bumi". Dengan ditemukannya teknologi yang membantu observasi, hipotesa ini diteliti, diverifikasi, dan disupport dengan experiment, kemudian disimpulkan suatu teori perputaran air (water cycle): air di bumi yang terkena panas matahari diserap naik ke atas menjadi awan, kondensasi, turun hujan dan seterusnya seperti lingkaran/cycle. Dengan majunya teknologi, teori ini bisa diverifikasi kembali dan dikonfirmasi bahwa di alam memang benar ada water cycle ini. Lalu akal bertanya lagi: kenapa bisa terjadi cycle ini? Dari mana asalnya? Akal stop tidak bisa menerangkan lagi. Manusia beralih ke filsafat, ada yang bilang itu Tuhan yang menciptakannya (filsafat spiritualisme), ada pula yang bilang itu ada dengan sendirinya di alam (filsafat materialisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya, orang melihat orang mati. Berdasarkan informasi indera, mati ini tidak bergeraknya badan dan berhentinya denyut jantung. Dengan menggunakan experiment, ilmu kedokteran menjelaskan bahwa semua function dari tubuh manusia berhenti. Akal bertanya lagi, mengapa bisa berhenti? Ada apa setelah mati? Apa ada kehidupan lagi? Akal stop sampai di sini. Tidak ada yang bisa menjelaskan secara logis karena tidak ada data observasi.. Satu2nya cara, scientist harus mematikan diri dan membawa catatan/recorder seperti camera dllnya untuk mengetahui hal sebenarnya setelah mati. Sayangnya setelah mati, si scientist tidak balik lagi membawa laporannya... :-) Filsafat pun kembali di masuki. Yang satu bilang ada kehidupan setelah mati, ruh manusia akan tetap hidup dan menjalani fase kehidupan selanjutnya, kembali ke Penciptanya (filsafat spiritualisme). Yang lain bilang manusia setelah mati, tubuhnya berbaur ke tanah, tidak ada ruh, tidak ada kehidupan lagi (filsafat materialisme). Mana yang benar? Pengetahuan manusia tidak bisa menjawabnya secara pasti. Yang ada hanya terka2, spekulasi. Bagaimana caranya mendapatkan jawaban yang pasti? Informasi ini hanya bisa didapat dari Tuhan pencipta manusia itu sendiri (wahyu). Wahyu memberikan informasi kepada kita dari mana asal kita, mengapa kita di sini, dan akan kemana kita nanti setelah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an menyinggung mengenai hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sesungguhnya di antara manusia ada orang2 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang memperdebatkan Allah, tanpa ilmu (reason), &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tanpa petunjuk (observation), tanpa kitab yang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;memberikan cahaya (wahyu)" (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al Qur'an 22:8&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita buka catatan2 sejarah, kita bisa temukan di dalamnya catatan2 peradaban manusia yang tidak pernah absen dari agama2. Sekarang apakah semua agama yang mengklaim memiliki wahyu dari Tuhan benar adanya? Kalau berdasarkan definisi kebenaran di atas, karena terdapat statement2 dalam agama2 tsb yang saling bertentangan terhadap hal yang sama, tentunya akal kita menolak kebenaran semuanya. Ada agama yang bilang Tuhan itu satu, dua, tiga bahkan ada yang bilang banyak. Ada yang bilang Tuhan itu personal, ada yang bilang tidak. Ada yang bilang setelah mati manusia bereinkarnasi, dan ada pula yang bilang ia kembali kepada pencipta-Nya tanpa mengalami reinkarnasi. Lalu bagaimana menganalisa semua klaim2 ini? Mana yang benar? Apakah bisa kita menggunakan observasi dan akal dalam meneliti kebenaran agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutannya insya Allah di posting mendatang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-112045665022699019?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/112045665022699019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=112045665022699019' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112045665022699019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112045665022699019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2005/07/sekilas-mengenai-kebenaran.html' title='Sekilas mengenai kebenaran'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-112029479444165424</id><published>2005-07-02T01:59:00.000-07:00</published><updated>2007-03-31T12:42:34.066-07:00</updated><title type='text'>Moral standard at square one</title><content type='html'>Benar dan salah dalam dunia eksakta (empirical) lebih mudah ditentukan dibanding di dunia sosial, di mana moral standard yang dipakai oleh banyak orang berbeda2. Benar dan salah suatu statement dalam dunia eksakta ditentukan berdasarkan factuality dari statement tsb berdasarkan observasi dan logical reasoning yang dimiliki manusia. Kalau ada yang bilang bumi ini ceper seperti koin, tentu dianggap salah karena secara factual tidak demikian. Tapi kalau ada yang bilang sah2 saja berzina kalau suka sama suka, argument apa yang bisa digunakan untuk membuktikan salah atau tidaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang moral itu serba relatif. Tidak ada yang benar dan salah. Para pembela moral relativitas harus konsisten bahwa serial murderer macam Ted Bundy, Manson, dll, tidak bisa dihukum salah karena salah benar itu relatif saja menurut teori mereka. Lalu apa yang dijadikan standard moral dalam hidup ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bisa kita mencontoh dari alam sekitar (dunia hewan), siapa kuat dia yang menang (survival the fittest)? Jadi tidak boleh disalahkan orang menzalimi orang lain karena dia lebih kuat dari orang yang dizalimi tsb. Atau apakah bisa kita jadikan suara mayoritas sebagai standard morality? Teringat kasus pembantaian oleh kaum mayoritas di Serbia, Nazi, dlsb. Atau apakah bisa kita jadikan hati nurani sebagai standard morality? Hati nurani siapa yang mau dijadikan patokan? Apakah hati nurani koruptor, pelacur, kiyai, dll, sama? Apa kriterianya? Orang biasa hidup bergelimang dosa, tentu tidak akan menganggap perbuatannya dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang moral standard harus didasarkan kepada untung dan rugi semua pihak yang bersangkutan (utility theory). "Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan", inikah golden rule of moral standard? Berzina kalau suka sama suka itu tidak ada salahnya, selama tidak ada yang dirugikan. Homosex dan incest pun kalau tidak ada yang dirugikan tidak ada salahnya. Pencurian dan korupsi itu salah kalau ada yang dirugikan. Kalau tidak ada yang dirugikan, apakah berarti tidak lagi salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membahas hal ini, sering orang lupa bahwa manusia itu makhluk sosial, di mana setiap aktivitas seorang pasti bersinggungan dengan kepentingan orang lain langsung maupun tidak langsung, private maupun publik. Dalam banyak hal yang complex, perhitungan untung dan rugi sulit digunakan menjudge mana salah dan benar? Dari pihak mana untung dan rugi ini dilihat? Suatu perbuatan akan dibilang benar oleh orang yang untung tapi akan dibilang salah oleh orang yang rugi. Sampai sekarang banyak social issues seperti war, capital punishment, abortion, euthanasia, homosexual, dll, yang masih dalam perdebatan whether or not it is ethical or acceptable. Misalnya anda menempatkan diri sebagai seorang dokter yang mendapat permintaan euthanasia "mercy killing" dari seorang pasien anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apakah anda akan merasa senang membunuh pasien (dengan menghentikan semua alat life-supportnya)? Pasien mungkin akan senang karena merasa akan terlepas dari pain/suffering yang dialaminya setelah mati. Tapi apakah anda senang telah menghilangkan nyawa orang dengan sengaja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kalau anda tidak senang (menjadi pembunuh), apakah tindakan itu perlu anda lakukan untuk membuat pasien lepas dari penderitaannya? Apakah anda akan paksakan perasaan anda untuk membenarkan tindakan ini karena merasa perlu dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pun baru satu contoh. Banyak contoh lainnya. Misalnya lagi, anda mendapat kesempatan emas to have an affair with a beautiful woman, without worry about getting caught by your wife. You are happy, your sex partner is happy, and your wife doesn't know, so nobody gets hurt. Apakah ini menjadi benar dan ethical? Apakah kebohongan dan pengibulan (kalau tidak ketahuan dan tidak ada yang dirugikan) akan menjadi suatu hal yang benar, ethical dan acceptable? Acceptable dalam pandangan siapa? Diri sendiri atau society? Atau mungkin lebih jauh lagi, acceptable dalam pandangan Tuhan pencipta manusia itu sendiri? Semua usaha mencari standard moral dengan akal akan kembali lagi ke square one. Terombang-ambing di tengah2 samudra berbagai macam pemikiran ini, tidak sedikit manusia menjadi bingung dan tidak tahu kemana lagi akan melangkah pasti dalam hidup ini. Sudah seharusnya agama dilirik dan dipelajari kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Qad aflaha man zakkaha wa qad khaba man dassaha" &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Qur'an 91:8-10).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Fa imma ya'tiyannakum minni hudan, fa man tabi'a hudayya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;fa la khaufun 'alaihim wa la hum yahzanun" &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Qur'an 2:37).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam bi shawab...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-112029479444165424?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/112029479444165424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=112029479444165424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112029479444165424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112029479444165424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2005/07/moral-standard-at-square-one.html' title='Moral standard at square one'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8642665.post-112021894072321723</id><published>2005-07-01T03:54:00.000-07:00</published><updated>2007-03-31T12:46:27.986-07:00</updated><title type='text'>Anak muda dan kerangka berpikir</title><content type='html'>Dalam era globalisasi modern seperti zaman sekarang ini banyak anak2 muda yang kritis terhadap agama mereka sendiri. Mereka tidak segan2 mempertanyakan keimanan dan aturan2 dalam agama. Kalau kurikulum pendidikan agama yang mereka dapati di sekolah tidak mampu mengaddress masalah ini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) anak2 muda ini menjadi ragu terhadap agama dan bila keragu2an ini lambat laun menumpuk, mereka tidak segan2 mendeclarekan diri keluar dari agama atau bahkan mencela agama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) mereka akan mencari sumber2 informasi dari luar sekolah yang dapat menjawab pertanyaan2 mereka. Informasi dari luar ini mungkin bisa memuaskan keingintahuan dalam pemahaman terhadap agama. Bisa jadi ini mengantarkan mereka kepada pemahaman agama yang benar, atau pemahaman agama yang salah yang dapat melahirkan sikap ekstrimisme dalam beragama, atau sebaliknya mungkin malah membuat mereka tambah ragu dan keluar dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman saya sejak SD sampai SMA dahulu, pelajaran2 agama di sekolah lebih bersifat kepada doktrin dan sangat sedikit (kalau bisa dibilang ada) yang membahas kerangka berpikir dalam menyikapi pertanyaan2 terhadap masalah keimanan dan aturan2 agama. Baru semasa kuliah, ketika saya tinggal dengan beberapa roomates non-Muslims, saya dihadapkan kepada banyak pertanyaan2 yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Kebetulan roomates saya dulu ada yang Kristen, ada yang atheist dan ada yang agnostic. Saya dihadapkan kepada pertanyaan mengenai masalah keimanan, baik dari si atheist ("&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Why do you believe in God that cannot be seen?&lt;/span&gt;", "Why do you believe in such God that creates evil in the world?", etc.),  dari agnostic ("&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Why are you so sure that God sent down His revelation to us on this earth?&lt;/span&gt;", "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Isn't possible God of all religions is infact an alien -UFO- that has more advanced technology than us who wants to control over us?&lt;/span&gt;", etc.), maupun dari Kristen ("&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Why are you not sure that you are going to heaven like us who accept Jesus died for our sin?", "Why do you believe in the Arabian Prophet who came 600 years later after Jesus?"&lt;/span&gt;, etc). Ada pula pertanyaan mengenai masalah tata cara ibadah yang diamati mereka (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Why do you have to wash 3-3 times?", "Why do you have to pray 5 times a day?", "Why do you have to face that way?", "Why do you have to say your prayer in Arabic?", "Why do you have to suffer not eating or drinking for many hours?", &lt;/span&gt;etc.). Belum lagi kalau ada peristiwa2 yang terjadi di Middle East yang diberitakan di media massa. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Look, Muslims are killing innocent people again!", "Are Muslims not allowed to live peacefully with people of other faith?", "Aren't you somewhat embarrassed to profess this faith that has spilled so much blood in its history?"&lt;/span&gt;, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pertanyaan2 atau komentar2 seperti di atas tidak pernah terdengar di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslims, sehingga tidak ada atau masih sedikit usaha dari pihak pengajar agama untuk meng-address-nya. Mungkin menurut banyak da'i di Indonesia, buat apa buang2 waktu menjawab pertanyaan2 yang aneh2 macam itu, masih banyak urusan umat yang real, yang harus diperbaiki. Para da'i seharusnya siap menghadapi pertanyaan2 yang mungkin sebelumnya tidak pernah keluar (atau tidak berani) ditanyakan oleh generasi2 zaman mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dulu kita kalau bertanya mengenai banyak hal akan dicap "kafir" oleh ustadz kita, tapi di zaman sekarang, sudah banyak anak2 yang sejak kecil (terutama yang dibesarkan di negara2 barat) yang kritis dan tidak mau menerima begitu saja doktrin tanpa penjelasan yang masuk akal mereka. Dan saya rasa pertanyaan2 macam ini cepat atau lambat akan keluar juga dari para generasi muda akibat era globalisasi di mana pertukaran informasi di bumi sudah terjadi dan tidak bisa dihindarkan lagi. Dan bila tidak ada yang care terhadap masalah ini, tidak mustahil tidak sedikit generasi muda yang bingung dan berpandangan liberal yang menghalalkan segala2nya, atau berpandangan extrim yang mudah termakan emosi dan membuat konflik di masyarakat, atau bisa pula menjadi ragu dan keluar dari agama. Ini semua muncul akibat pemahaman agama yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan saya, perasaan sensitif anak2 muda terhadap agama ini bisa dipengaruhi pula oleh pandangan mereka terhadap tingkah laku orang2 tua (terutama para ulama atau ustadz) yang mereka anggap merupakan contoh "ideal" dari orang2 yang ahli agama. Ketika ada orang tua atau ulama yang melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, image agama orang tsb turut menjadi buruk dalam pandangan mereka. Kekaguman mereka terhadap seorang ustadz misalnya berubah menjadi kebencian (bukan hanya terhadap sang ustadz tapi juga terhadap agamanya) setelah mengetahui "kekurangan" dari ustadz tsb. Karena itu tidak aneh kalau ada anak muda yang KTPnya Islam berkomentar "Ah agama apaan tuh, ngajarinnya cuma kawin melulu!" atau "Ah, nggak usah capek2 belajar Islam, tuh lihat orang ahli Islam aja tingkah lakunya seperti itu!" - akibat kecewa melihat "kemunafikan" orang2 yang sebelumnya diidolakan. Mereka menilai suatu agama dari perbuatan pemeluk2nya, serupa dengan banyak orang di banyak negara yang menilai Islam sebagai agama yang buruk akibat melihat perbuatan buruk pemeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa pula kekecewaan mereka timbul akibat melihat pertikaian yang tidak kunjung habis antara intern pemeluk agama sendiri, baik yang berbeda pandangan atau pun akibat banyaknya sekte2 di dalam Islam. Bagi banyak orang mungkin banyaknya paham2 dalam Islam ini membuat mereka bingung sehingga feel frustrated dalam memahami perbedaan2 yang ada ini. "Islam yang mana?" menjadi pertanyaan yang tidak asing lagi di telinga kita. Tiap2 pandangan yang berbeda sama2 berusaha mendasarkan pandangannya dengan Qur'an maupun hadits Nabi. "Islam warna-warni", "Islam multi-interpretasi", "jangan mengklaim kebenaran sendiri", dll, juga sering terlontar secara apriori tanpa ada usaha melihat dan menganalisa setiap pandangan yang berbeda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kerangka dasar dalam berpikir atau berargumentasi yang benar dipahami oleh setiap Muslim terutama para generasi mudanya sehingga mereka dapat meresponse dengan baik argument2 yang banyak ditemui dalam pergolakan pemikiran (ghazwul fikr) baik dari kalangan internal (paham liberalism, extremism, sectarians, dll) dan kalangan external (atheism, orientalism, missionaries, Islamophobic, dll). Sebenarnya para ulama sejak dulu dalam membahas masalah2 agama, baik itu dalam hal ushul fiqh, ibadah, aqidah, maupun muamalah, selalu menggunakan metode2 maupun kerangka berpikir yang bisa dijumpai dalam kitab2 mereka. Sayangnya saya amati cara berpikir seperti ini kini sering hilang dalam argument2 orang Islam ketika meresponse pendapat yang berbeda, yang sering kali lebih terasa nada emosionalnya daripada bobot argumentnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka berpikir sebenarnya dibuat untuk menghindari kesalahan2 dalam berargumentasi (fallacy). Beberapa contoh fallacy ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Inconsistent&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;": Contohnya si A bilang "Sirah dan hadits tidak bisa dipercaya karena banyak isinya yang tidak masuk akal". Tapi ketika A ditanya dari mana ia tahu adanya seorang Nabi yang bernama Muhammad, atau dari mana ia tahu Qur'an yang ia percayai terjaga kemurniaannya sejak zaman Nabi sampai sekarang, bila si A menjawab dengan basis sirah dan hadith, ini namanya inkonsistensi. Kalau tidak percaya sirah dan hadits, mengapa masih dipakai untuk dasar keimanannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah sikap misionaris yang ketika menghujat Nabi SAW dengan leluasa menggunakan cuplikan2 hadits dan sirah sesukanya (Nabi berpoligami, kisah2 dalam peperangan beliau, dlsb). Tapi ketika ditunjukkan hadits dan sirah dari sumber yang sama, yang menunjukkan tanda2 kenabian Nabi seperti mu'jizat2 beliau, mereka berkomentar bahwa hadits dan sirah tidak bisa dipercaya karena dibukukan jauh sesudah Nabi wafat. Kalau tidak bisa dipercaya, mengapa tadi masih dipakai untuk menghujat Nabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah sikap yang membenarkan semua pendapat yang pada kenyataannya jelas2 berbeda. Kalau ada orang yang bilang "Semua interpretasi atau tafsiran agama adalah sah2 saja dan benar adanya karena kebenaran itu relatif sifatnya", maka ia harus bisa konsisten untuk tidak menyalahkan pendapat yang menghalalkan terorisme membunuh orang2 tak berdosa, atau pendapat2 yang menghalalkan sex bebas, incest, dlsb, dengan alasan selama suka sama suka dan tidak merugikan orang tidak ada salahnya. Apakah dua pendapat yang berbeda, yang satu bilang halal, yang lain bilang haram, benar kedua2nya? Kalau kita mau jujur, kita akan mengakui bahwa "logical circuit" dalam otak kita jelas menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Incomprehensive&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;": Si A bilang "Orang Islam diajarkan Qur'an ayat 5:51 untuk membenci dan dilarang berteman dengan orang2 non-Muslim." Selain harus memiliki pengetahuan akan makna kata2, context maupun historical perspectives, si A sebelum mengeluarkan penafsirannya akan ayat tsb seharusnya tahu ada ayat2 Al Qur'an lain yang menjelaskan lebih jauh mengenai hal serupa, misalnya 60:8. Pengetahuan yang partial terhadap hal2 ini akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Out-of-context&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;": Si A bilang "Dalam Al Qur'an ayat 9:5, orang Islam diperintahkan membunuh orang2 musyrik di mana saja mereka jumpai". Si A seharusnya tahu konteks diturunkannya ayat tsb sebelum mengambil kesimpulan demikian (yaitu peperangan Nabi dengan orang2 kafir Quraisy serta sekutu2 mereka yang memerangi umat Islam saat itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Generalization&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;": Ini serupa dengan pepatah "Karena nila setitik rusak susu sebelanga". Si A menuduh Islam sebagai agama teroris karena di antara pemeluk2nya tidak sedikit melakukan aksi terorisme dengan dalih agama. Si A seharusnya tahu bahwa kalau dilihat persentasinya, mayoritas umat Islam adalah umat yang cinta damai dan tetap berpegang teguh pada prinsip2 agama yang jelas2 melarang aksi terorisme. Apakah orang2 Kristen di barat rela kalau agamanya dituduh sebagai agama penjajah "gold-glory-gospel" karena perlakuan sebagian kelompok mereka terhadap bangsa2 di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Double-standard&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;": Si A yang beragama Kristen bilang "Islam adalah agama palsu karena Nabinya berpoligami". Seharusnya si A tahu bahwa Nabi2 yang diakui dalam agamanya sendiri berpoligami. Atau si B yang mengutuk pembunuhan orang2 tak bersalah sebagai perbuatan terorisme, tapi di lain waktu si B tidak mengutuk pembunuhan serupa malah melabelnya sebagai "collateral damage". Dengan menggunakan standard yang sama, pembunuhan orang2 tak bersalah akan selalu dikutuk sebagai tindakan terorisme, tidak peduli siapa korban dan siapa pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Straw-man&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;" : menyerang argument yang sudah diubah bentuknya (biasanya dicampur "half-truth" atau "twisted-truth"). Misalnya si A menuduh "Al Qur'an merendahkan status wanita di bawah status laki2". Meskipun dalam Qur'an disebutkan "Laki2 adalah pelindung /pemimpin kaum wanita" ini tidak berarti di dalam Islam status wanita itu lebih rendah dari status laki2 karena masing2 memiliki role yang berbeda dalam pandangan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Red-herring&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;" : mengalihkan subject sehingga bukan membahas argument yang tengah didiskusikan, tapi argument lainnya. Misalnya, ketika si A ditanya tentang kontradiksi di dalam Bible, bukannya menjawab pertanyaan tsb, si A malah membawa tuduhan banyaknya kontradiksi di dalam Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Appeal to authority&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;": Si A bilang ke si B "Argument anda pasti salah karena berlawanan dengan pendapat seorang professor yang ahli dalam bidang ini". Si A sudah men-shut-off the discussion hanya dengan merefer ke authority yang dipercayainya, tanpa menjelaskan argument si professor yang disebutnya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ad-hominem&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;" (argument to the man): bukan argumentnya yang dibahas, tapi yang diserang adalah pribadi lawan debat yang tidak berhubungan dengan argument yang didebatkan. Misalnya, "Pendapat si A itu sudah pasti salah karena si A itu tidak pernah sekolah di pesantren", atau "Ah, pendapat si B yang playboy kayak gitu kok dibahas!". Padahal logis tidaknya suatu argument tidak bisa ditentukan dari pribadi orang yang berargument. Dalam beargumentasi, yang harus dilihat adalah argumentnya, jangan diserang orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka berpikir hanyalah "tool" (framework) yang bisa digunakan dalam proses berpikir kita, yang tidak hanya berhubungan dengan masalah2 agama, tapi juga masalah2 dalam hidup lainnya. Karena hanya general framework untuk proses berpikir, ia bisa dipakai oleh siapa saja. Karena itu sayang kalau ketika berdiskusi dengan orang2 non-Muslim orang2 Islam tidak memahami framework ini. Mungkin dengan mengetahui kerangka dasar dalam berpikir dan berargumentasi macam ini, metode dalam memahami permasalahan dan perbedaan pandangan dalam agama dapat dimengerti, sehingga diskusi2 maupun debat2 dalam memahami agama dapat berjalan dengan baik, dengan menganalisa argument masing2 pihak yang berbeda, tanpa menyerang pribadi, sehingga pertikaian dan perpecahan yang tidak diinginkan bersama bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8642665-112021894072321723?l=mridha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mridha.blogspot.com/feeds/112021894072321723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8642665&amp;postID=112021894072321723' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112021894072321723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8642665/posts/default/112021894072321723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mridha.blogspot.com/2005/07/anak-muda-dan-kerangka-berpikir.html' title='Anak muda dan kerangka berpikir'/><author><name>M.Ridha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos.friendster.com/photos/25/73/29203752/338606822l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
